
Pria itu menghempaskan tangan, dan semua pengawal pergi dari sana meninggalkan mereka berdua.
"Apa masalahmu? Kau tahu aku adalah Kendra Dukeun!" teriak Kendra.
Pria itu tertawa mendengar ucapan Kendra, karena dia tidak mengenal keluarga Dueken. Sebab, dia baru masuk ke dalam dunia CEO satu bulan lalu. Sejak ayahnya meninggal.
"Aku tidak peduli siapa kau! Yang aku ingin tanyakan, mengapa kau mengganggu kenyamanan pengunjung hotel ini?!" tanya pria itu dengan sangat emosi.
Kendra mengerutkan keningnya, karena dia tidak merasa sudah membuat pengunjung hotel terganggu.
"Maksudmu apa? Aku sama sekali tidak membuat kesalahan apapun?" tanya Kendra.
"Ck, lalu wanita yang meminta ganti rugi itu apa? Kala kau tidak membuat kesalahan!" sentak pria itu.
Kendra semakin bingung dengan apa yang di ucapkan oleh pria itu, karena dia sama sekali tidak membuat kesalahan apapun.
"Bisa ceritakan?" tanya Kendra.
Pria itu menceritakan semuanya yang terjadi tadi, sampai memperlihatkan rekaman CCTV tadi. Sontak membuat Kendra terkejut.
'Astaga! Wanita itu benar-benar sudah gila,' batin Kendra.
Kendra tersenyum dan memegang pundak pria itu dengan lembut kemudian berkata, "Dia itu istriku, dan kami sedang bertengkar!"
Pria itu terkejut mendengar ucapan Kendra, dan meminta maaf kemudian menyelesaikan permasalah mereka.
Kendra berjalan ke luar sambil mengumpat Zaskia dalam hatinya, karena sudah membuatnya malu dan menuduhnya sebagai pria gila.
"Dasar wanita gila!" geram Kendra sambil mengingat kembali kejadian tadi.
.
.
.
Astuti meminum obatnya, yang di berikan oleh Bella. Gadis itu merawat sang ibu dengan sangat lembut dan sabar.
__ADS_1
"Ndok, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Astuti pada sang anak, karena sejak tadi raut wajah Bella gelisah.
"Baik Bu," jawab Bella dengan cepat. Namun, dia masih memikirkan tentang Zaskia yang belum ada kabar sama sekali.
"Yakin?" tanya Astuti dengan sangat lembut, karena dia tahu seperti apa sang anak.
"Yakin," jawab Bella dengan sangat lembut.
Gadis itu masuk ke dalam pelukan sang ibu, dengan sangat erat dan rasa nyaman. Namun, dia sangat merindukan sosok ayah yang selama ini tidak pernah ada untuknya.
'Apakah ayah masih ada? Tapi, kenapa dia tidak mencari kami. Hari itu Ibu bilang pernah bertemu ayah bukan? Lalu, mengapa dia tidak mencari keberadaan kami?' batin Bella sambil berpikir.
Bella melepaskan pelukannya, dan bergegas pergi dari sana. Karena dia ingin bertemu Tia dan bertanya apakah Zaskia sudah membalas pesannya.
"Di mana Tia?" gumam Bella sambil terus berjalan, menyusuri rumah dan melihat sang sahabat tengah membersihkan kolam.
"Tia!" Bella langsung menghampiri Tia, dan mengambil ponsel sang sahabat di saku baju gadis itu.
Tia terkejut dan langsung mengendus kesal, karena Bella hanya ingin mencari ponselnya bukan dia.
"Dasar adik duralek!" cibir Tia.
"Di angkat?" tanya Tia sambil terus mengerjakan tugasnya.
Bella menggelengkan kepalanya, kemudian mencoba untuk menelpon gadis itu lagi dan terjawab.
Zaskia: Halo, ada apa?
Zaskia menjawab dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Bella langsung tersenyum dan memanggil Tia, kemudian mereka mencoba mengalihkan panggilan menjadi panggil video.
Bella: Kia, elo baik?
Zaskia membuka mata dan tersenyum melihat Bella ada bersama Tia, kemudian dia mengingat sepertinya melihat Bella adalah mimpi.
Zaskia: Baik
__ADS_1
Bella: Elo ada masalah tadi? Kenapa tanya gue ada di mana?
Zaskia: Oh, tadi gue mimpi elo ada di sini, sama pria tua dan masuk ke dalam villa yang ada di samping villa gue!
Bella dan Tia tertawa, karena mereka sudah tahu kalau sahabatnya tengah bermimpi. Sebab, setahu mereka, Zaskia menginap di hotel bukannya di villa.
Bella: Kami tutup panggilannya, bye!
Bella merasa lega, karena sang sahabat hanya bermimpi melihatnya ada dua. Kemudian mereka kembali mengerjakan tugas masing-masing.
'Baguslah ternyata Zaskia hanya bermimpi saja,' batin Bella.
.
.
.
Adnan duduk bersama sang ayah, dan mereka hanya diam dalam pikiran masing-masing.
"Untuk apa? Papa bertemu Adnan di sini?" tanya Adnan dengan cuek.
"Tidak ada, papa hanya ingin ke luar kota untuk beberapa hari, dan kamu jaga diri baik-baik," jawab pria tersebut.
Adnan tersenyum, karena sang papa akan pergi ke luar kota yang artinya mereka akan jarang bertemu.
"Pasti kok," sahut Adnan dengan sangat bahagia.
Pria tersebut tersenyum, melihat sang anak bahagia akan kepergiannya. Padahal, dia sangat merindukan putranya yang jarang sekali pulang.
"Papa, apa om Kenan itu tidak pernah bercerita kalau dia sudah menikah lagi?" tanya Adnan.
Entah mengapa dia sangat penasaran akan kisah kehidupan Kenan, sebelum mengenalnya.
"Ada apa bertanya tentang dia?" tanya pria tersebut.
Adnan bingung harus menjawab apa? Haruskah dia berkata jujur Namun, hal itu tidak mungkin.
__ADS_1
'Tidak mungkin aku berkata jujur, dan mengatakan semuanya pada papa, 'kan?' batin Adnan bingung.
Bersambung.