
Kenan menatap wajah Kendra, dan pria itu hanya menganggukkan kepalanya karena dia juga tidak suka tinggal di rumah kumuh ini.
"Zaskia, kamu sangat baik pada kami. Apa kamu tahu di mana Bella?" tanya Kenan dengan sangat lembut.
Zaskia terdiam. karena dia bingung harus menjawab apa. Sebab, gadis itu sudah berjanji tidak akan membeberkan di mana Bea berada.
'Sebaiknya dusta saja, daripada aku terkena imbasnya,' batin Zaskia.
"Tidak tahu, Kak. Aku tinggal di rumah majikan. Tapi, kalau kalian tidak di rumah, aku akan tinggal bersama," ucap Zaskia dengan sangat lembut.
Gadis itu berani membawa kedua pria itu masuk ke rumahnya, karena salah satunya adalah suaminya yang akan aman dari gosipan orang.
"Kau tidak takut tinggal bersamaku?" tanya Kendra sambil menatap wajah Zaskia dengan intim.
"Tidak! Bukankah kita sama-sama manusia?" jawab Zaskia dengan sangat santai.
"Sudah, sebaiknya kita berkemas-kemas untuk segera pindah!" Kenan bergegas pergi dari sana. Karena dia ingin membereskan.
Sedangkan Zaskia hanya duduk diam, sambil melirik Kendra yang masih membereskan barang-barang.
'Aku kasihan pada mereka, apa aku katakan saja pada tuan Fajar?' batin Zaskia sambil berpikir.
.
.
.
Siska merasa sangat pusing, saat melihat jamuan makan untuk Bella, sehingga dia langsung memuntahkan isi perutnya.
__ADS_1
Hal itu membuat Astuti heran, karena dia sudah mengalaminya sebanyak dua kali. Wanita paruh baya itu langsung menghampiri sang anak dan membantu gadis itu muntah.
Sedangkan Bella masih melihat saja, karena dia masih memakan makanannya bersama sang ayah. Lagi pula dia kesulitan berjalan sehingga tidak bisa menyusul.
"Ayah, ada apa dengan kak Siska?" tanya Bella sambil menatap wajah sang ayah.
Fajar langsung menoleh dan menggeleng-gelengkan kepalanya, karena dia juga tidak tahu mengapa Siska muntah-muntah.
"Mungkin masuk angin," jawab Fajar sambil terus menyantap makanannya.
'Apa kak Siska sakit?' batin Bella sambil berpikir. Kemudian dia kembali menyantap makanannya.
.
.
"Nak, apa kamu masuk angin?" tanya Astuti dengan sangat lembut.
Siska tidak bisa menjawab, karena dia bingung mau berkata jujur atau bohong pada sang ibu.
"Siska, katakan saja?" tanya Astuti dengan sangat lembut.
"Iya Bu, karena Siska kemarin tidak makan," jawab Siska dengan sangat lembut sambil tersenyum.
Astuti melihat kejanggalan dalam jawaban Siska, dan dia diam agar membuat gadis itu tidak mencurigainya yang tidak percaya akan ucapan sang anak.
'Apa dugaan ku benar? Karena wanita hamil akan muntah, saat mencium aroma masakan,' batin Astuti penuh tanya.
.
__ADS_1
.
Zaskia sudah sampai di rumahnya, bersama dengan Kenan dan Kendra. Mereka bertiga masuk ke dalam.
"Ini rumah mu?" tanya Kendra, sambil menatap ke seluruh rumah gadis itu.
"Iya, sudah masuk saja ke dalam." Zaskia masuk ke dalam, dan duduk di sofa karena dia merasa sangat leleh.
Kenan duduk di samping Zaskia, kemudian tersenyum karena rumah gadis itu terlihat sangat lucu kalau terus di pandang.
"Rumah ini sangat lucu, seperti hello Kitty," ucap Kenan sambil tersenyum manis pada Zaskia.
Gadis itu tersipu malu, karena kakak iparnya memuji rumahnya yang rapi dan bersih. Walaupun dia tidak tinggal di rumahnya.
"Ngomong-ngomong, di mana kamar kita?" tanya Kendra, karena dia ingin beristirahat.
Zaskia terdiam dan menyesali perbuatannya, sudah membawa dua Ken ke rumahnya. Yang sudah di pastikan dia akan tidur satu kamar bersama sang suami.
"Tapi, aku harus izin dulu bekerja dari rumah. Karena, tidak mungkin aku berhenti bekerja. Sebab, gajiku sudah lumayan," ucap Zaskia.
Kenan dan Kendra menganggukkan kepala mereka, dan masuk ke dalam kamar masing-masing. Sedangkan Zaskia harus kembali ke rumah Fajar.
Untuk berpamitan karena dia akan bekerja dari rumah, dan tidak menginap lagi. Sebab, adanya sang suami di rumahnya.
'Tidak apa-apa, anggap saja aku membalas budi mereka. Tapi, budi apa?' batin Zaskia sambil berpikir.
Gadis itu berpikir bahwa Kenan atau Kendra sama sekali tidak pernah menolongnya, atau berbuat baik padanya. Lalu, untuk apa dia menolongnya?
Bersambung.
__ADS_1