
Happy reading....
Gadis itu hanya diam sambil memakan roti bakar dari sang suami, dengan sangat perlahan.
Setelah selesai, Kenan memberikan obat Bella dan membiarkan sang istri beristirahat. Hal itu membuat Bella sangat heran dan terkejut.
'Apakah Tuhan sudah mengabulkan doa ku. Tapi, kenapa aku tidak bisa menerima perlakuan manisnya?' batin Bella sambil berpikir.
Gadis itu mulai memejamkan mata, dan Kenan bergegas pergi dari sana. Sebab, sejak lagi dia belum melihat keadaan Miranda yang tengah demam.
Dengan perlahan dia masuk ke dalam kamar utama dan melihat Miranda sudah sehat, sedang duduk santai sambil menonton Drakor romantis.
"Sudah sehat sayang?" tanya Kenan dengan sangat lembut sambil menghampiri sang istri.
Miranda tersenyum dan langsung memeluk Kenan, kemudian mencium wajah sang suami. Namun, dia mencium aroma tubuh Bella di pakaian suaminya.
Dengan sangat kesal dia langsung melepaskan pelukannya.
"Ada apa?" tanya Kenan dengan sangat bingung melihat perubahan sikap Miranda padanya.
"Kau habis berpelukan dengannya!" jawab Miranda dengan kesal, membayangkan Kenan berpelukan dengan Bella.
Kenan tersenyum dan tertawa kecil, kemudian mengelus-elus rambut Miranda dengan lembut.
"Hati, jiwa dan ragaku hanya milikmu seorang," ucap Kenan dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Bohong!" sentak Miranda.
Miranda tahu kalau sang suami tengah berbohong, karena tidak mungkin kalau ucapan Kenan benar. Sebab, pria itu sudah tidur bersama Bella berulangkali.
"Percayalah, aku menikahi dia karena permintaan mu dan misi kita," ucap Kenan dengan lembut.
Miranda tersenyum dan langsung memeluk sang suami, kemudian dia tertawa karena Kenan masih mencintainya.
'Ternyata dia masih sangat mencintai ku, walaupun sudah tidur bersama wanita sialan itu!' geram Miranda dalam hatinya.
Kenan mengelus rambut Miranda dengan lembut sambil berpikir, perasaan apa yang ada di dalam hatinya untuk Bella. Sebab, sudah beberapa minggu ini dia tidak bisa membuat gadis itu terluka.
'Aku tidak bisa membuat hatiku memikirkan wanita sialan itu. Jangan sampai aku mencintai wanita yang sudah meruntuhkan kehidupan ku!' geram Kenan dalam hatinya.
Keesokan harinya ...
Saat ini Tia sedang duduk di pos satpam, sambil menunggu kepulangan Pak Asep yang membawa sepedanya. Tiba-tiba saja Kendra datang dan melemparkan sebuah kertas.
"Dasar tidak sopan," ucap Tia dengan sangat pelan. Namun, Kendra masih dapat jelas mendengar ucapan gadis itu.
"Hei!" sentak Kendra, sontak Tia langsung bangun dari duduknya.
"Ini apa Tuan muda?" tanya Tia sambil melihat sebuah kertas, yang di berikan oleh Kendra tadi.
Kendra memegang pundak Tia dengan sangat pelan, kemudian membisikkan sesuatu di telinga gadis itu.
__ADS_1
"Astaga!" jerit Tia sambil menatap tajam ke arah pria itu.
Kendra mengedipkan sebelah mata kemudian tersenyum simpul.
"Aku hanya minta kau membelikan kain segitiga untukku, hanya itu saja," ucap Kendra dengan sangat santai.
Tia langsung diam sambil membayangkan, saat dirinya membeli kain segitiga untuk Kendra dan dia langsung tersipu malu.
'Dasar pria aneh, masa iya aku harus membeli kain segitiga itu,' batin Tia.
Kendra memberikan uang ke tangan Tia, dan bergegas pergi dari sana karena gadis itu sedang melamun.
Saat itu juga Pak Asep sudah kembali dan menatap heran pada Tia, karena gadis itu diam sambil melamun.
"Tia, paman sudah selesai kamu bisa pergi," ucap Pak Asep.
Tia langsung tersadar kemudian berkata, "Baik Tuan muda!"
Pak Asep tertawa mendengar Tia memangilnya dengan sebutan Tuan Muda.
"Tia," panggil Pak Asep dengan pelan.
Tia langsung terdiam sambil membuka mulut lebar-lebar, saat melihat Pak Asep yang ada di hadapannya bukan Kendra. Sebab, seingatnya tadi pria itu yang ada di hadapannya.
"Maaf Paman, Tia buru-buru!" Gadis itu bergegas pergi dari sana dengan mengendarai sepeda miliknya.
__ADS_1
Bersambung.