Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku

Menjadi Istri Kedua Calon Mertuaku
Mencari Informasi


__ADS_3

Fajar terkejut mendengar ucapan sang anak, sehingga dia terjatuh lemas di sofa dan Astuti langsung menghampiri sang suami.


"Mas, tenang." Astuti memberikan suaminya minum, dan memijat kepala suaminya.


Sedangkan dua gadis itu masih menguping dari persembunyiannya mereka, dan sangat terkejut mendengar semuanya.


"Sebaiknya kau pergi dari sini!" teriak Fajar sambil menenangkan diri.


Betran melepaskan pelukannya, kemudian berjalan sambil menggandeng tangan Siska kemudian duduk di hadapan Fajar.


"Om, biarkan kami menikah. Apa Om tidak kasian pada anak kami? Yang akan terlahir tanpa adanya ayah?" ucap Betran sambil menendang kaki Siska.


"Ayah, izinkan kami menikah," sambung Siska.


Fajar merasa sangat sakit mendengar hal itu, karena Albert adalah pria yang membantu Kenan untuk menjebaknya puluhan tahun yang lalu.


"Kalian semua pengkhianatan!" Fajar bergegas pergi dari sana, karena ia merasa sangat kecewa pada sang anak.


Sedangkan Astuti langsung menghampiri sang suami dan meninggalkan Siska bersama Bertan berdua.


"Kau lihat?!" seru Siska, dan Bertan tersenyum puas melihat kehancuran tadi.


"Besok aku akan langsung menikahi mu, dan aku mau kedua orang tua mu harus setuju," ucap Betran sambil tersenyum simpul.


"Kau!" teriak Siska, dan Betran menunjuk ke arah perut Siska membuat gadis itu terdiam.


"Kau licik!" Siska bergegas pergi dari sana, karena dia sangat kesal pada dirinya sendiri. Sebab, tidak bisa berbuat apa-apa.


Betran bergegas pergi dari sana karena dia merasa puas dengan apa yang terjadi tadi. Sedangkan Zaskia dan Tia masih di tempat persembunyian.


"Kau lihat itu, Bella dan Siska sama-sama hamil?" ucap Zaskia.


"Bener, dan sebentar lagi kau," sahut Tia membantu Zaskia langsung membuka mulut lebar-lebar.


"Astaga! Aku sudah berulangkali tidur bersama om Kendra," ucap Zaskia dengan jujur.


Karena selama dia dan Kendra tinggal bersama, mereka seringkali melakukan hal itu. Walaupun Kendra memaksanya.


"Astaga Kia! Kau ini sangat bocor, hal seperti itu untuk apa kau bicarakan padaku yang masih bolos ini!" Tia memukul kepala Zaskia.


"Aduh!" Zaskia mengelus-elus kepalanya dengan perlahan, kemudian dia membisikkan sesuatu di telinga gadis itu.


"Kau gila, dasar mesum!" teriak Tia, dan Zaskia pergi dengan tawanya.


Zaskia merasa sedih, karena dia memiliki suami yang sama sekali tidak mencintainya dan sebaliknya. Namun, mereka harus bertahan karena kesadaran.


'Sudahlah, mungkin semuanya adalah takdir ku,' batin Zaskia lirih.


.


.


.


Kenan terdiam sejak semalam. Sebab, dia baru mengetahui siapa ayah Bella yang sebenarnya. Hal itu membuatnya sangat terkejut.


"Apa sebenarnya Fajar mengetahui semuanya?" Kenan berpikir kalau Fajar tahu, tentang kematian Adam.


Karena, dia merasa curiga pria itu sudah memantaunya selama ini dan meminta Astuti untuk melancarkan aksinya.


"Kalau semua itu terjadi, aku benar-benar akan membalaskan dendam ku. Tapi, aku tidak bisa melukai Bella lagi, karena aku sudah mencintainya," ucap Kenan lirih.

__ADS_1


Kenan merasa sangat menyesali perbuatannya, karena dia menganggap Bella adalah biang dari semua maslah. Namun, gadis itu sama sekali tidak terlibat sedikitpun dalam masalah itu.


Membuat Kenan sangat menyesal, apa lagi dia sudah hampir membunuh anaknya yang sama sekali tidak tahu apa-apa.


"Aku akan memantau Bella dari jauh, karena dia tidak akan mau bertemu aku lagi," ucap Kenan dengan lirih.


.


.


.


Kendra bekerja di sebuah Swalayan menjadi seorang pegawai di sana. Dia bekerja hanya untuk diri sendiri. Sebab, Zaskia juga sudah bekerja.


"Kendra!" teriak seorang pria sambil memegang kotak yang berserakan di lantai.


"Apa lagi si?!" Kendra berjalan dengan terburu-buru menghampiri sang bos.


Setelah sampai, dia langsung memejamkan matanya dan melihat kotak-kotak yang di bereskan tadi sudah berserakan di lantai.


'Astaga! Ini masalah namanya,' batin Kendra.


"Maaf Tuan, tadi saya tidak sengaja meninggalkan kota-kota itu," ucap Kendra dengan sangat lembut.


"Ck, itu hanya alasanmu saja!" sentak pemilik Swalayan tersebut.


"Maaf Tuan," ucap Kendra dengan sangat lembut, dan pemilik Swalayan tersebut bergegas pergi dari sana.


Kendra langsung membereskan semua kotak-kotak yang berserakan, sambil mengumpat sang bos dalam hatinya.


'Kurang ajar sekali dia marah-marah padaku, apa dia tidak tahu kalau aku ini adalah Kandra Dueken yang sudah bangkrut,' batin Kendra lirih.


Setelah selesai mengerjakan tugasnya, Kendra kembali ke depan dan menyusun barang-barang yang sudah kosong. Namun, matanya melirik ke arah gadis yang tengah masuk.


"Bukankah itu Bella. Tapi, dia bersama siapa?" ucap Kendra dengan pelan.


Setelah di memerhatikan gadis itu, ternyata dia hanya halu saja, dan salah melihat orang.


"Astaga! Aku ini sangat memikirkan gadis itu, untungnya aku belum menghampirinya," ucap Kendra sambil menggelengkan kepalanya.


Padahal, dia benar yang di lihatnya tadi adalah Siska bersama Tiyo. Mereka membeli susu ibu hamil di Swalayan itu.


.


.


Di dalam mobil ...


"Non, apa tadi Non, tidak perhatian ada seorang pegawai yang terus memperhatikan kita," ucap Tiyo.


Siska terdiam, karena dia sama sekali tidak tahu ada orang yang memperhatikan dirinya. Sedangkan Tiyo memang memperhatikan gelagat pria tadi.


"Yang bener Mas?" tanya Siska.


"Benar Non. Tapi, sudahlah lupakan saja! Toh, kita tidak apa-apa," jawab Tiyo, dan Siska menganggukkan kepalanya.


Siska berpikir, siapa pria yang terus-menerus menatap mereka tadi. Namu, dia sama sekali tidak melihat pegawai itu, karena terlalu fokus pada apa yang di carinya.


'Siapa pria itu, apa jangan-jangan pria yang sama seperti di taman hari itu? Sebab, dia mengira kalau aku Bella?' batin Siska.


Gadis itu mengingat wajah pria yang di taman, dan langsung teringat wajah itu adalah Kenan. Sebab, sangat mirip seperti Poto yang di lihatnya beberapa hari lalu.

__ADS_1


'Ya Tuhan, dia itu suami Bella. Tapi, bukankah Kenan adalah konglomerat di sini? Lalu, untuk apa dia bekerja di sana?' batin Siska sambil berpikir.


Siska terus-menerus berpikir, sehingga dia ketiduran di dalam mobil sampai di rumah. Tiyo baru saja menghentikan mobil dan melihat Nona muda tertidur.


"Ya ampun, dia tertidur," ucap Tiyo.


Tiyo menatap wajah Siska yang sedang tidur, dan seketika di ingat pertemuan pertama mereka. Pria itu mengira Siska adalah Bella, dan seiring berjalannya waktu dia tahu kalau gadis itu hanya mirip saja.


"Sudahlah, lupakan Bella." Tiyo bergegas ke luar dan menggendong Siska masuk ke dalam, membawa gadis itu ke kamar.


Dia meletakan tubuh Siska dengan perlahan kemudian ke luar dan mengambil susu yang tertinggal di mobil.


Saat dia mengambil susu, tiba-tiba dia melihat adanya Poto pria tua yang ada di dalam tas Siska terjatuh.


"Ini Poto siapa?" tanya Tiyo sambil memasukan Poto itu kembali ke dalam tas Siska.


Tiyo tidak ambil pusing, karena dia tidak ingin mengetahui masalah pribadi Siska ataupun yang lainnya.


.


.


.


Hasrul bersama Fajar tengah makan bersama di meja makan, karena pria Turki itu lapar dan tidak mau makan sendiri.


"Bagaimana tadi, apa Bella kesakitan?" tanya Fajar pada sang sahabat.


"Iya, kakinya masih sulit di gerakan," jawab Hasrul sambil memasukan makanan ke dalam mulutnya.


Fajar terdiam, karena dia berpikir kalau sang anak tidak akan bisa berjalan lagi. Sontak rasa dendamnya semakin muncul dan meluap-luap.


'Kenan Dueken, aku tidak akan memberikan mu bahagia walaupun kau sudah bangkrut. Sebab, anakku tidak bisa berjalan karena mu!' geram Fajar dalam hatinya.


Walaupun dia sudah melenyapkan anak Kenan satu-satunya, tetap saja Fajar sama sekali belum puas dengan apa yang di lakukan untuk Kenan.


"Sudahlah, aku akan melatih dia lagi besok, dan memberikannya ramuan agar dia bisa berjalan kembali," ucap Hasrul sambil terus menyantap makanannya.


"Baiklah," jawab Fajar dengan pelan, karena dia sedang menahan rasa dendam yang membara.


Di tambah lagi, Siska hamil anak musuhnya yang artinya akan semakin membuatnya pusing. Kedua anaknya sama-sama akan melahirkan keturunan sang musuh.


.


.


.


Zaskia duduk termenung di bibir kolam, karena tadi baru saja menerima pesan singkat dari Kendra.


"Untuk apa juga dia mau menjemput ku di sini. Apa dia ingin mencari informasi tentang Bella?" Zaskia menerka-nerka niat Kendra yang akan menjemputnya nanti.


Padahal, pria itu benar-benar ingin pulang bersama karena jalan mereka satu arah dan juga dia tidak ingin, melihat sepeda butut yang di bawa Zaskia pulang.


Zaskia kembali melanjutkan pekerjaannya, karena sebentar lagi dia akan segera bulan dan berniat akan menunggu Kendra di depan jalan. Agar pria itu tidak melihat apa yang ada di dalam rumah Fajar.


'Aku tidak akan membiarkan dia mengetahui Bella ada di rumah ini dan semua rahasia gadis itu. Sebab, dia adalah adik suaminya Bella,' batin Zaskia.


Gadis itu berburuk sangka pada Kenan dan Kendra, karena dia tidak mau sampai di katakan pengkhianat, karena memberi tahu keberadaan Bella berada pada kedua Ken itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2