
"Adam," panggil Bella saat melihat Adam ada di hadapannya, terlihat pria itu mengunakan baju serba putih.
Adam tersenyum, kemudian pergi dari hadapan Bella, sehingga gadis itu berteriak-teriak.
"Adam! Jangan tinggalkan aku!" teriak Bella.
BRUK!
"Bella!" pekik Tia, karena Bella jatuh dari atas tempat tidurnya.
Bella langsung menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Tia, dan gadis itu mengelus-elus rambut Bella.
"Ada apa?" tanya Tia sambil menatap wajah Bella, dan menghapus air mata gadis itu.
"Adam," jawab Bella dengan air mata yang mengalir deras membasahi seluruh wajahnya.
"Bella, Adam sudah tenang di sana jangan! Mengingatnya lagi," ucap Tia dengan lirih.
Bella terdiam dan bergegas pergi dari sana, dengan sangat cepat ia berjalan menuju taman dan melihat bunga mawar merah miliknya sudah mati.
"Siapa yang sudah membuatnya mati?!" tanya Bella dengan sangat emosi.
Gadis itu menangis tersedu-sedu sambil memeluk bunga mawar merah yang sudah mati itu.
Seketika Bella mengingat kembali ucapan Adam padanya tentang bunga mawar merah miliknya.
"Selama bunga ini masih hidup, cinta kita juga masih hidup. Jika mati maka cinta kita juga langsung lenyap bersama bungan ini."
Kata-kata itu terus masuk ke dalam pikirannya dan dia langsung menyiram bunga mawar merah itu. Namun, sayangnya tetap tidak mau tubuh lagi.
"Bella sudah! Hari semakin malam," ucap Tia dengan lirih, melihat Bella sangat sedih memikirkan tentang Adam.
"Sudah kata mu? Lihatlah, bunga ini mati yang artinya cinta kami juga mati?!" tanya Bella dengan sangat emosi.
Tia menghampiri Bella dan memeluk gadis itu dengan erat, karena dia sangat menyayangi sang sahabat.
"Bukannya aku ingin membuatmu semakin bersih. Tapi, bukankah cinta kalian semua mati bersama Adam?" ucap Tia dengan sangat hati-hati takut melukai perasaan Bella.
Bella terdiam dan berlari masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu menangis tersedu-sedu sambil melihat Poto Adam dari ponselnya yang masih tersimpan.
"Dam, maafkan aku sudah menikah dengan papamu ... apakah aku tidak bisa mencintaimu lagi?" tanya Bella pada Poto Adam yang tidak akan menjawab.
Bella mengingat kembali saat mereka bersama di taman bunga dan berucap janji.
Flashback on ...
Bella tersenyum sambil menidurkan tubuhnya ke rumput yang bersih dan nyaman, begitu juga dengan Adam.
__ADS_1
"Bel, mari kita berucap janji," ucap Adam sambil menatap langit malam yang indah.
"Janji apa?" tanya Bella sambil memegang tangan Adam.
Adam tersenyum dan langsung bangun, kemudian Bella juga ikut bangun.
"Janji kalau kita akan saling mencintai sampai tua," jawab Adam dengan sangat lembut.
Bella tersenyum dan melingkarkan jari kelingkingnya ke jari Adam, dan mereka berdua saling menatap.
"Kami berjanji akan saling mencintai sampai tua, dan tidak akan ada yang memisahkan kami," ucap Bella dan Adam secara bersamaan.
Setelah berucap Janji, mereka berdua tertawa lepas dan saling berpelukan dengan hangat dan mesra.
Walaupun umur Bella jauh lebih tua dari Adam, tetap saja pria menyukainya dan mau menikahi dengannya.
Flashback off ...
Bella menidurkan tubuhnya dengan air mata yang mengalir deras, tanpa izin darinya. Gadis itu sangat sedih saat mengingat kenangannya bersama Adam.
Sebab, mereka sudah bersama selama 20 tahun dan banyaknya kenangan indah yang mereka lalui bersama.
'Apa yang harus aku lakukan? Pergi dari sini, atau tetap di sini?' batin Bella sambil berpikir.
Saat gadis itu mengingat kenangannya bersama Adam, membuatnya tidak bisa tinggal bersama Kenan apa lagi sampai tidur berdua. Walaupun hal itu sudah sangat sering terjadi.
.
.
Kini Miranda tengah bersiap-siap kembali ke Indonesia, karena wanita itu memiliki rencana agar Bella semakin terisak.
"Mungkin aku akan lama berada di sini," ucap Kenan dengan sangat lembut.
Miranda tersenyum kemudian mendorong kopernya menuju luar, bersama dengan Kenan dan dia menghentikan langkahnya.
"Tidak masalah, kalau aku merindukan mu. Aku langsung terbang ke sini," jawab Miranda dengan sangat lembut.
Kenan mencium puncak kepala Miranda, kemudian memegang tangan sang istri dengan sangat lembut.
"Kumohon jangan ada keributan! Sampai aku kembali," pinta Kenan pada Miranda.
Wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, karena ada rencana besar yang di siapkan olehnya untuk sang madu.
'Maafkan aku Ken, aku tidak bisa melihat mu di rebut oleh pelakor itu!' geram Miranda dalam hatinya.
"Aku pergi dulu," ucap Miranda dengan sangat lembut.
__ADS_1
Kenan menganggukkan kepala dan Miranda bergegas masuk ke dalam mobil, kemudian supir langsung mengemudikan mobil dengan perlahan pergi dari sana.
Kenan merasa gelisah, karena Miranda terlihat sangat mencurigakan, dan dia langsung menghubungi Tia.
Kenan: Pastikan semuanya aman, karena nyonya sudah kembali.
Tia: Baik, Tuan.
Tia langsung memutuskan sambungan teleponnya, dan langsung menghampiri semua pelayan agar menyambut Miranda beberapa jam kemudian.
"Semuanya, kita bekerja sama untuk menyambut kepulangan nyonya Miranda, yang akan tiba beberapa jam lagi," ucap Tia.
Semua orang mengerti dan mengerjakan tugas masing-masing, sedangkan Bella langsung bergegas pergi dari sana.
"Sejak kemarin ibu tidak ada, ke mana perginya ibu?" gumam Bella sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Gadis itu sudah menyelesaikan tugasnya, dan kini ia ingin beristirahat karena kepalanya sangat pusing.
.
.
.
Astuti berjalan dengan sangat letih, karena sejak kemarin dia terus mencari keberadaan sang suami dan anaknya. Namun, sama sekali tidak mendapatkan apapun.
"Ke mana lagi harus aku cari keberadaan mereka? Aku sudah lelah," ucap Astuti lirih.
Wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya di halte bus, dan duduk di sana sambil menangis karena sudah gagal berulangkali mencari keberadaan sang suami.
'Ke mana kalian, apa tidak ada rasa ingin mencari kami mas?' batin Astuti lirih.
Wanita itu bergegas naik angkot agar segera sampai di rumah, karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan Bella yang sejak kemarin di tinggal.
Astuti berjalan dengan sangat letih, karena sejak kemarin dia terus mencari keberadaan sang suami dan anaknya. Namun, sama sekali tidak mendapatkan apapun.
"Ke mana lagi harus aku cari keberadaan mereka? Aku sudah lelah," ucap Astuti lirih.
Wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya di halte bus, dan duduk di sana sambil menangis karena sudah gagal berulangkali mencari keberadaan sang suami.
'Ke mana kalian, apa tidak ada rasa ingin mencari kami mas?' batin Astuti lirih.
Wanita itu bergegas naik angkot agar segera sampai di rumah, karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan Bella yang sejak kemarin di tinggal.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG...