
Tia sudah menjelaskan semuanya kepada Fajar, dan pria itu mempercayainya. Namun, hanya berpura-pura saja, karena dia ingin menjaga perasaan Bella.
Fajar memberikan isyarat agar Tia mengikutinya, dan gadis itu langsung mengikuti pria itu.
Sedangkan Bella, masih berpelukan dengan Mang Asep dan Astuti hanya duduk sambil melihat sang anak yang sangat bahagia.
"Bu, apa Bella benar-benar tidak bisa berjalan?" tanya Bella dengan sangat lembut.
Astuti sangat terkejut, mendengar ucapan Bella karena dia berpikir gadis itu tahu dari mana kalau dia tidak bisa berjalan.
"As, berkata jujur saja! Biarkan Bella mengetahuinya," sahut Mang Asep.
Astuti menghela nafas dalam-dalam, kemudian mulai menceritakan semua pada sang anak.
Bella diam, dan mencoba untuk menerima kenyataan yang di alaminya. Sehingga membuat Astuti sedih begitu juga dengan Mang Asep.
'Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang harus anakku alami?' batin Astuti lirih.
Seorang pria yang sejak tadi mengintip di sebalik pintu dapur, meneteskan air matanya melihat pujaan hatinya menderita seperti itu.
"Kasian Bella, andai saja dia mau menerima cintaku. Sudah pasti tidak akan mendapatkan luka seperti itu sampai dia tidak bisa berjalan," ucap Tiyo dengan lirih.
Pria itu sempat mengungkapkan isi hatinya pada Bella sewaktu mereka masih duduk di bangku SMA. Namun, Bella menolak karena dia sudah berpacaran dengan Adam sejak duduk di bangku SMP.
__ADS_1
"Sakit, jika mengingat itu," gumam Tiyo sambil berjalan menuju taman belakang, kemudian dia menghapus apa yang sudah dia buat tadi.
Namun, telinganya mendengar suara orang tengah berbicara dan langsung menghampirinya.
"Maafkan saya Taun, karena itu adalah permintaan Bella. Saya tidak bisa menolaknya," ucap Tia sambil menundukkan wajahnya.
Fajar sangat kesal, karena dia takut kalau Bella bertemu dengan Kenan dan membawanya anaknya.
"Saya ingatkan sekali lagi! Kalau Bella meminta apapun yang membahayakan nyawanya, jangan kamu berikan!" Fajar bergegas pergi dari sana dengan sangat kesal.
Tia terdiam, karena Fajar terlihat sangat marah padanya dan gadis itu tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
"Tia, kamu sangat ceroboh. Untungnya Bella tidak bertemu dengan tuan Kenan," ucap Tia dengan lirih.
Gadis itu berjalan dengan menundukkan wajahnya dan dia menabrak seseorang, kemudian terjatuh di atas tubuh pria itu.
"Kamu itu jalan bisa gak sih, pakai mata?!" tanya Tiyo dengan sangat emosi, karena kantung menyan miliknya tersakiti oleh Tia tadi.
Tia tertawa sambil memegang pundak pria itu, kemudian dia duduk dan memenangkan diri.
"Ya ampun, Tiyo di mana-mana itu jalan pakai kaki mana ada pakai mata," kekeh Tia.
Tiyo menghampiri Tia dan duduk di sampai gadis itu, kemudian membisikkan sesuatu di telinga Tia.
__ADS_1
"Aku tidak tahu," jawab Tia.
Tiyo tadi membisikkan mengapa Fajar marah-marah dan gadis itu berbohong. Sebab, dia Memeng bersalah.
"Ya sudah, kita lanjutkan kembali pekerjaan masing-masing!" Tiyo bergegas pergi dari sana meninggalkan Tia.
Tia diam kemudian berjalan menuju kamarnya, karena dia ingin mengambil sesuatu.
Setelah sampai dia terkejut melihat Zaskia ada di dalam kamarnya, dan sedang bermain ponselnya.
"Dasar maling!" teriak Tia.
Zaskia terkejut dan langsung bangun, karena dia takut jika ada maling dan dirinya terluka.
"Di mana maling itu?!" tanya Zaskia sambil berteriak-teriak.
Tia mengambil ponselnya dari tangan Zaskia, kemudian menidurkan tubuhnya di kasur miliknya.
"Kamu adalah maling itu, sudah berani mengambil ponselku," jawab Tia.
Sontak membuat Zaskia kesal dan langsung pergi dari sana. Gadis itu berhenti tepat di depan pintu kamar Tia dan membuka ponselnya.
"Untungnya aku sudah mengambil poto ini," ucap Zaskia, sambil melihat Poto Tia bersama seorang pria tampan.
__ADS_1
Zaskia sudah menebak kalau pria itu adalah mantan sang sahabat, karena beberapa hari lalu Tia bercerita telah gagal menikah.
"Dasar pria matre, maunya cewek kaya saja! Sedangkan sahabatku yang miskin dia campakkan di hari pernikahannya," gumam Zaskia sambil terus berjalan.