
"Apakah hari ini kita akan berjualan?" tanya luna pada nathan yang sibuk membuat pernak-pernik.
"Tidak, hari ini aku ingin beristirahat" jawab nathan tanpa mengalihkan pandangannya.
Luna menganggukkan kepalanya dan izin pergi ke samping rumah bersama laura. Nathan pun mengizinkannya. Toh cuman di samping rumah ini.
"Mama liat bunganya cantik kayak mama" ucap laura seraya memetik bunga melati dan mengaitkannya di telinga luna.
"Bunga ini juga cantik kayak laura" balas luna tak mau kalah seraya mengaitkan bunga itu di telinga laura.
Nathan yang sedari tadi memperhatikan mereka lewat kamera terbangnya pun tersenyum tipis.
tring
^^^Ayah^^^
^^^Tingkatkan kewaspadaan mu, sepertinya musuh bebuyutan ayah sudah mengetahui tentangmu^^^
Baik ayah
Nathan mengepalkan tangannya menahan emosi, entah mengapa banyak sekali yang mengincar hidupnya. Apakah ini resiko anak mafia? Tapi sepertinya tidak, ketiga adik-adiknya bahkan tidak ada yang mengincar sama sekali.
"Ck ternyata dia tak puas untuk menyelakakan ku, hm sebaiknya aku mengawasi luna dan laura lebih ketat lagi. Jangan sampai aku kebobolan" gumam nathan penuh tekad seraya pergi menyusul luna dan putrinya.
"Luna, laura kemarilah sayang. Papa ingin berbicara" panggil nathan di depan pintu membuat dua l itu langsung menoleh dan menghampirinya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya luna heran karena tiba-tiba nathan memanggilnya.
"Sebaiknya kalian masuk ke dalam, sebentar lagi akan hujan" ujar nathan yang membuat duo l itu menepuk jidatnya masing-masing.
"Kilain laula ada apa eh cuman ujan doang toh"
Laura yang tak habis pikir dengan sang ayah pun geleng-geleng kepala sedangkan luna malah salting karena merasa di perhatikan oleh nathan.
"Mas nathan luna boleh nanya gak?" tanya luna dengan hati-hati karena takut di marahi oleh nathan.
"Apa?"
"Rumah ini kan seperti gubuk, tetapi kenapa fasilitas di dalam layaknya rumah mewah?" tanyanya yang curiga bahwa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh nathan.
"Itu rahasia" ucap nathan singkat seraya masuk duluan.
"Mas, apakah di sini ada mangga muda?" tanya luna tiba-tiba membuat laura menatapnya dengan heran.
"Mama ngidam?" ucapnya bertanya pada luna.
Luna menganggukkan kepalanya sedangkan nathan acuh dan malah masuk dapur membuat luna berpikir bahwa nathan tidak peduli padanya.
Namun tanpa di sangka, nathan kembali membawa beberapa potong mangga muda dan jangan lupakan bumbu rujak di sampingnya.
"B-bolehkah aku minta itu?" tanya luna dengan malu-malu.
__ADS_1
"Itu memang untukmu" jawab nathan yang membuat laura menatapnya dengan heran.
"Tumben di kasih pa, biasanya kalo ada onty ola papa nda bakal ngasih" ujar laura yang membuat nathan terkekeh mengingat kejahilannya pada sang adik.
"Ah laura, kau membuat papa merindukan auntymu" ucapnya seraya mengelus kepala laura.
"Kalian mau?" tawar luna yang sudah menyantap setengah mangga muda di depannya.
"Nda ma, itu buat mama aja" tolak laura dengan halur.
Sedangkan nathan hanya diam dan memperhatikan luna yang makan dengan berantakan.
"Pelan-pelan makannya, aku tak akan minta mangga muda itu kok" ujar nathan yang di angguki laura.
"Hem, bumbu rujak buatanmu memang ter the best" puji luna tanpa menghentikan aktivitas makannya.
"Tentu aja, papanya laula gitu loh" sombong laura.
Sedangkan nathan yang di puji hanya tersenyum melihat tingkah kedua perempuan di depannya.
"Papa mau mandi dulu ya ra, kamu jagain tuh aunty luna"
"Mama pa, bukan onty" protes laura tak terima.
Nathan hanya menganggukkan kepalanya tanpa protes apapun dan pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Bersambung~