
45 menit di perjalanan,, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang besar dan cukup mewah. Tari dan Adnan berbinar-binar melihat rumah itu sedangkan Nathan cuek-cuek saja.
Setelah mobil berhenti,,Nathan membukakan pintu untuk sang ayah sedangkan adiknya turun sendiri.
"Welcome to home Dikri" ucap Dikri sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Aaaa paman rumahnya besar sekali,,berasa jadi Putri aku" ujar tari yang masih kagum dengan rumah itu.
"Kalo tari putrinya,,Adnan mau jadi pangerannya ajah.. Adnan pengen deh suatu saat Adnan jadi seorang pangeran" ujar Adnan menyampaikan harapannya.
"Ayah jangan terlalu berharap terlalu tinggi,,aku tidak mau ayah jatuh suatu saat nanti" ucap Nathan yang tidak mau ayahnya putus asa.
"Jatuh? emangnya lantainya licin ya?" tanya Adnan.
"Licin kalo lagi di pel" celetuk tari
"Hahaha kamu benar sayang,,kalo ga lagi di pel mah ya gak akan licin" timpal Dikri.
"Sudahlah jangan bahas tentang lantai" ucap Nathan menoleh sekejap pada paman dan adiknya dan kembali menatap sang ayah.
"Ayah akan tahu suatu saat nanti kenapa ayah tidak boleh berharap yang tidak-tidak" sambungnya.
"Sudah ah ayo masuk" ajak Dikri yang diangguki semuanya.
Mereka berempat masuk ke dalam rumah dikri. Nathan dan Dikri membawa tas bawaan mereka sedangkan tari menjaga Adnan supaya tidak hilang.
"Duduk dulu yuk,,nanti paman anterin kalian ke kamar masing-masing" ucap Dikri yang agak lelah.
"Baik paman" ucap tari dan Nathan patuh dan duduk di sofa ruang tamu itu,,begitu juga dengan Adnan.
Adnan hanya diam saja,,ntah kesambet apa Adnan mendadak menjadi pendiam. Nathan yang sadar dengan itu pun menyentuh pundak sang ayah.
"Ayah ada apa?" tanya Nathan pada sang ayah.
"Gapapa,,entah kenapa ayah rasa ada yang ketinggalan" ucap Adnan sambil mengingat-ingat apa yang tertinggal.
Adnan masih saja terdiam membuat Nathan ikut berpikir apa yang tertinggal. Seketika pikiran Nathan buyar mendengar pekikan sang ayah
"Kalung nda" pekik Adnan yang ingat dengan kalung yang sebelumnya di berikan oleh sang istri.
"Hah kalung apa yah?" tanya tari yang tak tahu tentang kalung itu begitu juga dengan Nathan.
Dikri yang tak tahu apa-apa hanya diam dan menyimak yang mereka bicarakan.
"Abang anterin Adnan ke rumah,, kalung nda ketinggalan" pinta Adnan dengan mata berkaca-kaca.
"Sebentar lagi ya dek,,kita istirahat dulu.. Abang capek banget" tutur Dikri lemah lembut membuat sang adik mengerti dan mengangguk.
'Kalung apa yang ibu kasih ke ayah?' batin tari bertanya-tanya
__ADS_1
'Yes sepertinya itu bisa di sebuah petunjuk untuk mencari ibu' batin Nathan senang karena mendapatkan petunjuk
'Kalung? apakah kalung mainan? Mana mungkin orang miskin mempunyai kalung.. Tapi kalo emang asli kalung apa itu?' batin Dikri bertanya-tanya seperti tari.
Semua orang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Selang beberapa saat terdengar suara ketukan sepatu yang membuat mereka semua menoleh ke arah sumber suara.
"Sepertinya istri paman pulang" tebak dikri
"Paman punya istri?" tanya tari yang mengira bahwa sang paman masih single.
"Paman tuh dah kepala tiga,,ya kali belom punya istri" ucap dikri.
"Tapi kepala Abang masih satu" heran Adnan.
"Iya bener tuh kata ayah" timpal tari.
"Bukan itu artinya,,arti kepala tiga itu umur tiga puluh tahunan" jelas Nathan.
Seperkian detik kemudian muncullah seorang wanita berparas cantik dan seksi memakai kacamata hitam.
"Hai babbyh" sapa Dikri pada istrinya itu.
"Hai yang" balas wanita itu sambil memeluk Dikri.
"Siapa dia?" tanya wanita itu sambil menatap sinis Adnan dan yang lainnya.
"Oh,, ngapain mereka disini?" tanya wanita itu lagi.
"Mereka akan tinggal disini yang. Selama ini aku mencari mereka,, sekarang sudah ketemu aku tak akan melepaskannya lagi" ucap Dikri sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Oh gituu,,oke deh lumayan buat di jadiin ubab" ucap wanita itu.
Dikri pun menggandeng tangan wanita itu untuk duduk di sofa.
"Nathan tari Adnan kenalin ini istri paman,,namanya queen. Kalian bisa manggil dia aunty queen" ucap Dikri memperkenalkan queen.
'Sepertinya ada yang tidak beres disini' batin nathan mencurigai Abang dari ayahnya itu.
"Paman,,aunty bisakah antar kami ke kamar?" tanya tari pada mereka berdua.
Dikri mengangguk dan beranjak. "Ayo lewat sini" ajak Dikri.
Nathan,,tari dan Adnan pun mengikuti dikri sambil membawa barang-barang mereka. Dikri mengantarkan mereka menuju kamar pembantu.
"Ini kamar kalian" ucap Dikri sambil menunjukkan kamar itu.
"Terimakasih bang" ujar Adnan yang masih tahu tentang sopan santun.
"Ya,,Abang mau ke kamar dulu ya. Met beristirahat" pamit Dikri dan langsung pergi meninggalkan ayah dan anak itu.
__ADS_1
Nathan pun membuka pintu itu. Betapa terkejutnya Nathan ketika melihat kamar itu. Nathan mengepalkan kedua tangan kecilnya.
"Ada apa bang?" tanya tari sambil masuk ke dalam.
Seketika mata tari membulat dan tangannya juga ikut terkepal seperti nathan.
"Sepertinya dia pengen bermain dengan kita bang" ucap tari dengan nada beratnya.
"Saatnya kita kembali menjadi anak kecil yang usil de" ujar Nathan yang sudah memikirkan rencana licik.
"Kita kembar kak,, mungkin sepemikiran"
"Mungkin"
"Kapan kalian kapan mau masuk? pegel nih" tanya Adnan membuat Nathan dan tari tersadar bahwa ada sang ayah yang mendengar pembicaraan mereka.
"N-ngga kok yah,,cuman nyari harimau aja ya harimau" bohong tari dengan blak-blakan
"Oh semoga ketemu ya harimau nya,,ayah juga pengen pelihara harimau hihihi"
pletak
Nathan menyentil kening tari. "Kalo ngomong tuh jangan blak-blakan" bisik Nathan di telinga tari
"Hehehe sorry kak,,habisnya takut ketauan" jawab tari dengan berbisik kembali.
"Dasar bodoh,,udah tau ayah itu ga peka masih aja takut kepergok" cibir Nathan pelan.
Rasanya ingin sekali tari memukul nathan sampai babak belur. Namun niatnya itu ia urungkan karena dirinya sadar bahwa ada sang ayah yang melihat mereka.
"Ayo yah masuk" ajak tari pada Adnan.
Adnan mengangguk dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. "Wah kasurnya ditingkat" ucap Adnan yang kagum dengan hal itu.
Tari menepuk jidatnya sendiri karena heran dengan sang ayah. Dalam pemikiran tari sang ayah akan menangis karena melihat kamarnya yang tidak lebih baik daripada kamar miliknya di rumah yang dulu.
'Kirain mau nangis,,eh malah kagum. Haduh tari kenapa engkau suuk dzon mulu,,eh masuk nya suudzon' batin tari merutuki dirinya sendiri.
"Udah ah ayo istirahat,,kita disini cuman tiga hari doang" ujar Nathan sambil merapikan tempat tidur untuk sang ayah.
"Kok tiga hari sih? kenapa ga selamanya?" tanya Adnan dengan mata berkaca-kaca.
"Gapapa ayah,,cuman ga enak aja sama aunty" bohong Nathan
'Maafkan aku yah harus berbohong,,tapi ini demi kebaikan ayah' batin Nathan.
Adnan mengangguk dan merebahkan dirinya di kasur yang sudah Nathan bersihkan.
__ADS_1