
Anata menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil tersenyum kikuk.
"A-aku lupa" ucapnya yang membuat adnan menepuk jidatnya sendiri.
"Haish, untung saja aku mengingatkan mu. Oh ya, kau sudah mempersiapkan alasan pada anita?"
"Sudah, tapii aku tak yakin akan di izinkan" jawab anata ragu-ragu.
"Jika memang tak di izinkan, kau kabur saja" usul adnan
"Kalau misalnya ketanggkap gimana?" tanya anata dengan polosnya.
"Paling aku yang akan menculikmu" jawab adnan dengan santainya.
Anata menatap adnan dengan tatapan tajam membuat adnan tertawa pelan seketika.
"Tidak usah melotot, kau kan semakin imut jika seperti itu" ujar adnan sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Entah sejak kapan adnan memiliki hobi menggoda anata. Yang pasti sekarang adnan sangat ingin menjaga dan mencintai anata dengan sepenuh hatinya.
"Lebih baik mas adnan keluar aja deh" kata anata yang secara halus mengusir adnan.
"Ngusir nih ceritanya?"
"Ngga ngusir, cuman nyuruh minggat doang" jawab anata dengan santainya seraya berusaha menahan tawa.
"Huhhh kau menyebalkan, bisa-bisanya mengusir suami sendiri" kesal adnan seraya menghentak-hentakkan kakinya.
"Siapa juga yang nyebelin? Lagipula ya kak, emang kakak mau ketahuan sama anita atau yang lainnya? kalau ketahuan bisa gagal loh rencana kita. Kalau misalnya gagal kan…"
cup
Adnan menci*m anata membuat sang empu tersentak kaget dan terdiam seketika. Dengan lembut adnan ******* bibir anata.
Hingga beberapa saat kemudian pautan mereka pun terlepas.
"Hahh hahhh hahh, m-mas mau bunuh aku yah?"
"Makanya bernafas, jangan di tahan nafasnya" ucap adnan yang sama-sama terengah-engah.
"Jangan di tahan gimana orang mas juga tahan nafas"
Adnan hanya bisa menggaruk kepalanya yang gatal. Toh yang di ucapkan anata ada benarnya. Tapi tidak apa, karena itu adalah yang pertama kalinya adnan lakukan saat sadar.
"Aku jadi curiga deh nathan sama tari bukan anak kita" ucap adnan tiba-tiba yang membuat anata menatapnya dengan tatapan heran.
"Maksud mas?"
__ADS_1
"Iya, kamu aja ciuman kaku gitu. Apalagi bikin anak"
blush
Pipi anata memerah seketika mendengar ucapan adnan yang cukup ceplas-ceplos.
"Kita emang ga pernah bikin anak, tapi kita pake program…"
"Maksudmu mereka terbuat bukan dari usaha kita gitu?" tanya adnan memotong ucapan anata.
"I-iya, mereka di buat pake alat dokter" jawab anata dengan senyum kikuknya.
Adnan menepuk jidatnya sendiri kemudian ia menatap anata dengan tatapan penuh cinta miliknya. "Gapapa, kakaknya terbuat dari alat dokter. Tapi adiknya harus dari perjuangan orang tuanya" ujarnya dengan senyum smirk.
glek
Anata hanya bisa bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Apalagi setelah melihat senyuman smirk dari adnan, sudah di pastikan ia tak kan bisa jalan seperti cerita yang pernah ia baca.
"Ga usah di bayangin, mending di rasain" ucap adnan yang tahu bahwa anata sedang membayangkan apa yang akan terjadi.
"Ga mau!!" pekik anata seraya berlari keluar kamarnya.
Adnan hanya terkekeh geli dan berjalan dengan santainya seolah-olah tak terjadi apa-apa.
......................
"Ternyata hanya pembantu biasa" gumam nathan yang sedang mengorek informasi tentang pembantu yang bernama nova.
Baru saja sampai di pertengahan tangga, alis nathan sudah mengkerut karena melihat nova yang berlari keluar.
"Mau kemana bi?" tanya nathan heran seraya melanjutkan langkahnya.
"A-anu, bibi mau nungguin nyonya di depan. I-iya nungguin nyonya"
Nathan yang merasa curiga dengan nova pun malah mengikuti langkahnya.
"Kok aden malah ikut? Kenapa ga tunggu di dalem? Ini udah malem loh den, ga baik buat kesehatan" cerocos anata yang takut nathan sakit karena telah mengikutinya berjalan-jalan di luar saat hari sudah mulai malam.
"Nathan cuman nunggu ojek yang bakal nganterin makanan doang" ujarnya dengan wajah datar.
Hingga beberapa menit kemudian datang seorang ojek makanan disusul oleh mobil anita.
"Selamat datang kembali nyonya" kata anata seraya membungkukkan badannya.
Anita hanya mengangguk dan menggenggam tangan pria di sampingnya.
Anata yang masih ingat dengan zola pun membelalakkan matanya. Ternyata sekarang anita sudah mulai keterlaluan!!
__ADS_1
"M-maaf nya mau tanya, itu siapa ya?" tanya anata pura-pura tak kenal dengan zola.
"Dia pacar saya" jawab anita dengan santainya seraya menyuruh zola untuk masuk duluan.
"Bukannya nyonya sudah punya suami ya?"
"Oh dia? Dia cuman suami dari musuh saya. Jadi kalau kamu butuh bantuan suruh saja dia atau anak-anaknya. Dan satu lagi, kau boleh menyiksa atau tak memberikan mereka makan"
Seketika anata membelalakkan matanya kaget dengan apa yang di ucapkan anita. 'Rupanya dia sangat kejam' batin anata.
"Ya sudah, saya masuk dulu" ucap anita seraya pergi meninggalkan anata yang mematung.
"Huhuhu aku kakak yang buruk" tangis anata ketika anita sudah masuk ke dalam mansion.
Anata menepuk dadanya yang sakit dengan kelakuan sang adik. Jika saja waktu bisa berputar kembali, mungkin ia akan mencari tahu silsilah keluarga mereka sehingga ia dapat merawat adiknya dengan baik.
Tapi apalah daya anata, ia hanya bisa menangis sedih dengan apa yang terjadi pada adiknya.
Di bawah hujan yang mulai turun dengan deras, anata meminta pengampunan pada Tuhannya karena telah menelantarkan sang adik, dan juga karena telah lalai dalam mendidiknya.
"Sudah kau tak salah, itu sudah takdirmu. Kau hanya bisa menjalaninya dengan ikhlas"
Sontak ucapan adnan membuat anata menoleh ke atas. Adnan hanya tersenyum pada anata dan mengulurkan tangannya agar anata segera bangkit.
"Sudah jangan nangis, ini bukan salahmu" ucap adnan seraya menghapus air mata anata. "Masa pengantin nangis waktu mau ijab kabul sih" ledeknya yang membuat anata cemberut.
"Udah ah jangan cemberut gitu, nanti nikahnya ga jadi malah bikin anaknya yang jadi. Emangnya kamu mau gitu?"
Sontak anata menggelengkan kepalanya pertanda ia tak mau.
"Nah, makanya senyum dong" pinta adnan dengan tatapan memelasnya.
Anata yang mendengar permintaan adnan pun langsung tersenyum kecut.
"Ih senyumnya yang ikhlas dong, itu mah ga ikhlas banget" rengek adnan yang membuat anata tertawa dengan tingkah adnan.
"Nah gitu dong, jadi cantik kan kalau ketawa"
"Kamu bisa aja mas" ucap anata yang malu-malu kucing pada adnan.
"Bisa dong, masa nggak. Udah ah, ayo masuk!! Nanti kamu sakit gara-gara keujanan loh" ajak adnan yang khawatir dengan keadaan anata.
Anata menganggukkan kepalanya, dan mereka pun berjalan berdua menuju ke dalam.
Tari yang tak sengaja melihat mereka pun tersenyum tipis.
"Andai caja dia bunda athu, pacti athu cenang memiliki bunda cepeltinya" gumam tari bahagia dengan pemandangan di depannya.
__ADS_1
Bersambung~