Mr. Bodoh & Anak Genius

Mr. Bodoh & Anak Genius
50 (Revisi)


__ADS_3

"Tidaaaak" pekik gerry yang menggema di lantai khusus devisi keuangan.


Semua staff yang mendengar suara gerry langsung gemetaran karena takut jika herry akan melampiaskan amarahnya pada mereka.


Kembali ke ruangan gerry.


Gerry menangis tersedu-sedu karena melihat semua dokumen yang sudah ia manipulasi di sobek-sobek oleh adnan tanpa berperasaan.


"Ini hapus air mata kamu" titah adnan seraya memberikan sebuah kertas kecil yang telah ia robek.


Gerry semakin nangis di buatnya membuat adnan berpikir apa yang membuatnya menangis. Kemudian adnan teringat dengan tari anaknya yang rewel.


Dengan cepat Adnan merogoh sakunya dan mengambil permen kesukaan sang anak. "Ini buat kamu, pasti kamu nangis gara-gara mau permen kan? Nih Adnan kasih" ujar adnan seraya memberikan permen miliknya.


Tanpa malu Gerry mengambil permen itu tanpa melihat kemasannya. Karena rasa kesalnya yang terlalu membuncah gerry langsung menelan permen itu tanpa pikir panjang.


Beberapa saat kemudian perutnya tiba-tiba sakit dan mengeluarkan gas-gas bau membuat adnan menutup hidungnya. Gerry langsung berlari ke toilet yang berada di ruangannya karena sudah tak tahan.


"Oh tadi tuh nangis mau buang air. Ish kenapa ga daritadi aja sih jadikan adnan ga usah kasih permennya adnan" kesal adnan seraya mengambil bungkusannya.


Adnan membaca angka yang tertera pada bungkusan itu karena memang kebiasaan adnan membaca walau ia tak mengerti.


"Satu lima" eja Adnan pelan-pelan.


Karena bingung adnan segera membuang bungkusan itu ke meja salah satu staf. "Nitip yaaa" ucapnya pada meja sebelum ia kembali ke ruangan gerry.


Staff yang baru saja selesai makan siang dan duduk di mejanya pun heran karena ada sampah padahal sebelumnya tak ada.


Ia membolak-balikkan sampah itu dan terkejut melihat tanggal expired di situ. "Waduh ni sampah harusnya di buang dari tiga bulan yang lalu pantes aja ada di meja gue" gumamnya sambil membuang sampah itu.


......................


"Loh bunda ayah mana?" tanya nathan pada bundanya yang baru saja kembali tanpa sang ayah.


"Ayahmu lagi main sama tikus nakal. tenang aja dia bakal baik-baik saja kok" ucap bunda nana yang tau kekhawatiran dari anaknya.


Seketika pikiran arya dan angkasa traveling ke suatu hal dan tak lama kemudian mereka bergidik ketakutan membayangkan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Aman tenapa?" tanya tari yang melihat kedua pamannya tiba-tiba bergidik-gidik.


"Enggak papa kok cuman ngebayangin hal yang terjadi aja" ucap angkasa mengelak.


Tari hanya menganggukkan kepalanya polos dan kembali berkutat dengan ponsel yang baru di berikan bundanya.


"Kakak ngehukum si gerry salut gosong?" tanya angkasa dengan nada bisik-bisik sehingga di dengar oleh bunda nana saja.


"Iya, suruh siapa dia korupsi jadinya kakak nyuruh nanan buat ngerjain pak gerry salut gosong" jawab bunda nana dengan nada yang berbisik-bisik juga.


Angkasa mengangguk dan kembali pada layar monitor di depannya karena ternyata kamera terbang milik angkasa sudah sampai di istana.


"Hati-hati jangan sampai kamu membuat kesalahan" pesan bunda nana sebelum ia fokus kembali pada laptopnya yang menampilkan data-data perusahaan.


Angkasa mengangguk dan terus fokus pada bagiannya. Sedangkan yang lain juga sama-sama fokus pada bagian mereka.


Untuk buna ara dan dika sendiri mereka harus berpura-pura menjadi ceo perusahaan lv karena kemungkinan besar raja Edward mengetahui perusahaan itu.


"Nona gawat" pekik sekertaris bunda nana yang menyelonong masuk.


"Gawat kenapa?" tanya bunda nana penasaran.


"Suruh mereka ke ruangan ku yang lama dan seperti yang ku bilang kemarin kau harus berpura-pura menjadi sekertaris nya ara. Dia yang bakal menjadi ceo jika didepan mereka" jelas bunda nana serius.


Sekertaris itu mengangguk dan pergi dari sana. Bunda nana segera mengambil iPad miliknya dan menghubungkan nya dengan cctv yang berada pada ruangannya yang lama.


"Halo ara mereka akan segera datang cepat bersiap" ucap bunda nana lewat sambungan telpon.


Buna ara mengangguk dari seberang dan menutup ponselnya. Benar saja tak berselang lama beberapa orang datang dengan membawa alat-alat tajam.


"Selamat datang di lv company yang mulia" sapa buna ara pada raja Edward.


Kening raja edward dan asistennya seketika mengkerut ketika melihat dua orang yang tak mereka kenali.


"Anda siapa?" tanya asisten raja edward yang tak tahu siapa wanita yang di depannya.


"Perkenalkan saya vliara dan ini asisten saya dika" ucap buna ara memperkenalkan diri.

__ADS_1


Raja edward menarik asistennya dan membisikkan sesuatu di telinganya. Setelah itu asistennya pun menggelengkan kepala.


Buna ara yang melihat itu hanya menerka-nerka apa yang di bisikannya.


"Sejak kapan kau menjadi CEO di sini?" tanya raja Edward.


"Baru beberapa bulan yang mulia. Sejak perusahaan ini di ambang kebangkrutan saya membeli perusahaan ini dan mengelola nya supaya kembali stabis" jelas buna ara.


Buna ara berakting dengan lihai seperti artis profesional sehingga tak membuat raja edward dan asistennya curiga padanya.


"Jadi apa yang bisa kami bantu yang mulia?" tanya buna ara yang sudah jengah di tanya-tanyai oleh mereka berdua seperti narasumber yang kepincut wartawan.


"Apakah anda berniat menjual perusahaan ini nona vliara?" tanya asisten raja edward mewakili sang tuan.


"Tidak, ini perusahaan masih banyak keuntungannya. Untuk apa coba aku menjualnya? Yang ada aku rugi lagi"


"Saya setuju dengan nona vliara. Atas dasar apa anda ingin membeli perusahaan LV?" tanya dika yang membuat bunda nana semakin memasang telinga di ruangannya.


"Hanya karena ini perusahaan warisan saja" jawab raja edward singkat seraya pergi tanpa sepatah kata lainnya.


Semua pengawalnya pun langsung ikut membuntutinya begitupun asistennya. Buna ara menghela nafas seraya mengacungkan jempol pada adiknya itu.


Dika pun membalas acungan jempol itu. 'Untung kakak sempet ganti penampilan kalo nggak mereka bakal tahu kalo kakak yang waktu itu membantu putri dan para pangeran' batin Dika lega.


Mereka berdua memutuskan untuk kembali ke ruangan rahasia yang di hanya dipakai jika ada keadaan darurat.


Di sana bunda nana telah menunggunya seraya tersenyum manis. Bunda nana langsung memeluk sahabatnya yang baru saja tiba di ruangan rahasia setelah menjalankan misi yang cukup berbahaya.


"Makasih ra"


"Ga usah makasih kamu udah aku anggep adek" ucap buna ara seraya membalas pelukan bunda nana.


Bunda nana mengangguk dan melepaskan pelukannya. Ia juga berterimakasih kepada dika yang telah membantunya juga.


Dika hanya tersenyum dan mengangguk tanpa berniat untuk membuka suaranya. Dika duduk di sofa dan mengvideo call anaknya yang di asuh oleh orang tua angkatnya.


Jujur saja dika sangat merindukan anaknya itu. Tapi apa boleh buat kini ia harus berpisah dengannya sampai dia selesai membantu sahabat kakaknya.

__ADS_1


Bersambung~



__ADS_2