Mr. Bodoh & Anak Genius

Mr. Bodoh & Anak Genius
34 (Revisi)


__ADS_3

Arya berjalan menuju tempat duduknya dan mengambil jas yang tadi sengaja ia simpan di sana. Ia langsung keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju suster khusus yang ditugaskan untuk menjaga kedua orang tersayangnya.


"Saya akan pergi dulu, kau jaga kakak dan keponakanku dengan baik jika tidak bersiap kehilangan pekerjaan mu" ucapnya dengan nada dingin sambil meninggalkan suster itu.


Arya langsung berjalan menuju parkiran mobil dimana asistennya telah menunggunya. Benar saja sesampainya di sana ia sudah di sambut oleh sang asisten.


Asisten itu membukakan pintu mobil untuk arya dan memutari mobil untuk duduk di depan kemudi. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju tempat yang arya tuju.


Selang 50 menit mobil itu pun masuk ke perkarangan mansion yang cukup mewah. Namun bagi arya mansion itu tak terlalu fantasis karena harga mansion yang lebih murah di banding dengan mobilnya.



Mobil yang ditumpangi arya pun berhenti tepat di depan pintu masuk. Arya langsung turun tanpa di bukakan pintu oleh asistennya. Ia berjalan masuk ke dalam dengan penuh wibawa dan tak lupa juga sebelum masuk ia mengucapkan salam.


"Malam semua" sapa arya saat masuk ke ruang keluarga.


"Malam" balas semua orang di sana.


Arya langsung di sambut baik oleh buna ara dan yang lainnya sedangkan tari dan adnan hanya duduk diam karena tak tahu siapa yang datang.


Airin yang melihat pamannya pun mengkerut kan alis antara kenal dan tak kenal. Buna ara yang mengerti dengan hal itu pun meminta arya untuk berkenalan dengan airin.


"Halo girl" sapa arya sambil mensejajarkan tinggi badannya dengan tinggi airin.


"Halo aman" balas airin sambil tersenyum polos.


"Nama kamu siapa girl?" tanya arya yang pura-pura tak tahu nama keponakannya.


"Ailin" jawab airin dengan senyum yang menampilkan gigi ompong nya.


"Airin? nama yang bagus girl. Salam kenal uncle arya" ucap Arya sambil mengulurkan tangannya.


"Calam thenal uga uncle pepaya" balas airin seraya menjabat tangan arya.


"Hahaha"


Semua orang tertawa mendengar airin yang memanggil arya dengan sebutan pepaya. Sedangkan arya yang dipanggil pepaya hanya mencebikkan bibirnya kesal dan menatap sang kakak dengan tatapan tajam.


"Biasa anak kecil" ucap buna ara yang tau arti dari tatapan itu.


Arya hanya mendengus kesal sambil membuang pandangannya. Namun pandangannya justru terkunci pada sosok anak perempuan yang duduk tak jauh dari dirinya.


Arya berjalan menghampiri anak perempuan itu dan duduk di sampingnya. Seluruh anggota keluarga yang melihat itu hanya diam saja. Sedangkan angkasa sudah menyiapkan ponselnya untuk merekam apa yang terjadi.


"Halo babby girl" sapa arya pada anak perempuan itu.

__ADS_1


"Halo uga aman" balas anak itu yang tak lain adalah tari keponakan arya dari anata.


"Namamu siapa girl?" tanya arya pada tari.


"Tali" jawab tari dengan suara pelan karena baru pertama kalinya ia dekat dengan seorang pria tampan selain ayahnya.


"Tali? or tari?" tanya arya lagi.


"Ang thedua" jawab tari yang tahu bahwa pria disampingnya tak mengerti apa yang ia ucapkan.


"Nama yang bagus seperti orangnya" ucap Arya yang membuat pipi tari merona.


Sontak semua orang tertawa dengan tingkah tari yang sangat menggemaskan namun berbeda dengan vyano. Ia menatap pamannya dengan tatapan kesal.


"Kenapa tu muka yan?" tanya el yang sekilas melirik ke arah vyano.


"Kagak papa" elak vyano yang tak mau ketahuan sedang cemburu terhadap pamannya.


"Dia tuh cemburu el" celetuk al dan angkasa menggoda vyano.


"Dih cemburu? Ga level" ucap vyano yang gengsi.


Arya yang dapat melihat kecemburuan di mata keponakan angkatnya pun langsung memiliki ide jahil. Arya langsung menggendong tari dan di dudukannya tari di atas pangkuannya.


"Paman ga boleh gitu ga baik!!" tegur vyano yang semakin menampilkan kecemburuannya.


Buna ara yang melihat itu hanya terkekeh dan terbayang kenangan masa lalu yang sekarang hanya ada di ingatannya saja.


Grandma glaudi yang melihat kesedihan yang tersirat di dalam mata anak angkatnya pun langsung merangkul nya. "Jangan sedih meski ia telah pergi tetap ada kami yang berada di sampingmu" ujar grandma glaudi yang ditanggapi senyuman oleh buna ara.


"Adnan juga bakal ada di samping ara kok. Ga bakal jauh-jauh soalnya takut nyasar" timpal Adnan yang tak tahu apa arti dari kata-kata grandma glaudi.


"Hahaha"


Semua orang tertawa mendengar ucapan adnan yang menurut mereka konyol dan tak nyambung. Sedangkan arya yang melihat itu hanya tersenyum tipis.


"Kalau nyasar ke hati kak nana mau gak kak adnan?" tanya Arya yang membuat Adnan berpikir sejenak.


"Ngga mau, mau nya nyasar ke tempat nana aja biar bisa ketemu" ucap adnan sambil tersenyum malu-malu.


"Waduh mister bodoh nya lagi kemasukan setan bucin haha" celetuk buna ara yang langsung ditanggapi tertawaan semua orang.


Adnan yang tak mengerti dengan ucapan buna ara hanya ikut tertawa saja padahal ia tak tahu bahwa semua orang tengah menertawakan dirinya.


"Nathan kemana ya? Adnan kangen sama nathan" ucap adnan tiba-tiba.

__ADS_1


Buna ara dan angkasa menatap arya. Sedangkan yang ditatap hanya diam dengan wajah datarnya.


"Mungkin lagi sibuk di kampus" ucap vyano sekenanya.


"Ngga nathan ada urusan sama kampusnya selama beberapa hari dia harus keluar kota" jawab vyunda yang membuat semua orang menatapnya dengan penuh tanya.


Vyunda tersenyum kikuk sambil menunjukkan ponselnya dimana nathan mengirim pesan bahwa ia ada urusan di kampus bersama dosen lainnya.


Semua orang mengangguk kecuali buna ara dan angkasa yang menatap arya dengan tatapan tajam namun penuh pertanyaan. Arya hanya mengangkat sebelah tangannya seolah tunggu meminta untuk menunggu sebentar.


Namun gerakan arya ternyata terbaca oleh vyano dan tari. Tentu saja mereka berdua penasaran dengan apa yang akan di bicarakan mereka.


Hari pun menjelang larut malam. Semua orang mulai masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Namun tidak dengan buna ara dan juga angkasa. Mereka bertiga memutuskan pergi ke ruang makan. Tanpa di sadari oleh mereka tari dan juga vyano mengikuti mereka.


Di ruang makan


Buna ara, angkasa dan arya duduk di salah satu kursi yang berada di sana. Namun berbeda dengan tari dan vyano, mereka berdua justru bersembunyi di bawah meja makan untuk mendengar apa yang para orang dewasa itu bicarakan.


"Apa yang terjadi?" tanya buna ara membuka topik.


"Sebenarnya nathan ga di luar kota melainkan di rumah sakit. Pesan tadi aku yang kirimkan" ujar arya yang selalu jujur pada kakaknya.


"Rumah sakit? Emangnya keponakan kenapa?" tanya angkasa yang tak tahu apa yang terjadi.


"Dia trauma sama kak zion sekaligus dia harus di rawat intensif karena luka di tubuhnya" jawab Arya.


"Tunggu kak zion? kakak kandung ku bukan sih?" tanya angkasa memastikan bukan kakaknya yg arya maksud.


"Iya kakak kandung mu pangeran zion kenzo lukyanova" jawab arya yang membuat angkasa terbelalak.


"Ga mungkin kak, kak zion kan orang baik" ucap angkasa tak percaya dengan yang diucapkan arya mengingat kakaknya selalu baik padanya walau itu sudah sangat lama.


"Terserah" kata arya dengan cueknya.


Di bawah meja.


deg


"Bang nathan di lawat di lumah cathit?" gumam tari yang terkejut sekaligus khawatir pada sang abang.


Tari memeluk vyano dan menangis dalam pelukannya. Dengan cepat vyano menghapus air mata tari.


"Jangan menangis masih ada aku yang berada di sisimu"


Bersambung~

__ADS_1



__ADS_2