Mr. Bodoh & Anak Genius

Mr. Bodoh & Anak Genius
38 (Revisi)


__ADS_3

Selang beberapa menit nathan pun menguraikan pelukannya dan menatap bundanya yang masih terbaring lemah di ranjang samping.


"Bunda kedua anakmu sekarang berada di sini, cepatlah sadar agar kamu dapat melihat kami bunda" gumam nathan dalam hati.


Tari yang terus mengoceh tetapi tak di gubris oleh nathan pun langsung mendengus kesal dan ikut menatap ke arah pandangan nathan.


Seketika tari sadar bahwa di ruangan itu ada orang lain yang di rawat selain abangnya. Namun detik kemudian tari mengangguk-anggukkan kepalanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Abang paman, apa dia bunda tali?" tanya tari dengan suara yang terdengar parau.


Arya yang sedari tadi fokus dengan ponselnya di sudut ruangan langsung menatap tari sekilas kemudian menatap nathan yang tak terusik untuk menatap ibunya.


"Ya itu bundamu" jawab arya pada akhirnya.


Tanpa aba-aba tari langsung lompat dari ranjang nathan membuat nathan yang sedari tadi menatap bundanya terhenyak kaget. Namun detik kemudian ia tersenyum tipis ketika melihat adik kecilnya yang berusaha untuk naik ke atas ranjang bundanya.


Arya yang melihat itu pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan mengangkat tubuh kecil tari. Dengan perlahan-lahan dan hati-hati arya meletakkan tari di samping kakaknya dengan posisi yang senyaman mungkin.


"Bunda" panggil tari dengan mata yang berkaca-kaca.


Tari memeluk tubuh sang bunda yang terbaring lemah dan tentu saja itu menjadi perhatian arya dan nathan. Arya dan nathan menatap tari dan putri evelyn dengan mata berkaca-kaca karena terharu.


"Bunda lihatlah kedua anakmu ini. Sekarang mereka ada di sisimu apa kau tak ingin melihatnya? Ayo bunda cepat bangun dan gantikan waktu yang terbuang karena paman kejam itu" ucap nathan dalam hati.


Paman kejam? Ya itu julukan nathan untuk zion. Kekejaman dan kesadisan zion membuat nathan ketakutan dan menjuluki zion dengan julukan paman kejam.


tok tok


Ketukan pintu membuat arya dan nathan yang awalnya fokus menatap tari kini menatap pintu yang sedikit terbuka.


"Masuk" sahut arya dengan nada dingin.


Mendengar sahutan dari dalam sang pelaku yang mengetuk pintu pun langsung masuk dengan seorang wanita yang mengekorinya.


"Buna ara" ucap nathan ketika melihat buna ara masuk ke dalam ruang rawatnya.


"Hai nathan" sapa buna ara yang langsung menghampiri nathan tanpa mempedulikan keberadaan adik adik-adiknya.

__ADS_1


"Gimana kabarmu dan bundamu?" tanya buna ara perhatian kepada mereka.


Nathan tersenyum tipis dengan perhatian buna nya itu.


"Nathan udah mendingan tapi bunda ga bangun-bangun" jawab nathan sendu sambil menatap nanar bundanya yang masih di peluk dengan erat oleh tari.


"Yang sabar ya, bundamu itu orang yang kuat bahkan dia jarang ngeluh meski dia pernah di sakiti sama orang sekitarnya" ujar buna ara sambil menenangkan nathan.


Nathan mengangguk kecil dan menatap bundanya lagi.


"Gini nih nasib nengokin orang sakit. Suka di cuekin" ujar angkasa yang langsung diangguki arya.


Buna ara langsung melotot ke arah angkasa dan arya sebentar. Namun detik berikutnya ia kembali fokus pada nathan.


Nathan yang awalnya tak sadar dengan keberadaan angkasa pun langsung gemetar ketakutan ketika menyadarinya. Arya yang menyadari itu langsung berjalan cepat dan memeluk nathan untuk menenangkannya.


Buna ara yang tak tahu dengan apa yang terjadi pun memutuskan untuk duduk di samping angkasa dan membiarkan arya memeluk nathan.


"Itu nathan bukan sih? Tapi kok beda sama cerita kakak?" tanya angkasa dengan nada berbisik.


Tari yang awalnya memeluk bundanya pun perlahan-lahan mengurai pelukannya dan menoleh ke arah abangnya yang sedang di peluk oleh arya.


"Abang thenapa?" tanya tari.


Arya tak menjawab pertanyaan tari dan tetap memeluk nathan supaya lebih tenang. Buna ara langsung memberi kode agar tari diam hingga nathan mulai tenang. Tari pun langsung mengangguk menanggapi kode dari buna angkatnya.


"Hiks paman nathan takut hiks" ucap nathan sesenggukan.


Tari yang melihat sang abang nangis untuk pertama kalinya pun heran dan bingung sekaligus iba dengan abangnya.


"Abang anan nanic ntal tali uga ithutan nanic hikc" ucap tari yang ikut menangis.


Translate : Abang jangan nangis ntar tari juga ikutan nangis hiks.


Entah kenapa melihat abangnya menangis itu membuatnya tersakiti dan malah ikut menangis. Kedua anak itu menangis sesenggukan dengan alasan yang berbeda. Dengan cepat buna ara menghampiri tari dan mengelus-elus punggung nya agar lebih tenang.


Hingga…

__ADS_1


"Bundaa" pekik tari yang merasakan pergerakan dari bundanya.


Angkasa langsung menghampiri ranjang tari dengan cepat sedangkan buna ara langsung menekan tombol. Benar saja mata yang selama 2 hari ini terpejam akhirnya terbuka kembali.


Tari yang memang tak terlalu mengenalinya wajah bundanya pun hanya bisa tersenyum manis. Putri evelyn menatap sekitarnya dengan perlahan-lahan dan memindai dimana tempat itu.


"Rumah sakit" gumam putri evelyn.


"Iya na kamu di rumah sakit" ucap buna ara yang mendengar gumaman putri evelyn.


Tak berselang lama dokter sinta pun masuk dengan para suster perempuan yang mengekori dari belakang.


Buna ara, tari dan angkasa memutuskan untuk keluar sedangkan arya akan tetap menemani nathan di dalam.


Setelah angkasa dan yang lainnya keluar nathan pun mulai tenang dan perlahan-lahan terlelap damai di pelukan arya.


"Bagaimana keadaan kakak saya dok?" tanya arya setelah nathan tertidur pulas.


Seketika dokter sinta menoleh ke arah arya.


"Kamu" pekik dokter sinta tak percaya bahwa pasien pentingnya adalah keluarga dari orang yang di hindarinya.


"Bagaimana keadaan kakak saya?" tanya arya lagi dengan nada dingin seperti biasanya.


"Adeek" tegur putri evelyn yang pura-pura tak suka jika adiknya dingin dengan seorang perempuan.


"Maaf kak" ucap arya enteng dan kembali menatap dokter sinta.


"Dokter sinta yang cantiiiiik dan juga aneh gimana keadaan kakak saya?" tanya arya dengan suara yang dibuat selembut-lembut mungkin.


deg


Cantik. Kata itu mampu menggetarkan hati dokter sinta. Dokter sinta melamun sendiri seraya tersenyum-senyum membuat arya kesal dan ingin menyentil kepala dokter sinta.


Bersambung~


__ADS_1


__ADS_2