Mr. Bodoh & Anak Genius

Mr. Bodoh & Anak Genius
35 (Revisi)


__ADS_3

Tari menatap vyano seraya menganggukkan kepalanya.


Di atas meja.


"Terus gimana sama nana?" tanya buna ara yang tak puas dengan cerita arya.


"Nana siapa kak?" ucap arya kembali bertanya karena tak tahu siapa nana.


"Nana itu kak evelyn" jawab angkasa yang membuat arya mengerutkan keningnya.


"Iya gimana keadaan evelyn?" ucap buna ara mengulangi pertanyaannya karena arya hanya diam dengan kening mengkerut.


"Kakak kritis di rumah sakit karena terkena tembakan" jawab arya sendu.


Buna ara dan angkasa menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang mereka dengar.


Sedangkan tari yang berada di bawah meja berusaha mengingat-ingat siapa yang bernama nana.


"Kamu tahu siapa itu nana?" tanya vyano pada tari dengan nada berbisik.


"Tali pelnah denel itu nama tapi tali lupa" jawab tari dengan nada berbisik juga.


"Coba inget-inget dulu" titah vyano dan langsung di angguki tari.


Kembali ke atas meja.


"Terus gimana kondisi kak adnan kak?" tanya arya yang penasaran dengan keadaan sang kakak ipar.


"Kondisinya tak pernah berubah tetap sama" jawab buna ara sendu.


"Hahhh"


Arya membuang nafas kasar dan mengambil gelas yang sudah berisi air minum sebelumnya. Dengan cepat arya meneguk air itu hingga tandas.


"Sebaiknya kita rahasiakan ini dulu dari tari dan adnan"ucap arya yang langsung diangguki buna ara dan angkasa.


"Tapi lambat laun kita harus memberi tahu kannya kasihan mereka sudah terpisah dua tahun lebih" ujar buna ara.


"Iya kak, tunggu kak evelyn sadar dulu aja baru kita pertemuin mereka" timpal angkasa.


Arya mengangguk menyetujui usulan adik dan kakaknya.


"Gimana perusahaan kak ara?" tanya arya yang ingat dengan tujuan awal mereka.


"Sudah ku urus kak, cuman sulit buat dapetin perusahaan grance kembali soalnya perusahaan nya atas nama bang axelo"


Bukan buna ara yang menjawab melainkan angkasa yang diutus untuk pergi ke perusahaan GLA company.


"Ohh tapi kalau perusahaan leonard udah di ambil alih kan?" tanya arya lagi.


"Perusahaan Leonard udah ada di tangan kakak sekarang" jawab buna ara dengan senyum manisnya.


"Huaaa nana itu bunda talii"


Suara tangisan tari yang melengking membuat angkasa ,, arya dan buna ara saling pandang.


"Apa kalian dengar suara itu?" tanya buna ara yang langsung di angguki keduanya.


"Sepertinya suaranya dari bawah meja kak" jawab angkasa menunjuk arah bawah.

__ADS_1


Mereka bertiga menoleh ke arah bawah meja dan terkejut ketika mendapati tari yang sedang menangis sambil memeluk vyano.


"Kalian ngapain di situ?" tanya angkasa yang tak habis pikir dengan kedua keponakannya.


"Habis nyari kucing kak" jawab vyano asal.


"Ga masuk akal jawabannya, cepet keluar. Itu kenapa tari nangis? Kamu apain vyan?" tanya buna ara yang melihat anak sahabatnya menangis sesenggukan di pelukan sang anak.


"Ngga vyano apa-apain kok Bun. Tari nangis soalnya kejedot meja" jawab vyano kembali ngasal.


"Udah keluar kalian" titah arya dengan nada dingin.


Vyano mengangguk dan keluar dari bawah meja dengan tari yang masih terus memeluk nya.


dug


"Awww" ringis vyano ketika kepalanya terhantuk meja.


"Nah kan, omongan jadi kenyataan. Makanya jangan ceplas-ceplos" ujar angkasa yang membuat kakak-kakaknya geleng-geleng kepala.


Arya mengambil tari yang tak mau lepas dari vyano dengan paksa dan langsung menggendongnya.


"Bukan muhrim jangan nemplok mulu" ketus arya yang sudah berhasil menggendong tari.


"Gapapa lah paman yang penting anget di peluk" balas vyano tanpa sadar.


Buna ara langsung melotot mendengar ucapan anaknya sedangkan yang di pelototi cengengesan tanpa merasa bersalah.


"Cik kecil-kecil udah main cinta-cintaan" cibir angkasa yang belum punya pacar.


"Daripada udah tua belum punya pasangan" balas vyano tak mau kalah.


Arya berdehem karena merasa tersindir oleh vyano. Vyano yang sadar akan itu pun menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.


"Para jomblo tersinggung nih" celetuk buna ara dengan senyum menggodanya.


Tari yang merasa terabaikan pun terus menangis di pelukan arya membuat keempat orang itu berusaha tuk menenangkannya.


"Kenapa nak? laper? atau mau minum susu?" tanya buna ara menawarkan makanan dan minuman kesukaan tari.


"Bun tari tuh bukan bayi yang bisa di sogok makanan" ucap vyano menepuk jidatnya.


Buna ara cengengesan karena memang benar apa yang diucapkan oleh anaknya. Sedangkan vyano memutar bola mata malas.


"Kamu kenapa hm?" tanya arya dengan suara yang lembut.


"Cik ke keponakan aja lembut tapi ma adek sendiri malah galak plus dingin" cibir angkasa.


"Kalau saya lembut ke anda, yang ada anda bakal ngelunjak" balas arya dengan tatapan sinisnya.


Buna ara terkekeh mendengar ucapan arya yang terkesan tak mau kalah dengan angkasa sedangkan angkasa ia sudah mengumpat abangnya itu dengan segala umpatan yang hanya ia lontarkan di dalam hati saja.


"Aman than bunda cama nathan agy athit jadina tali cedih dan nanic" ucap tari di sela-sela tangisnya.


Translate : Paman kan bunda sama nathan lagi sakit, jadinya tari sedih dan nangis


Arya, angkasa dan buna ara terkejut mendengar ucapan tari dan langsung menatap vyano dengan tatapan tajam dan mengintrogasi.


"Kalian nguping?" tanya buna ara dengan nada dingin miliknya.

__ADS_1


Vyano cengengesan mendengar pertanyaan buna nya dan mengangguk kecil. Angkasa arya dan buna ara menghela nafas dengan tingkah kedua anak itu


"Pantas saja tari nangis" ucap buna ara menghela nafas kasar.


Arya hanya bisa mengelus-elus punggung tari yang bergetar karena menangis dan menunggu nya hingga tenang.


srrrrrt


Tari mengelap ingusnya di jas arya. Semua orang langsung jijik melihat jas arya yang penuh dengan cairan hijau kental. Sedangkan arya yang sebenarnya jjjjk pun hanya bisa menghela nafas kasar.


"Iuh jijik banget jas kakak" ucap angkasa yang terus menatap pada cairan itu.


"Kalau jijik ga usah di liatin jamal" seru buna ara dengan tatapan malasnya.


Angkasa menampilkan deretan giginya pada buna ara.


"Udah jangan nangis yaa, sekarang udah malem nih mending kamu tidur" ucap arya sambil mengelus puncak kepala tari.


"Tapi beco bawa tali te tempat abang cama bunda yaa aman" ucap tari sambil mengangkat jari kelingkingnya tanda meminta janji.


Translate : Tapi besok bawa tari ke tempat abang sama bunda ya paman.


Arya mengangguk dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking tari.


"Udah sana tidur yaa" titah arya lagi.


Tari menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan mengalungkan tangannya di leher arya.


"Dendong the thamal" cicit tari yang membuat vyano melotot ke arahnya.


Translate : Gendong ke kamar


"Iya paman gendong kamu ke kamar" ucap arya sambil membalas tatapan vyano dengan tatapan yang tak kalah tajamnya.


"Kamu juga tidur vyan" titah arya dengan suara yang kembali dingin karena tatapan tajam dari vyano.


"Tidur sekamar sama tari?" tanya vyano dengan tampang bodohnya.


"Mau paman cekek hm?" balas arya sambil merenggangkan otot tangannya yang sebelah kiri.


glek


Vyano langsung menggelengkan kepalanya dan berlari. Namun beberapa saat kemudian vyano kembali dengan tampang kebingungan.


"Kamarnya dimana ya bun?" tanya vyano yang lupa menanyai letak kamarnya.


Angkasa tergelak dengan pertanyaan vyano sedangkan buna ara menggelengkan kepalanya dengan tingkah putra sulungnya itu.


"Kamar kamu ada di lantai dua kamar yang ke tiga sebelah kiri" jawab buna ara lugas.


Vyano mengangguk dan kembali berlari menuju kamar yang telah buna nya sebut.


"Kak tari tidur sama kakak aja ya" ucap arya yang tak tega jika keponakannya tidur sendiri.


Buna ara mengacungkan jempolnya sebagai jawaban. Mereka berempat pun bangkit dan pergi menuju lantai dua untuk beristirahat.


Bersambung~


__ADS_1


__ADS_2