
Arya membaringkan tubuh kecil nathan yang sedang pingsan dan dokter itu pun langsung memeriksa keadaan nathan dengan intensif.
"Apakah ini anak bapak?" tanya dokter perempuan iitu setelah memeriksa nathan.
Seketika arya membuka kamera ponselnya dan memeriksa wajahnya.
Sontak saja hal itu membuat dokter itu heran sekaligus bingung dengan tindakan arya.
"Apa saya udah keliatan tua ya dok?" celetuk arya yang membuat dokter itu bersusah payah menahan tawanya.
"Tidak tuan, saya memanggil anda bapak karena saya mengira anda adalah orang tua dari anak tersebut" ujar dokter itu yang membuat arya menghela nafas lega.
"Dia bukan anak saya" ucap arya singkat dengan nada dinginnya.
Seketika dokter itu menatap arya dengan tatapan mengintimidasi. "Jangan-jangan bapak yang nyulik anak itu terus bapak siksa ya?" tuduh dokter itu mengada-ada.
Arya memutar bola matanya dan menurunkan telunjuk dokter perempuan itu. "Cik dia keponakan saya" ucapnya yang langsung di angguki dokter itu.
"Oh gitu" ucap dokter itu memangut-mangut.
"Gimana keponakan saya?" tanya arya yang membuat dokter itu tepuk jidat karena lupa menyampaikan keadaan nathan.
"Hadeh kebiasaan kamu sin sin, bukannya ngasih tau keadaan pasien malah ngobrol sama walinya" ucap dokter yang sering di panggil dengan panggilan dokter sinta
"Jadi gimana?" tanya arya lagi karena dokter sinta tak kunjung menjawab tapi malah menggerutu.
Dokter sinta menghela nafas dan menatap ke arah ranjang pasien dimana nathan sedang berbaring lemah di atasnya.
"Sepertinya pasien mengalami trauma yang cukup mendalam tetapi untuk luka-lukanya sudah saya obati" ucap dokter sinta dengan nada yang cukup serius.
"Oh"
Hanya kata itu yang terucap dari mulut arya dan langsung mendapatkan tatapan heran dari dokter sinta. Arya merogoh ponselnya dan menekan beberapa tombol. Setelah menekan tombol itu arya meletakkan ponselnya di telinga nya.
"Urus administrasi perawatan kakak dan keponakanku sekarang" titah arya sambil menutup panggilan itu secara sepihak.
Dokter sinta yang berada di sisi arya dan melihat kelakuan arya yang tak sopan pun langsung mengomel-ngomel tak jelas. Namun percuma saja karena orang yang diomeli nya itu malah acuh dan meninggalkan nya.
Arya berjalan menuju ranjang nathan. "Cepat sembuh nak" ucapnya sambil mengecup kening nathan dengan jangka yang cukup lama.
Dokter sinta yang melihat sisi baik arya pun tanpa sadar tersenyum. "Pengen banget deh punya suami yang dingin di luar tapi hangat di dalam kayak anda" ujar dokter sinta tanpa sadar.
Arya tersenyum tipis dan hendak pergi keluar dari UGD untuk menemui asistennya. "Sebaiknya anda jangan menghalu menjadi istri saya" ucap arya dengan nada dingin sebelum benar-benar pergi meninggalkan dokter sinta.
__ADS_1
Seketika dokter sinta kaget dan terbuyar dari lamunannya. Malu, hanya kata itu yang dapat di ungkapkan oleh dokter sinta.
Dokter sinta langsung keluar dari ruang UGD. Namun sebelum meninggalkan ruangan itu dokter sinta menoleh ke kanan-kiri memastikan bahwa ia tak bertatap muka dengan pria yang tadi di harapkannya menjadi suaminya.
Setelah merasa aman dan tak ada arya, dokter sinta langsung berjalan cepat menuju ruangannya. Arya yang sempat melihat dokter sinta hanya tersenyum tipis dan kembali membicarakan sesuatu dengan asistennya.
"Tuan sebaiknya anda mandi dan ganti baju dulu tuan. Tubuh anda berlumuran dengan darah" ucap asisten arya.
Seketika arya tersadar bahwa tubuhnya sudah terkena darah dari sang kakak. Arya mengangguk dan mengambil paper bag yang dibawa asistennya untuknya.
Arya pergi menuju lift khusus untuk pergi menuju lantai khusus yang sengaja di sediakan untuk keluarga pemilik rumah sakit.
Tanpa sadar arya tersenyum ketika mengingat dokter sinta yang tak sengaja keceplosan ingin mendapatkan suami sepertinya.
"cantik dan polos" gumam arya.
..............
Di rumah adnan.
"Assalamualaikum" ucap angkasa yang sudah berada di depan rumah adnan
"Waalaikumsalam" balas buna ara yang sengaja keluar setelah mendengar salam dari adiknya.
"Kakak apa kabar?" tanya angkasa pada kakaknya itu.
"Seperti yang kamu lihat kakak baik-baik saja" jawab buna ara sambil tersenyum.
"Bagaimana kabarmu dan juga Arya?" tanya buna ara yang ikut menanyakan kabar.
"Aku sama kak arya baik kok" jawab angkasa.
Buna ara ber-oh ria sambil menoleh ke kanan kiri mencari keberadaan adiknya itu. "Anaknya kemana?" tanya buna Ara karena tak menemukan keberadaan arya di sekitar mereka.
"Lagi ada misi kak" jawab angkasa yang membuat buna ara mengkerut kan keningnya.
"Misi apa?" tanya buna ara lagi.
"Ada deh kak" ucap angkasa yang tak mau kakak angkatnya tahu tentang apa yang terjadi.
"Dih main rahasia-rahasia an" cibir buna ara pura-pura marah.
"Hehe. Ga bakal di ajak masuk nih kah?" tanya angkasa yang mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
"Tinggal masuk aja apa susahnya sih" ucap buna ara sambil masuk terlebih dahulu. "Biasanya juga nyelonong masuk" lanjutnya dengan nada pelan.
"Ya bukannya apa-apa sih kak. Cuman takut dilarang sama yang punya rumah" ujar angkasa yang mendengar gerutuan sang kakak.
"Gak akan, sahabat kakak itu baik pake banget jadi kamu ga usah sungkan gitu. Rileks ae, Sans oke" ucap buna ara yang langsung di angguki angkasa.
Mereka berdua masuk dan duduk di ruang depan dimana yang lainnya sedang berkumpul.
"Assalamualaikum" sapa angkasa yang langsung di balas oleh mereka semua kecuali tari yang baru pertama kali mendengar kata itu.
"Waalaikumsalam" balas semua orang yang berada di sana.
Tari menatap airin yang sepertinya tahu untuk membalas kata itu. El yang tak sengaja melirik ke arah tari pun langsung mengerti bahwa tari terasa asing dengan kata yang di ucapkan angkasa.
"Itu namanya salam tar. Kalau ada yang bilang assalamualaikum ya kita harus ngejawab...." ucap el yang terpotong karena di sela adnan
"Wassalamu'alaikum" sela al seraya tersenyum
"Waalaikumsalam paman bukan wassalamu'alaikum hadeuh" seru el sambil menepuk jidat.
"Menjawab lebih baik daripada diam haha" celetuk angkasa.
"Terserah deh kalian mah sama aja" ucap el yang capek beberbicara dengan mereka. Toh lebih baik mengalah bukan?
"Cama gimana tha? Olang dicini ada ang cowok ada uga ang pelempuan" ucap airin yang membuat el semakin capek dibuatnya.
"Tau ah, capek" ketus el sambil menyandarkan punggungnya pada dinding rumah.
"Emangna thatha abic lali-lali yaa?" tanya tari yang tak di jawab oleh el.
"Ish" tari mendesis sebal dengan bibi muda dari sahabatnya itu.
Angkasa terkekeh geli melihat tingkah keluarga itu. Sesaat kemudian angkasa memperhatikan wajah tari yang tampak tak asing bagi angkasa.
Buna ara yang menyadari tatapan itu pun langsung menatap adik angkatnya. "Kenapa dek?" tanya buna ara yang membuat angkasa langsung menoleh.
"Tari mirip sama wajah kak arya kak" ucap angkasa jujur.
Semua orang yang mendengar itu pun langsung meneliti wajah tari. Sedangkan tari yang di perhatikan hanya tersenyum kikuk sambil bersembunyi di punggung airin.
"Kok bisa sama ya?" tanya mereka berbarengan.
Bersambung~
__ADS_1