Mr. Bodoh & Anak Genius

Mr. Bodoh & Anak Genius
68(Revisi)


__ADS_3

Setelah memastikan kedua anaknya aman di dalam kamar, bunda nana dan adnan pun turun ke bawah dan menuju ruangan paman rendy.


Namun baru saja hendak membukakan pintu, terdengar suara keributan yang cukup nyaring.


"Nana kayaknya ada yang marah-marah deh, kita pergi aja yuk" ajak adnan yang ketakutan mendengar suara seorang wanita dengan nada tinggi di ikuti suara seorang pria.


Bunda nana tak menggubris ucapan adnan dan malah membuka pintu ruang rawat paman rendy.


Ceklek


Bunda nana sedikit mengerutkan keningnya namun di detik kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ternyata cuman kedua orang matre yang gila harta" gumam bunda nana seraya berjalan masuk.


Adnan yang awalnya tak ingin masuk ke dalam pun langsung mengekori bunda nana sebelum tertinggal.


"Heh siapa kamu?" tanya seorang wanita paruh baya yang tampak masih cantik namun menyeramkan karena wajahnya yang terlihat galak.

__ADS_1


Paman rendy yang awalnya menatap adik iparnya langsung menoleh ke arah pintu dimana bunda nana sedang berdiri dengan adnan yang bersembunyi di balik punggungnya.


"Saya? Saya orang lah, ya kali setan" ucap bunda nana santai seraya berjalan mendekati ranjang paman rendy.


"Bagaimana paman? Apakah sudah mendingan?" tanya bunda nana pada paman rendy tanpa peduli dengan wanita dan pria yang terus menatapnya dengan tatapan tajam.


"Paman tak baik-baik saja karena mereka ada di sini" ucap paman rendy seraya menundukkan kepalanya.


"Pa-paman , na-nana adnan takut" lirih adnan yang melihat kedua orang itu menatap mereka.


"Heh kalian jangan menatap keponakan ku seperti itu" bentak paman rendy yang membuat mereka terkejut.


"Udah paman jangan marah-marah, nanti sakit paman kambuh lagi" ujar bunda nana menenangkan paman rendy.


"Kalian ke sini mau ngapain?" tanya bunda nana dengan tatapan mengintimidasi.


"Kita? Tentu aja kita kesini mau minta uang ke si pak tua ini, dan satu lagi kita berdua kesini butuh tanda tangan untuk menjual rumah dia yang tak seberapa itu" jelas bibi sandra yang membuat paman rendy terbelalak kaget.

__ADS_1


"Eh kau, kenapa kau mirip dengan almarhum istriku?" tanya tuan ardan yang membuat bibi sandra ikut memperhatikan wajah adnan.


"Yakin almarhum? Bukannya masih hidup tapi di buang sama kalian ya? Upsss" sinis bunda nana tanpa filter dengan tatapan mengejek yang di arahkan untuk kedua orang itu.


Baik bibi sandra maupun tuan ardan mereka berdua sama-sama kaget mendengar hal itu. "Siapa dirimu sebenarnya?" tanya bibi sandra yang tak percaya bahwa yang di depannya itu hanya orang biasa.


"Saya? Saya nyonya adnan alvendra" jawab bunda nana santai namun membuat keduanya kaget.


"Bagaimana mungkin? Anak itu kan sudah meninggal" ucap tuan ardan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.


"Itulah kenyataannya, apakah kalian kaget? hm sebaiknya kalian amankan jantung kalian sebelum aku tuntut ke jalur hukum" ujar bunda nana seraya tersenyum miring.


Adnan menatap bunda nana dengan tatapan tak percaya akan sifatnya. Entah mengapa ia merasa bunda nana yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Bunda nana yang dulu sangat lah ramah dan sopan meski ada yang menyakiti mereka dan tak pernah berbicara sinis seperti itu. Namun kini? Bunda nana jauh dari kata ramah dan sopan menurutnya.


"Kok nana agak sinis ya? Ih serem, jangan-jangan itu bukan nana lagi" gumam adnan di dalam hati.


Bersambung~

__ADS_1



__ADS_2