Mr. Bodoh & Anak Genius

Mr. Bodoh & Anak Genius
24(Revisi)


__ADS_3

Pagi pun menjelang. Semua orang yang tidur di rumah adnan masih terlelap dengan damainya kecuali buna ara , nathan dan vyano yang sudah merencanakan sesuatu di pagi ini tentunya.


Mereka bertiga berjalan dengan perlahan-lahan menuju dapur dan akan berencana memulai rencananya itu di sana.


"Kita mulai rencananya sekarang" intrupsi buna ara.


Meski buna ara bukan termasuk wanita materialistis namun demi harta turun temurun dari keluarga angkatnya membuat buna ara nekat untuk melakukan itu.


"Kita mulai darimana dulu bun?" tanya nathan yang memegang kendali laptop.


"Kita chat uncle arya dan uncle angkasa saja" ucap Buna Ara sambil mengambil alih kendali laptop.


Nathan hanya mengangguk dan memperhatikan buna angkatnya yang sedang memberikan pesan rahasia dengan tulisan angka yang sangat nathan ketahui bahwa itu adalah kode rahasia yang hanya bisa di mengerti oleh beberapa orang saja.


Usai pesan itu terkirim, buna ara mengembalikan kendali laptop itu pada nathan.


"Sekarang kita ambil data-data penting perusahaan dan beberapa saham dan alihkan dengan nama buna" ucap buna ara kemudian. "Tunjukkin materi yang sudah buna ajarkan ke kamu nat" lanjutnya.


Buna ara memang memiliki kecerdasan yang cukup tinggi. Namun mengingat hacker nathan yang baru saja belajar menghacker tetapi belum pernah menggunakan ilmu itu pun membuat buna ara menyuruhnya untuk mempraktekkan apa yang nathan pelajari.


"Biar aku aja bun, takutnya nathan ga bisa." ucap vyano sambil merebut laptop milik nathan.


"Gapapa, aku bisa kok kak" tolak nathan yang ingin menunjukkan kemampuannya.


Dan terjadilah aksi berebut laptop. Baik nathan maupun vyano keduanya saling tidak mau mengalah hingga laptop yang mereka perebutkan terpental ke atas.


Dengan sigap buna ara menangkap laptop itu. "Hampir saja" gumamnya sambil menghela nafas lega.


Nathan dan vyano sama-sama menunduk karena merasa bersalah.


"Apa kalian ingin rencana ini hancur?" tanya buna ara dengan tatapan tajam miliknya.


"Maaf Buna" ucap keduanya dengan posisi masih menunduk.


"Huuh" Buna ara hanya bisa menghela nafas sambil menaruh laptop itu di depan nathan.


"Kamu saja yang mengerjakan" titah buna ara kemudian.


Vyano yang merasa bunanya tak percaya dengan kemampuannya pun mengepalkan tangannya dan menggebrak meja makan sehingga membuat suara yang cukup nyaring dan mengagetkan.


brak

__ADS_1


"Oh my god"


Buna ara mengelus dadanya untuk meredakan rasa kagetnya. Begitu juga dengan nathan yang sama kagetnya.


"Kenapa kamu ngegebrak meja sih nak? Bikin orang kaget aja" gerutu buna ara.


"Bun siapa sih anak buna? kenapa buna lebih percaya ke nathan daripada aku sih bun?" ucap vyano yang tampak cemburu.


"Ciee yang cemburu" ledek nathan dengan tatapan yang menurut vyano sangatlah menyebalkan.


"Mana ada" elak vyano yang tak mau mengaku.


"Dih ga mau ngaku" cibir nathan pelan.


"Udah-udah, vyano bukannya buna tak percaya kamu. Tapi buna mau melihat segimana kemampuan nathan" ujar buna ara yang membuat vyano menganggu paham.


"Udah beres bun" ucap nathan membuat ibu dan anak itu tercengang.


Secepat itu kah nathan?


Buna ara yang tak percaya langsung membaca beberapa berkas dan dokumen milik perusahaannya.


"WOW MENAKJUBKAN!! Aku tak menyangka kau lebih pintar menghacker daripada buna" puji buna ara kagum pada nathan.


Buna ara pun membalas senyuman itu.


"Wah ada apa nih kok jam segini udah pada ngumpul?" celetuk grandma glaudi yang baru bangun akibat suara gebrakan meja.


"Eh ibu, kami disini ngumpul buat rebut perusahaan ayah kembali ke tangan kita bun" jelas buna ara yang membuat grandma glaudi tersenyum manis seketika.


"Wah serius nih? Ayah kamu pasti seneng nih" ucapnya dengan nada terharu. "Tapi gimana sama perusahaan kamu?" lanjutnya.


"Nanti di urus sama arya sama angkasa kok bu" jawab buna ara yang sudah menyerahkan segala urusan perusahaannya pada adik-adiknya.


Grandma glaudi mengangguk dan pamit untuk melakukan ritual paginya di kamar mandi. Sedangkan buna ara memutuskan untuk memasak sambil menunggu balasan dari kedua adik angkatnya.


..................................


Di tempat lain tepatnya di sebuah tempat yang sangat rahasia.


"Kak apakah boleh kami kembali ke kota J?" tanya seorang pria yang baru saja mendapatkan pesan dari kakak angkatnya.

__ADS_1


Dan pria yang di sebelahnya pun mengangguk karena dia juga ingin izin karena hal yang sama.


"Kakak sudah tahu kalian akan mengatakan itu. Kalian boleh kembali ke sana karena identitas kalian ga di ketahui oleh musuh. Tapi ingat pesan kakak. Terus berhati-hati karena musuh kita banyak" ujar sang kakak yang membuat kedua pria itu memutar bola mata malas karena sang kakak terus saja mengingatkan hal yang sama.


"Iya kak kami bakal berhati-hati. Semoga aja keponakan nggak tau siapa kita haha" ucap pria itu sambil mengingat anak sang kakak saat berusia beberapa bulan.


Sang kakak hanya tersenyum tipis menanggapi ocehan adiknya.


Pria yang merupakan anak kedua pun langsung menyenggol lengan adiknya agar diam.


"Kau bisa membuat kakak sedih dengan mengucapkan itu" bisiknya di telinga sang adik.


"Maaf" cicit pria yang merupakan anak terakhir.


"Ya gapapa kok" ucap sang kakak sambil mengelus rambut adik bungsunya yang lebih tinggi ketimbang dengannya.


"Permisi pangeran dan tuan putri, pesawat kalian sudah siap" lapor panglima yang tadi di suruh untuk menyiapkan pesawat pribadi.


"Baiklah kami akan segera kesana" balas pria anak ketiga.


"Kak kami pergi dulu yaa. Jaga diri kakak baik-baik. kami akan segera kembali" pamit keduanya yang langsung diangguki sang kakak.


Keduanya langsung pergi menuju ke bandara dengan penyamaran masing-masing.


"Semoga identitas misiku berhasil" gumam sang kakak.


................................


Kembali ke rumah adnan


Semua orang telah bersiap dan duduk di ruang depan untuk sarapan bersama.


Nathan sudah lengkap dengan seragam dosennya begitu juga dengan vyano yang akan menjadi dosen untuk sementara waktu di sebuah universitas yang tak jauh dari tempat nathan mengajar begitu juga dengan buna ara yang akan mengurus perusahaan leonard yang telah berhasil direbut.


Tak jauh dari keempat orang itu, el, al, tari dan airin pun telah siap dengan seragam sekolah mereka.


Sedangkan yang lainnya memakai baju biasa karena mereka akan diam dan menjaga rumah. Tepatnya menjaga rumah dan adnan.


Semua orang melakukan runitas mereka seperti biasa. Namun kali ini yang mengantar tari dan nathan bukan abang mereka melainkan buna ra yang membuat para murid centil lemas seketika.


Bersambung~

__ADS_1



__ADS_2