Mr. Bodoh & Anak Genius

Mr. Bodoh & Anak Genius
36 (Revisi)


__ADS_3

Pagi hari pun menjelang.


Semua orang telah bersiap untuk memulai hari yang baru dengan lembaran baru pastinya. Tari, airin, vyunda, al dan el telah bersiap dengan seragam mereka.


Meski awalnya tari tak mau sekolah tetapi setelah dibujuk arya tari pun menurut.


Hari ini angkasa akan pergi ke perusahaan bersama buna ara sedangkan arya akan menemani putri evelyn dan nathan di rumah sakit.


Bagaimana dengan vyano? Vyano akan tetap diam di rumah sesuai perintah bunanya yang menyuruhnya untuk menjaga adnan. Sedangkan orang yang di jaga vyano saat ini tengah berlari-lari di taman belakang rumah dimana ada beberapa kelinci berkeliaran di sana.


"Paman hati-hati jatuh" teriak vyano ketika melihat Adnan yang lari-lari mengerjar para kelinci.


Adnan tak menggubris teriakan vyano dan terus berlari hingga…


brugh


Adnan terjatuh karena tersandung batu. Tentu saja hal itu tak luput dari penglihatan vyano. Dengan cepat vyano menghampiri adnan.


"Paman tak apa-apa?" tanya vyano seraya membantu adnan untuk berdiri.


"Sakit" ringis adnan yang memegang lututnya.


Vyano langsung meniup lutut adnan yang berdarah dengan perlahan.


"Ayo paman kita duduk di sana" ajak vyano sambil menunjuk kursi yang berada tak jauh dari sana.


"Hum"


Adnan mengangguk kecil dan berjalan ke arah yang di tunjuk vyano. Dengan setia vyano membantu adnan untuk berjalan.


"Vyano ambil kotak obat dulu ya paman" ucap vyano yang ingin mengobati luka adnan dan adnan pun menganggukkan kepalanya.


Vyano langsung berjalan dengan cepat mengambil kotak obat. Selang beberapa menit vyano pun kembali dengan kotak obat di tangannya.


"Tahan ya paman, mungkin agak sedikit perih" ucap vyano yang hendak meneteskan obat merah pada luka adnan.


tes


Satu tetes pun mendarat di lutut adnan yang berdarah. Tetesan itu justru membuat adnan menangis karena menahan perih.


"Sakit" ringisnya.


Vyano yang iba pun langsung memikirkan cara bagaimana supaya adnan dapat melupakan rasa sakit itu.


"Paman coba vyano mau tanya" ucap vyano yang mulai mengalihkan perhatian adnan dari rasa sakit itu.


"Tanya apa?" balas adnan yang masih memegangi lututnya.

__ADS_1


"Siapa orang yang paling paman cintai?" tanya vyano yang diam-diam mengobati luka kami adnan.


Adnan langsung berpikir sejenak hingga beberapa saat kemudian senyum cerah tercetak jelas di wajahnya.


"Nana" jawab Adnan.


"Nana? mengapa paman mencintai nana? Dan siapa itu nana?" ucap vyano terus menanyai hal-hal yang membuat adnan lupa dengan rasa sakitnya.


"Nana itu orang yang sayang sama adnan sejak adnan masih kecil. Dan cuman bana doang yang bisa menerima keadaan adnan yang tak sepintar dulu. Karena nana juga adnan bisa punya tari dan nathan. Bahkan nana ga pernah marah sama adnan kalau adnan berbuat salah. Enggak kayak bi Surti dia jahat. Adnan salah dikit aja di marahin abis-abisan" jelas adnan dengan polosnya.


"Ohh gitu ya. Tapi sekarang kemana nana nya?" tanya vyano lagi.


"Kerja buat beliin adnan peps*dent" jawab adnan sambil tersenyum polos.


Seketika vyano menahan tawanya dengan jawaban adnan yang menurutnya sungguh konyol.


"Emang peps*dent nya kemana paman?" tanya vyano


"Nda tau. Mungkin di ambil kucing" jawab adnan lagi.


"Buat apa kucing ngambil peps*dent?" ucap vyano yang terus-menerus bertanya


"Buat gosok gigi biar bersih"


Tawa yang sedari tadi ditahan vyano akhirnya pecah seketika.


Adnan mengkerutkan alisnya heran sambil memegangi jidat vyano. Tentu saja tingkah adnan membuat vyano berhenti tertawa dan menatapnya.


"Engga panas tapi kok ketawa sendiri" gumam Adnan pelan namun terdengar oleh vyano.


"Paman kira aku gila?" tanya vyano sambil mendengus kesal.


"Iya kata nana kalau ada yang ketawa sendiri terus jidatnya panas berarti gila" jawab Adnan dengan polosnya.


"Pamaaaan" pekik vyano tak terima di bilang gila.


"Tuh kan tadi ketawa-ketawa sendiri sekarang teriak-teriak. Fiks ini mah, vyano udah gila ihhh serem" ujar adnan sebelum berlari meninggalkan vyano.


Vyano yang biasanya selalu bertingkah dewasa dan tenang menghadapi sesuatu pun sekarang mengumpat-umpat tak jelas dengan sumpah serapah yang hanya dapat ia lontarkan dalam hati saja.


......................


Di sekolah tari.


"Tali thenapa cih thamu mulung teluc?" tanya airin heran saat melihat tari yang biasanya makan dengan cepat kini hanya mengaduk-aduk makanannya saja.


"Mau aku suapin tari?" tawar ray sambil menyodorkan sendok yang berisi makanan.

__ADS_1


Tari langsung menolaknya dan menunduk. Merasa mendapat tolakan ray hanya tersenyum tipis.


"Belum juga start udah di tolak hahaha" ejek rey pada abangnya.


Airin yang tak mengerti dengan apa yang di ucapkan rey pun hanya ikut tertawa.


"Tali nda penen mathan" ucap tari seraya menutup bekalnya.


"Tali mathan ihh dali pagi thamu belum mathan apa-apa loh" bujuk airin yang tak mau sahabatnya jatuh sakit.


Sontak ray menatap tari dengan tatapan khawatir. Entah apa yang kini ray rasakan sehingga begitu peduli pada tari.


Ray melirik saudara kembarnya seolah-olah untuk bangkit dari kursi itu. Rey yang mengerti pun langsung bangkit dan berdiri di samping meja.


"Tari duduk disini" titah ray sambil menepuk-nepuk kursi yang di sampingnya.


Tari mengangguk dan bangkit untuk duduk di samping ray. Rey yang tadinya berdiri pun langsung duduk di kursi tari.


"Thamu napain dudu di cini?" tanya airin yang tak suka dengan keberadaan rey disisinya.


"Gapapa lah, waktu itu aja kamu suka sama aku yang deket sama kamu kok sekarang malah kesal?" tanya rey yang bingung dengan sikap teman beberapa harinya itu.


"Buthan thecal but nda mahu di colet dali calon istlinya bang nathan" jawab airin.


Translate : Bukannya kesal but ga mau di coret dari calon istrinya bang nathan.


Bagaikan tersambar petir di siang bolong rey mematung mendengar ucapan airin yang ternyata menyukai anak lain.


"Jan saling suka masih kecil" tegur ray sambil menatap rey dengan tatapan tajam.


Rey yang memang sudah tidak mood untuk mengobrol pun melanjutkan acara makannya yang tertunda.


"Tari makan dulu ya sebelum masuk ke kelas" ucap ray sambil menyuapkan bekalnya ke mulut tari.


Entah mantra apa yang ray berikan, tari yang awalnya terus menolak untuk makan kini menerima suapan sedikit demi sedikit.


Ray terus menyuapi tari dan dirinya sendiri dengan telaten dan bergantian hingga bekal nya dan juga bekal tari habis di makan mereka.


Tak jauh dari meja itu seorang anak perempuan dengan bando imut di kepalanya menatap tari dengan tatapan tak suka dan memutuskan untuk menghampiri nya.


"Kak lay" panggil gadis itu pada ray.


Ray menoleh sekilas pada gadis itu dan kembali pada aktivitas nya. Tentu saja gadis itu kesal dengan perlakuan ray terhadapnya dan menarik rambut tari dengan keras sebagai pelampiasan kekesalannya


Bersambung~


__ADS_1


__ADS_2