
Keesokan harinya
"Huaaa bundaa athu mahu bundaa huaaa"
Tari menangis dengan kencang membuat semua orang langsung berlarian ke arahnya termasuk adnan yang terganggu tidurnya.
"Tali anan nanic dong huaaa" Bukannya menenangkan sahabatnya, airin malah ikut menangis.
Buna ara menyuruh el dan vyunda untuk menenangkannya di taman belakang sedangkan nathan ia terus mencoba menenangkan adiknya.
"Kenapa nangis de hm? Siapa yang jahat? Bilang sama abang nanti abang marahin dia" ucap nathan so dewasa membuat vyano berpura-pura muntah.
"Huee jijik akoh mendengarnya" ucap vyano dramatis.
"Kalian kalo mau bercanda di luar aja gih bikin berisik aja" sewot grandma glaudi.
Vyano cengengesan sedangkan nathan ia malah menjulurkan lidahnya pada vyano.
"Awas kau nathan" ucap vyano tanpa suara.
Nathan yang dapat tahu apa yang di lontarkan vyano dari gerakan bibirnya hanya meledeknya saja.
"Huaa ayah athu thanen bunda" tangis tari semakin menjadi-jadi membuat vyano dan nathan tersadar dan langsung menenangkannya.
"Emang tari mimpi apa sampe pengen sama bunda?" tanya buna ara lembut seraya mengelus-elus punggungnya.
"Tali mimpi thalo bunda di tejal-tejal cama olang-olang teluc di cica cama olang itu" cerita tari tentang mimpinya.
Translate : Tari mimpi kalo bunda di kejar-kejar sama orang-orang terus di si*sa sama orang itu
Seketika mata adnan berkaca-kaca karena ia juga mengalami mimpi yang sama. Adnan memeluk anaknya dengan erat dan tari pun membalas pelukan itu.
"Huaa ayah juga mimpi itu, hiks hiks"
Adnan ikutan menangis membuat semua orang kelimpungan tak terkecuali pengawal bayangan yang di tugaskan menjaga adnan, tari dan nathan.
"Komandan apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kita harus membantu mereka?" tanya salah satu pria pada seorang paruh baya yang di panggil komandan.
Komandan itu terus memperhatikan setiap kejadian itu melalui cctv yang telah di pasang. Ia mengangkat tangan nya pertanda tak usah menunjukkan diri mereka.
Sang anak buah hanya patuh dan menyimak setiap drama yang terjadi di mansion sang nona.
__ADS_1
......................
Di kerajaan.
"Maaf tuan putri dan para pangeran. Anda di suruh oleh yang mulia untuk mengevaluasi diri kalian karena perang sedang berlangsung" lapor salah satu prajurit pada putri Evelyn dan adik-adiknya.
Mereka berempat saling pandang kemudian mengangguk seolah-olah mereka telah membuat rencana. Zion dan angkasa mereka berdua turun ke bawah untuk membantu sedangkan arya dan putri evelyn mereka memutuskan untuk diam di kamar dan menunggu kode dari angkasa dan Zion.
Tiga jam berlalu.
Dengan persiapan yang sudah matang dan kode yang sudah di lontarkan arya dan putri evelyn turun ke bawah dan bergabung untuk berperang.
Mereka berdua tak menyadari bahwa seseorang telah mengawasi mereka berdua dari jauh dengan senyuman licik di wajahnya yang tercetak jelas.
"Tuan apakah kita akan membunuh ia sekarang?" tanya asisten dari orang itu.
"Biarkan dia kelelahan dahulu baru kita dapat membunuhnya" jawab tuannya seraya terus mengamati gerak-gerik putri evelyn.
Benar saja berselang 30 menit putri evelyn mulai kelelahan seraya memegang dadanya. Putri evelyn perlahan-lahan mundur dari area perang dengan arya yang memapahnya.
Orang yang sedari tadi menunggu pun langsung turun ke bawah beserta asistennya.
Arya dan putri evelyn yang kaget pun berusaha untuk melawan namun naas karena tenaga mereka telah banyak berkurang.
Putri evelyn langsung memejamkan matanya hingga seperkian detik ia tak merasakan apa pun. Putri evelyn membuka matanya dan melihat seorang wanita yang sangat di kenalnya sedang bertarung dengan orang yang ingin membunuhnya.
"Ara"
Buna ara melirik sekilas pada putri evelyn dan tersenyum sebelum kembali meneruskan pertarungan nya.
"Kak nana ayo sini kita bersembunyi sampe dada kakak ga sakit lagi" bisik dika yang tiba-tiba di samping putri evelyn.
Putri evelyn mengangguk dan perlahan-lahan pergi bersama dika tanpa sepengetahuan orang-orang.
Di mobil.
"Bundaa"
Tari dan adnan berhamburan keluar dari mobil dan memeluk bundanya. Sedangkan nathan ia memilih untuk mengawasi cctv yang berada di istana untuk mengamati pergerakan musuh dari bunanya.
Putri evelyn semakin bingung dengan apa yang terjadi karena melihat putra-putri nya serta suaminya yang tiba-tiba berada di wilayah kerajaan. Namun detik kemudian ia memutuskan untuk menggiring mereka menuju mobil dan pergi ke tempat yang lebih aman.
__ADS_1
"Nathan tolong jelaskan pada bunda apa yang terjadi sehingga kalian bisa di sini?" tanya bunda nana saat mereka dalam perjalanan menuju tempat yang aman.
Nathan menyimpan iPad miliknya dan menceritakan semua yang terjadi pada bundanya. Mulai dari ketika tari dan adnan menangis karena mimpi kehilangan bunda nana hingga buna ara yang memutuskan untuk menyusul nya kemari dengan rencana yang sudah di siapkan matang-matang.
Putri evelyn mendengarkan cerita nathan dengan seksama tanpa ada yang di lewatkan. Usai cerita bunda nana memeluk tari yang berada di pangkuannya dan juga memeluk adnan yang berada di sampingnya.
"Bunda aku juga pengen di peluk dong masa cuma ayah dan adek doang yang di peluk" protes nathan yang berada di tengah-tengah mereka.
Bunda nana terkekeh geli dan memeluk putra sulungnya. Nathan membalas pelukan itu dengan hangatnya.
'Ternyata ikatan batin mereka sangat kuat' batin bunda nana.
Tak terasa mereka telah sampai di depan sebuah perusahaan besar.
Bunda nana melangkahkan kakinya terlebih dahulu dan di susul oleh nathan dan yang lainnya.
Semua karyawan menunduk hormat pada rombongan itu dan di balas dengan senyuman dari bunda nana.
"Bunda ini pelucahaan ciapa?" tanya tari saat mereka berada di lift.
Translate : Bunda ini perusahaan siapa?
"Ini perusahaan bunda yang tak di ketahui siapa pun termasuk anggota istana sayang" jelas bunda nana.
"Woah Nnna kayak ayahnya adnan, punya perusahaan gede kayak gini" celetuk adnan.
Bunda nana terkekeh geli dan mencubit pipi adnan. "Kamu tuh ya bisa aja" ucapnya.
"Heh,, tapi sayangnya ayah adnan ga bisa terima kondisi adnan ga kayak nana" ucap adnan yang perlahan-lahan menjadi lirih.
Bunda nana memandang sendu adnan begitu juga dengan nathan. Sedangkan tari ia yang tak tahu dengan apa yang dimaksud ayahnya hanya ikutan berpelukan saja.
"Udah jangan galau, lagi tegang-tegang gini kalian malah ngegalau hadeh" celetuk dika yang sedari tadi diam.
"Hm iya bener kata dika. Mending kita fokus sama masalah kita yang sekarang" balas putri evelyn yang setuju dengan dika.
Obrolan mereka pun berhenti sampai disitu karena pintu lift yang terbuka. Bunda nana berjalan menuju ruangannya di ekori oleh adnan dan yang lainnya.
Baru saja di luar ruangan mereka sudah di sambut oleh sekertaris bunda nana yang ruangannya memang di situ.
"Jangan buka kan pintu untuk siapa pun kecuali adik-adik ku yang sudah kau kenal yaa" pesan bunda nana yang di angguki sekertaris nya.
__ADS_1
Bersambung~