
"AYAHHH TALII PULAAANG" teriak tari saat memasuki rumah.
Sedangkan nathan yang berada di belakangnya hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah sang adik.
"Selamat sore dan selamat datang kembali nona muda" ucap anata menyambut mereka bertiga.
"Ayah mana bi?" tanya tari celingak-celinguk mencari keberadaan sang ayah.
"Di kamar tuan nathan, nona"
"Othey"
Tari langsung berlari menuju kamar sang abang, begitupun dengan nathan. Sedangkan anita, ia pergi ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri.
"Aku harus mengawasinya dari kamera cctv" gumam anata seraya pergi ke kamarnya.
......................
"Ah biarkan saja, lumayan kita mendapatkan pekerja tanpa gaji" ujar anita yang sedang video call dengan asisten sekaligus kekasihnya.
"Tapi apakah kau sekamar dengan si bodoh itu?" tanya zola penasaran.
"Terkadang, aku hanya tidur dengan dia untuk mencuci mataku saja" jawab anita dengan santainya.
"Haish kau ini menyebalkan"
"Kau lebih menyebalkan, kapan kau akan menceraikan istrimu hah?" tanya anita dengan kesal.
"Aku menunggu masa nifas nya selesai. Kau kan tau, aku dan dia menikah hanya untuk memberikan orang tuaku seorang cucu. Salah kau sendiri tak mau mengandung anakku"
"Haish kau selalu menyalahkan ku seperti ini" cemberut anita membuat zola terkekeh geli.
"Baiklah aku tak akan menyalahkan mu lagi baby, tapi tunggu aku menceraikan istriku dulu oke?" ucap zola yg di jawab acungan jempol oleh anita. "Oh ya, jangan sampai kau mengacaukan misi kita karena keenakan bersama si mister bodoh itu"
"Hey!! Aku tak mungkin jatuh cinta terlalu dalam dengannya, aku masih ingat kasta kita"
"Aku tau itu, ya sudah nanti kita bahas lagi misi selanjutnya" kata zola mengakhiri telponnya.
Anita menganggukkan kepalanya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang queen size miliknya.
"Dia memang tampan tapi sayangnya dia bodoh" gumam anita merasakan perasaan apa yang sedang dialaminya.
......................
"Apakah dia jatuh cinta dengan suamiku?" tanya anata yang mendadak takut sendiri.
"Jika iya maka aku harus menjaga suamiku dengan ketat!! Huhhh aku jadi takut kak adnan akan berpaling padanya" gumam anata khawatir.
"Huhh, tenang an. Yakinlah kalau kak adnan bakal setia sama kamu!! Ayo yakin an" ucap anata menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
"Huhh sebaiknya aku mencari udara segar saja"
Anata mengganti bajunya dengan baju yang terlihat imut. Kemudian ia keluar untuk menemui anita.
"Permisi nyonya, saya izin ingin pergi keluar sekalian beli bahan-bahan yang sudah habis nyonya"
Anita yang sedang fokus pada majalahnya seketika menoleh kearah anata. "Ya, silahkan" ucap anita acuh seraya fokus kembali pada majalah miliknya.
"Bibii ituuuut" pinta tari seraya berlari ke arah anata. "Boleh tan bunda?"
Anita gabya menganggukkan kepalanya. Toh tari adalah anak yang cukup ribet, jadi kalau dia tidak ada di rumah pasti rumah akan terasa damai.
"Yeaay, ayo bi" ajak tari seraya menarik tangan anata.
Mereka berdua terlebih dahulu pergi ke taman kota menggunakan motor milik anata.
"Woah taman nya indah banet" celetuk tari sambil berlari kesana-kemari.
"Bibi ciniii" panggil tari pada anata yang sedang berjalan santai.
Anata yang dipanggil hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju tari yang sedang mencium wangi bunga yang berada di taman itu.
"Bibi bunanya indah banet, tali uga mahu puna buna taya gini"
Translate : Bibi bunganya indah banget, tari juga mau punya bunga kayak gini
"Eumm, bunganya emang wangi dan indah. Bibi juga suka" ucap anata yang ikutan mencium wangi bunga itu.
"Tari mau beli apa?" tanya anata saat keduanya melihat-lihat di sana.
"Mahu ituuu" tunjuk tari pada sebuah gerobak.
Anata hanya mengangguk dan mereka pun berjalan kesana.
"Misi bang, beli pavedanya empat ya" ucap anata menyampaikan pesanannya.
Penjual itu menganggukkan kepalanya dan membuatkan pesanan anata. Sesekali penjual itu berbincang dengan anata.
"Ini neng, silahkan" ucap penjual itu memberikan pesanan anata.
Anata menganggukkan kepalanya dan membayar pesanannya.
"Makasih" ucapnya yang langsung di angguki oleh sang penjual.
"Tari mau makan dimana?" tanya anata yang bingung karena semakin sore, semakin ramai pengunjung yang mengunjungi taman itu.
"Di citu bi" tunjuk tari pada sebuah bangku taman yang kosong.
Anata menganggukkan kepalanya dan keduanya pun duduk di bangku taman tersebut.
__ADS_1
"Bibi tau nda?"
"Tau apa?" tanya anata penasaran sambil memakan paveda miliknya.
"Tali balu peltama tali matan ini loh" ucap tari seraya memakan paveda dengan lahapnya.
Translate : Tari baru pertama kali makan ini loh
"Masa sih?" tanya anata tak percaya.
Tari menganggukkan kepalanya dan bercerita tentang sang abang yang melarangnya untuk jajan sembarangan.
"Itu pasti karena abang mu sayang sama kamu sayang, lagipula apa yang dikatakan abangmu ada benarnya" ujar anata seraya bangkit dari duduknya.
"Maca cih?"
Anata hanya menganggukkan kepalanya dan mengajak tari pergi ke supermarket yang tak jauh dari sana. Mereka berdua berbelanja kebutuhan rumah dengan riang. Bahkan sesekali mereka berdua tertawa karena menceritakan pengalaman mereka.
"Tari duduk di belakang ya" ucap anata yang merasa menyesal karena tadi ia tak memesan taksi dan malah membawa motornya.
Tari hanya menganggukkan kepalanya dan naik ke atas motor tersebut. Perlahan-lahan motor itu berjalan menuju mansion dengan tari yang terus memeluk anata.
"Nyaman" gumam tari yang tak terdengar karena suara kendaraan lain.
Karena lalu lintas yang amat padat, anata memutuskan menggunakan jalan lain yang cukup sepi. Namun bukannya cepat sampai, mereka berdua malah di halangi oleh dua orang preman.
"Wah ada pembantu yang lewat, bagi duitnya dong" titah preman itu seraya menatap anata dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Duit duit duit, telja dong" celetuk tari dengan senyum smirk miliknya.
"Heh!! Anak kecil mulutnya jaga!!" bentak salah satu preman yang memiliki jenggot.
"Tapi ga usah ngebentak juga ya kak" ucap anata tak terima putrinya di bentak oleh seorang preman yang tak memiliki hubungan apa-apa dengan mereka.
"Hahaha, terserah gue dong. Emangnya lo mau apa?" tanya preman yang hendak melayang kan pukulan pada tari.
Tari yang belum siap dengan pukulan itu hanya bisa memejamkan mata. Namun setelah beberapa detik tak merasa apapun ia membuka matanya.
Alangkah terkejutnya tari ketika melihat anata yang mengilir tangan sang preman yang hendak memukulnya.
"Kau tau? Orang tuanya saja tidak pernah membentaknya. Tapi kamu yang merupakan orang asing malah berani membentaknya. Hm semoga tuhan mengampuni ku jika kau terluka"
Anata semakin mengilir tangan preman itu membuat sang empu berteriak kesakitan. Sedangkan rekannya yang satu lagi langsung lari setelah merasakan aura yang sangat gelap.
"Sebenarnya saya tau kalian itu baik, tapi karena dunia kalian jadi seperti ini kan? Jadi saya rasa saya akan memaafkan kalian kali ini. Tapi mungkin tidak untuk lain kali" ujar anata seraya melepaskan tangan sang preman yang terkilir cukup parah.
"Ayo pulang non" lanjutnya pada tari.
Tari yang terpukau dengan anata pun langsung mengangguk dan naik di belakang. Keduanya kembali melanjutkan perjalanan pulang yang sempat tertunda oleh kedua preman itu.
__ADS_1
Bersambung~