Mr. Bodoh & Anak Genius

Mr. Bodoh & Anak Genius
32 (Revisi)


__ADS_3

Angkasa mengangkat bahunya tanda bahwa ia juga tak tahu mengapa. Namun detik kemudian angkasa memangut-mangut mengerti dengan apa yang terjadi.


Buna ara yang sekilas melihat raut wajah angkasa pun langsung kembali bertanya. "Kamu tau kenapa?" tanyanya.


Angkasa mengangguk kecil tanpa sadar. Namun detik kemudian ia menggelengkan kepalanya. "Ngga kok kak. Ga tahu beneran" ucap angkasa sambil mengangkat dua jari nya.


Buna ara yang tak percaya dengan ucapan sang adik pun menatapnya dengan tatapan interogasi membuat angkasa gelagapan sendiri.


Angkasa menghela nafas panjang toh percuma saja jika ia menyembunyikan kebenaran karena pasti suatu saat akan terungkap juga. "Karena angkasa lagi males dapet dosa ya udah angkasa jujur aja deh" putus angkasa.


Semua orang menatap angkasa dengan tatapan penuh tanya begitu juga dengan tari yang ikut penasaran. Berbeda dengan adnan yang tak mengerti apa-apa, adnan memutuskan untuk diam dan mendengarkan setiap katanya saja.


"Wajah tari dan kak arya mirip karena yaa mereka emang paman dan keponakan" ujar angkasa yang membuat semua orang terkejut apalagi adnan.


"Keponakan gimana ih? Orang tari ga mirip sama keluarga adnan sama sekali" ujar adnan yang masih ingat jelas dengan wajah anggota keluarga alvendra meski sudah sekian tahun tak bertemu.


"Terus lagi adnan kan punya nya adik cewek bukan cowok" lanjutnya.


"Ga harus dari keluarga adnan doang kali. Dari keluarga mamanya tari juga kan bisa" tutur buna ara.


Adnan mengangguk-anggukkan kepalanya padahal di dalam otaknya ia tak mengerti sama sekali dan kembali menonton televisi yang sempat ia abaikan. Sedangkan tari mengelus-elus pinggiran bibir sang ayah yang penuh dengan sisa makanan.


Buna ara menarik tangan angkasa menuju ke dapur meninggalkan semua orang yang berada di sana. Meski menimbulkan pertanyaan di benak semua orang namun mereka memilih untuk acuh karena percuma saja bertanya pasti buna ara akan menjawab ada urusan penting yang harus di bicarakan berdua.


Angkasa duduk di kursi yang berada di sana begitu juga dengan buna ara. Buna ara menatap angkasa dengan tatapan menyelidik.


"Apa kamu keturunan bangsawan sama kayak Arya?" tanya buna ara dengan suara yang dingin.


Angkasa terhenyak kaget mendengar pertanyaan buna ara namun detik kemudian ia mengangguk. Buna ara yang memang niatnya mengintrogasi angkasa pun memberikan pertanyaan lagi.

__ADS_1


"Jadi kamu itu adik annata evelyn lukyanova?" tanyanya lagi.


Kali ini angkasa benar-benar kaget mendengar pertanyaan sang kakak. Apalagi kakaknya itu membawa nama sang kakak berbeda ibu yang identitasnya sangat di rahasiakan dan hanya keluarga saja yang tahu.


"Kakak tau sama kak evelyn?" Bukannya menjawab angkasa malah balik bertanya.


Buna ara mendengus kesal dengan adiknya itu dan mengangguk saja. "Iya , Evelyn atau yang sering kakak panggil nana adalah sahabat kakak waktu kecil. Dia yang menolong kakak buat bisa pergi ke amerika tapi beberapa tahun yang lalu dia menghilang dengan sebuah pesan titip adnan dan anak-anak ku selama beberapa tahun kedepan" jelas buna ara menceritakan pesan dari sahabatnya kurang lebih dua tahun silam.


"Sekarang kakak tanya kok bisa kamu adiknya nana?" ucap Buna ara mengulangi pertanyaannya.


Angkasa menghela nafas dan berniat untuk membuka cerita masa lalunya dengan sang kakak. "Yang kakak tahu kami yang di buang doang kan kak?" tanya angkasa yang langsung di angguki buna ara.


"Kami di buang karena tuduhan pembunuhan ibu ku kak" ucap angkasa.


Sontak saja buna ara terkejut dan tak menyangka jika adiknya itu punya kisah kelam di masa lalu apalagi angkasa yang memang tak pernah berbagi cerita dan selalu mengalihkan topik pembicaraan.


"Lalu?"


Buna ara terus mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut angkasa dan menunggu ceritanya berakhir. Hingga setelah beberapa menit bercerita angkasa pun mengakhiri ceritanya.


"Terus kakak sendiri kenapa bisa sahabatan sama kak evelyn?" tanya angkasa yang penasaran dengan kisah kakak-kakak nya.


"Kalau kakak sama nana mah sahabatan sejak kita main aplikasi virtual. Waktu itu usia kakak masih tiga belas tahun. Kita suka saling curhat , tukar kabar dan lain-lain. Suatu hari Nana ngajak kakak ketemu dan kakak pun ngeiyain aja. Kita ketemuan di sebuah taman. Dan di taman itu juga kakakmu sama adnan ketemu" cerita Buna Ara.


"Wah seriusan kak? Impesrif yaa dari virtual jadi temen real" celetuk angkasa yang tampak tertarik dengan dunia itu.


Buna ara hanya tersenyum menanggapi ocehan angkasa. Namun detik kemudian ia teringat dengan sahabatnya. "Gimana kabar nana?" tanya buna ara penasaran.


"Baik kok kak,, sekarang kan kak nana lagi nyelamatin anaknya sama kak arya" ucap angkasa keceplosan.

__ADS_1


Seketika alis buna ara mengkerut. "Emangnya nathan kenapa?" tanya buna ara yang tahu anak yang di maksud angkasa adalah nathan sebab tari berada di rumah sedari tadi.


Seketika angkasa tersadar dan menutup mulutnya. "Eh... ngga kok kak. Ngga kenapa-kenapa" elak nya


"Jangan bohong sama kakak" tegas buna ara dengan nada dingin.


glek


'Bohong atau jujur ya? kalau jujur nanti kak arya sama kak nana marah tapi kalau bohong bisa-bisa di tendang sama kak ara sampe ke amazon' batin angkasa bimbang.


"Cepet jawab" titah buna ara dengan nada dingin dan sorot mata yang tajam.


"Kak bisa tolong gantiin popok babby divan dulu ga?" tanya dika yang tiba-tiba datang bersama babby divan yang menangis di gendongannya.


Buna ara langsung mengangguk dan mengambil alih gendongan babby divan. Sedangkan angkasa langsung menghela nafas lega.


'Makasih babby divan berkat kamu uncle selamat hehe' batin angkasa bersyukur.


.............


Di rumah sakit


"Gimana kondisi kak evelyn?" tanya arya yang baru saja sampai di UGD setelah mengganti pakaian.


"Kata dokter nona hampir saja tiada tuan muda namun Tuhan masih berpihak padanya sehingga nona sekarang hanya mengalami kritis dan tak tahu akan sadar kapan tuan muda" ucap asisten arya mengulangi perkataan dokter yang melaporkan tentang kondisi nana.


"Ya sudah kamu tolong siapkan kamar perawatan untuk kak evelyn dan tolong satukan kamarnya dengan kamar anaknya" titah arya sambil berlalu pergi.


Arya berjalan menuju lift khusus dan menaiki lift itu. Di dalam lift, arya menepuk dadanya yang terasa sesak. Air mata mengalir begitu saja di pipi arya. Sedih? Tentu saja arya sedih apalagi setelah mendengar sang kakak yang kritis, dan hal itu tentu membuat pukulan yang sangat keras untuknya.

__ADS_1


Bersambung~



__ADS_2