
Usai makan mereka berdua langsung kembali ke ruang rahasia. Di sana tampak asisten bunda nana tengah menunggunya dengan perasaan harap-harap cemas.
"Nah itu bunda" tunjuk tari pada bunda nana dan adnan yang baru saja masuk.
"Kenapa?" tanya bunda nana yang melihat raut wajah asistennya tengah tegang.
"Nona bolehkah saya mengambil cuti? Istriku sedang di bawa ke rumah sakit karena kontraksi yang di alaminya" ucap asisten bunda nana dengan keringat yang mengucur di wajahnya.
Asisten bunda nana menatap bunda nana dengan tatapan penuh harap karena baginya kelahiran sang anak adalah yang utama.
"Kenapa kau tak langsung pergi sekarang? Kasihan istri mu loh berjuang sendirian kayak gitu. Sana pergi sekarang" ujar bunda nana yang langsung membuat senyum di wajah asistennya terbit seketika.
"Terimakasih nona. Maaf saya harus mengambil cuti ketika nona ada masalah" ucap asisten bunda nana tak enak.
"Sudah kau pergi atau aku yang harus menendangmu?"
Suara bariton dari arya membuat asisten bunda nana yang bernama zola itu langsung membungkukkan badannya sopan dan pergi dari ruangan itu.
Semua orang tertawa melihat tingkah konyol zola.
"Oh iya kak, siapa yang bakal gantiin zola sementara kalo dia cuti?"
Pertanyaan angkasa langsung di pikirkan oleh bunda nana namun detik kemudian senyum cerah di wajah bunda nana terbit.
"Dika yang akan menggantikannya" ucap bunda nana tanpa pikir panjang lagi.
Sontak ucapan bunda nana membuat dika tersedak ludahnya sendiri.
"Hah? Seriusan kak? Tapi aku ga bisa apa-apa loh kak" ucap dika yang tak percaya dengan kemampuan dirinya sendiri.
"Really dong masa ngga. Udah kamu tenang aja, nanti ada sekertaris kakak yang bakal bantuin kamu kok" ujar bunda nana seraya menepuk-nepuk bahu dika.
"T-tapi kak…"
"Udah terima aja dek, itung-itung kamu belajar jadi pengusaha" potong buna ara yang tahu jika adiknya itu tak percaya diri.
Dika mengangguk patuh karena baginya ucapan sang kakak adalah perintah baginya.
"Baiklah kak, kapan aku mulai bekerja?" tanya dika.
"Ku rasa besok bisa" jawab bunda nana seraya membuka-buka jadwal yang tertulis.
"Kakak, apakah kau melupakan sesuatu?" tanya angkasa yang mengode sesuatu pada kakaknya.
__ADS_1
Bunda nana lantas menepuk jidatnya sendiri dan langsung menarik adnan menuju ruang pertemuan antara karyawan dan bos.
"Dasar kakak tua" gumam angkasa seraya geleng-geleng kepala dengan tingkah kakaknya.
......................
Sesampainya di ruang pertemuan mata adnan langsung berkaca-kaca seperti ingin menangis. Namun detik kemudian ia menoleh pada sang istri untuk meminta izin.
Bunda nana langsung mengangguk seraya tersenyum manis. Tanpa sepatah kata apapun adnan langsung berhamburan ke pelukan sosok yang telah di rindukannya. Sosok malaikat yang selalu ada untuknya.
"Maaf nak ada apa ini?" tanya paman rendy.
Adnan tak membalas pertanyaan paman rendy dan malah mempererat pelukannya.
"Sayang kamu bisa membuat nya kesulitan nafas" tegur bunda nana yang melihat raut wajah paman rendy seperti sedang kesulitan bernafas.
Dengan perlahan adnan mengurai pelukannya dan menatap pamannya. Paman rendy sendiri ia tak menyadari apapun hingga detik kemudian ia mengenali wajah sosok yang sangat di rindukannya.
"K-kamu? Mengapa kamu memiliki wajah almarhum adikku?" tanya paman rendy dengan gugup karena takut ekspetasi nya tak sesuai dengan realita.
"Pak rendy perkenalkan dia adalah adnan alvendra putra kedua dari tuan dan nyonya alvendra" jelas bunda nana seraya tersenyum ramah pada paman rendy.
Paman rendy yang awalnya tak menyadari keberadaan CEO nya pun langsung mengelus-elus dadanya karena kaget. .
"Sejak kalian berpelukan pak rendy" jawab bunda nana dengan senyuman ramah yang tercetak jelas di wajahnya.
"Benarkah? Maaf karena saya tak menyadari keberadaan nona" ucap paman rendy seraya membungkuk hormat.
"Harusnya saya yang meminta maaf karena telat datang" ujar bunda nana seraya membungkuk hormat mengikuti gerakan paman rendy.
"Ah itu tak masalah nona" ucap paman rendy yang merasa tak layak di perlakukan seperti itu oleh pemilik perusahaan tempat ia bekerja.
"Nona? Siapa nona? Disini ngga ada yang namanya nona paman" ucap adnan polos membuat bunda nana ingin tertawa lepas.
Seperti bunda nana, paman rendy langsung berdehem untuk merendam tawanya yang hampir pecah dan menggema di ruangan itu.
"Sudah-sudah lupakan perihal nona kita bahas yang lebih penting. Mari silahkan duduk pak rendy" ajak bunda nana mempersilahkan duduk pada paman rendy.
Dengan cepat paman rendy mengangguk dan duduk di kursi yang sudah tersedia. "Apakah benar dia keponakan ku yang sudah lama hilang?" tanya paman rendy yang tak percaya dengan kenyataan.
Bunda nana tak menjawab pertanyaan paman rendy dan malah memutar video yang telah di ambilnya saat berusia 11 tahun.
"*Ayah lepasin adnan yah bunda masih sayang sama adnan"
__ADS_1
"Apa yang mau kamu harapkan dari anak ini hah? Kehancuran keluarga kita?"
"Ayah bagaimana pun ia adalah anak kita yah"
"Anak? Aib keluarga maksudmu?"
"Ayah bagaimanapun dia tetap anak kita"
"Sudahlah ayah jangan dengerin ibu dia kan cuman sayang sama kak adnan"
"Tidak yah, semua itu bohong. Ibu sayang sama semua anak-anak kita yah"
"Sudah jangan ribut. Keputusan ayah sudah bulat bahwa adnan harus di buang dari keluarga alvendra"
"Pelayan!! Jaga istri saya jangan biarkan dia kabur atau mencari anak ini*"
trek
Bunda nana menekan tombol berhenti dan menatap serius mimik wajah paman rendy.
Paman rendy sendiri tak bisa berkutik dan malah memegang jantungnya. Beruntung di sana sudah ada petugas medis yang telah bersiaga.
"Nana itu kan video adnan waktu di bawa sama kakek lampir itu" lirih adnan dengan berderai air mata.
Bunda nana langsung memeluk adnan dari samping karena tahu sebagaimana besar luka yang telah di goreskan keluarganya.
"J-jadi selama ini adnan hilang bukan karena diculik melainkan di buang?" tanya paman rendy terbata-bata karena jantungnya yang hampir loncat.
"Ya, dan sejak di buang saya membawa adnan ke rumah kecil saya karena ayah saya yang tak membolehkan untuk membawa adnan" jelas bunda nana.
Paman rendy memangut-mangut yang tetapi di detik kemudian alisnya mengkerut dan menatap bunda nana dengan tatapan tajam.
"Lalu sekarang apa hubungan mu dengan keponakan saya?" tanya paman rendy mengintimidasi
"Kami suami istri, maafkan aku yang tak meminta restu padamu paman" jawab bunda nana dengan tangan yang menempel.
"Apa?" paman rendy kembali kaget lagi sebelum akhirnya ia pingsan.
Dengan sigap para petugas medis menolong paman Rlrendy sedangkan bunda nana ia berusaha mencegah adnan yang ingin mendekati petugas medis karena merasa bahwa suaminya akan menggangu petugas medis.
Bersambung~
__ADS_1