Mr. Bodoh & Anak Genius

Mr. Bodoh & Anak Genius
42 (Revisi)


__ADS_3

Usai makan siang nathan dan tari tertidur pulas di pelukan bundanya. Sedangkan bunda nana ia tak bisa tidur karena terlalu semangat menunggu suaminya yang sudah lama tak ia temui.


Hingga beberapa saat kemudian arya datang bersama dengan adnan yang terus menempel padanya.


Mata bunda nana seketika berbinar ketika melihat suaminya yang baru saja datang. Begitu juga dengan Adnan, mata ia berbinar-binar ketika melihat sang istri.


"Nana" pekik adnan girang sambil berlari menghampirinya.


Namun langkah adnan berhenti ketika melihat bunda nana menaruh telapak tangannya di mulutnya. Adnan pun mengikuti gerakan bunda nana hingga menuju ranjangnya.


Ingin sekali Adnan memeluk istrinya namun melihat kedua anaknya yang tertidur pulas pun membuatnya memutuskan untuk duduk di ranjang kosong.


Bunda nana terkekeh geli ketika adnan mengerucutkan bibirnya layaknya anak kecil yang tak di beri permen. Begitu juga dengan buna ara dan angkasa.


"Pemandangan apalagi ini" gumam arya yang iri dengan keharmonisan keluarga kakaknya.


"Makanya nikah biar bisa ngerasain" bisik buna ara yang tak sengaja mendengar gumaman arya.


Arya memutar bola matanya malas karena tahu jika sang kakak sangat mengharapkan ia untuk menikah. Kemudian ia membuka ponselnya dan menatap almarhumah wanita yang menjadi cinta pertamanya setelah sang ibu.


Tentu saja hal itu tak lepas dari pandangan buna ara. Ia malah menghembuskan nafas kasar dan merengkuh adik angkatnya.


"Meski ia tak berada di sampingmu tetapi ia berada di hatimu" ujar buna ara sambil tersenyum menguatkan sang adik.


"Lagipula kau kan selalu menyimpannya di dalam hatimu" timpal zion yang kebetulan belum pulang dan malah bekerja di sana.


Arya mengangguk dan mengelus foto itu. Angkasa sendiri ia tak mendengar pembicaraan kakak-kakaknya dan malah fokus menatap bunda nana yang sedang berbicara dengan adnan dengan nada yang berbisik-bisik.


"Jangan di lihat terus ntar ngiri ga ada yang ngobatin" celetuk zion yang langsung di tertawakan oleh arya.


"Abang mah gitu ah" seru angaksa sambil mengerucutkan bibirnya.


Buna ara langsung menarik bibir angkasa yang mengerucutkan sangking gemasnya membuat angkasa langsung berusaha menarik bibirnya kembali.


"Kakak sakit tau" seru angkasa sambil mengusap-usap bibirnya yang terasa kendur.


"Ya suruh siapa manyun ya udah kakak tarik deh" ucap buna ara tanpa dosa.


"Ampun sisi psycop*tnya keluar" lirih angkasa bergidik ngeri.


"Kalian ngomongin apa sih? Adnan ga ngerti" ujar adnan yang sedari tadi menyimak mereka dari jauh.


Sedangkan bunda nana geleng-geleng kepala dengan tingkah adik-adiknya.

__ADS_1


"Ngomongin kucing bertelur" jawab angkasa asal.


"Oh gituu" ucap adnan sambil mengangguk-anggukan kepalanya pertanda percaya dengan ucapan angkasa.


Buna ara mencubit pinggang angkasa sedangkan bunda nana langsung melotot ke arah sang adik. Angkasa yang merasa salah pun cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Lain kali kalau ngomong jangan sembarang dek" ucap zion sambil geleng-geleng kepala.


Zion mengerti mengapa kedua wanita itu kesal dengan angkasa karena ia sendiri telah menyelidiki latar belakang adnan yang sangat mengejutkan untuknya.


"Loh kok pada nyalahin aku sih" ucap angkasa yang tak terima di salahkan sepenuhnya.


"Ya karena kamu salah" jawab buna ara, zion, angkasa, arya dan bunda nana serempak.


Angkasa mendengus kesal dan menyandarkan punggungnya di sofa.


"Giliran nyalahin orang aja kompak tapi giliran romantis-romantisan mah ga kompak" ujar angkasa setengah mencibir kakak-kakak nya.


"Boro-boro romantisan punya pasangan juga nggak kakak mah" ketus zion yang tersinggung dengan ucapan sang adik.


"Iya kah?" tanya angkasa yang tak tahu bahwa abang nya itu tak memiliki pasangan.


"Hm, yang di samping mu juga jomblo" jawabnya sambil melirik Arya yang cuek-cuek saja.


Semua orang menoleh ke arah adnan dengan perasaan was-was. Bahkan buna ara dan bunda nana yang sudah tahu bahwa pertanyaan itu sangat membingungkan sudah bercucuran keringat dingin.


"Telur kucing itu segimana besarnya?" tanya adnan yang ternyata percaya dengan ucapan angkasa.


Buna ara memilih keluar dari ruangan itu tanpa sepatah kata apapun begitu juga dengan zion dan arya. Sedang bunda nana yang memang tak bisa turun dari ranjang nya pun langsung pura-pura tidur sehingga menyisakan angkasa sendirian.


"Ih kok pada ninggalin sih, lain kali ga mau lagi ngejawab asal kalo endingnya gini" gumam angkasa menyesal.


Adnan yang merasa di tinggalkan pun langsung menatap angkasa seolah-olah meminta jawaban. Dengan segera angkasa berjalan cepat menuju pintu. Namun keberuntungan sedang tak berpihak pada angkasa sehingga ia harus terkunci dengan pertanyaan konyol dari adnan.


"Ahh kenapa sih punya kakak-kakak jail amat, adek sendiri di kunciin" gerutu angkasa seraya berusaha memutar handle pintu.


Adnan menghampiri angkasa yang tengah berusaha dan menariknya menuju sofa. Angkasa hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi.


"Karena sisa kita berdua mending kita main" ucap adnan yang tiba-tiba lupa dengan pertanyaan nya.


Angkasa menghela nafas lega dan mengangguk. Mereka berdua memutuskan untuk bermain kertas gunting batu lebih tepatnya adnan lah yang memutuskan karena ia begitu sangat menyukai permainan itu.


"Kertas gunting baaatuu"

__ADS_1


Angkasa membentuk kertas sedangkan Adnan membentuk batu. Namun ternyata adnan malah mengetuk tangan angkasa dengan keras sehingga membuat angkasa berpekik kesakitan.


"Awwwww" pekik angkasa saat tangan adnan mendarat tepat di atas tangannya.


Buna ara, zion dan arya yang mendengarnya dari luar bergidik ngeri sedangkan bunda nana ia malah benar-benar terlelap bersama anak-anak nya yang tak terbangun oleh pekikan angkasa.


"Pasti di dalem suasananya kacau" ucap buna ara yang memang pernah bermain dengan adnan.


Buna ara mengelus-elus tangannya yang pernah terkena imbas dari adnan seraya memikirkan apa yang terjadi di dalam.


"Bukan kacau lagi pasti angkasa bakal nangis" balas zion yang tahu bahwa adik bungsunya itu sangat cengeng.


Arya mengangguk menimpali ucapan zion.


"Buka aja yuk kasian" seru buna ara yang hendak membuka kunci pintu itu.


Namun dengan cepat arya mencegahnya. "Jangan biarkan dulu seperti itu agar dia selalu berpikir sebelum bertindak" ujarnya sambil tersenyum devil.


"Iya angkasa kan suka ceplas-ceplos dari kecil dan pasti gedenya juga sama jadi kita wajib memberikan nya pelajaran" timpal zion dengan senyum smirk yang di tampakannya.


Buna ara berpikir sejenak kemudian mengangguk menyetujui ucapan adiknya.


Hingga beberapa saat kemudian mereka pun membuka kan pintunya dan menengok apa yang terjadi. Terlihat di sana tari sedang bermain dengan ayahnya sedangkan angkasa ia duduk di samping bunda nana yang tengah mengelus-elus tangannya.


Melihat ketiga orang itu angkasa langsung mendengus kesal sedangkan bunda nana menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hari sudah mulai malam apa kalian tak akan pulang?" tanya bunda nana.


"Aku akan pulang sekarang na" ucap buna ara yang ingat dengan anaknya yang telah di tinggalkan nya seharian.


"Aku juga kak" ucap zion yang turut akan pulang.


"Aku juga mau ke apartemen, tapi ga tau kalau bang arya" ujar angkasa sambil melirik abangnya.


"Abang disini" ucap arya singkat.


"Kalau adnan mau tidur di sini aja" ujar adnan yang langsung di angguki bunda nana.


"Tali uga" timpal tari.


Semua orang mulai pulang ke tempatnya masing-masing setelah berpamitan dengan bunda nana dan juga nathan. Bunda nana akan tidur bersama tari sedangkan nathan akan tidur bersama Adnan di ranjangnya.


Bersambung~

__ADS_1



__ADS_2