
"Huaaa Abang janan nanic ntal tali uga ithutan nanic" pekik tari yang ikutan menangis.
Translate : Huaa abang jangan nangis ntar tari ikutan nangis
Dengan cepat angkasa menggendong tari dan membawanya duduk di samping buna ara dan arya.
Buna ara mengelus-elus kepala tari dengan penuh kasih sayang sedangkan arya dia hanya cuek dan memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya yang dikirimkan oleh sang asisten lewat email.
"Nathan liat mata bunda sebentar" titah putri evelyn sambil memegang kedua pipi nathan.
Dengan cepat nathan menatap mata bundanya seperti apa yang di perintahkan. Putri evelyn menatap manik mata putra sulungnya yang tampak berkaca-kaca.
"Nathan jangan takut sama seorang laki-laki, nathan juga kan seorang laki-laki" ucapnya.
"N-nathan takut di siksa lagi bunda" cicit nathan.
'Lebay banget ni anak' batin putri evelyn.
Putri evelyn tersenyum manis membuat hati nathan terenyuh ketika melihat nya. "Ngga semua orang sama nak,, ga semua orang jahat. Bunda tau kalau paman Zion sudah melukai mu tapi bukan berarti semua pria sama,, contohnya ayah mu apakah ayah mu pernah melukaimu?"
Nathan langsung menggelengkan kepalanya karena pernyataan yang di ucapkan sang bunda memanglah benar bahwa ayahnya belum pernah melukainya.
"Nah itu tau, ga semua pria sama. Dan satu lagi kamu ga boleh jadi anak pendendam. Meski paman zion melukai mu cobalah untuk memaafkannya meski ia tak meminta maaf. Paman zion begitu karena kesalah pahaman dan ada yang memprovokasi nya sehingga ia berbuat begitu" jelas putri evelyn dengan bijak.
"Iya bunda" balas nathan sambil menghapus air matanya.
"Nah coba kamu minta maaf sama paman angkasa. Daritadi paman angkasa di cuekin terus kasian loh" ujar putri evelyn sambil melirik adiknya.
"Nasib jomblo mah emang di cuekin kak" ucap angkasa seraya mengerucutkan bibirnya.
"Makanya nyari pacar biar ga di cuekin" celetuk buna ara yang sedang memangku tari.
"Yaelah kak cuman baru 29 tahun doang ga terlalu tua kali" ujar angkasa tak tahu diri.
"Umur 29 itu udah tua angkasa, belum lagi beberapa minggu lagi kamu ulang tahun jadi kepala tiga kamu" ujar putri evelyn.
"Belum lah, emangnya kakak udah mau 33 tahun hahaha" balas angkasa tak mau kalah.
Putri evelyn menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya itu. "Dasar bad boy" celetuknya seraya mengusap-usap kepala nathan.
__ADS_1
"Gapapa bad boy kak daripada jadi dewa es" ucap angkasa yang tak secara langsung meledek abangnya. Angkasa melirik sekilas pada arya yang nampak pura-pura tak dengar.
"Iya juga sih, secara si dewa es kan udah kepala tiga tapi dia blom nikah-nikah. Na jodohin ae dia" ujar buna ara yang ikut-ikutan meledek Arya.
Putri evelyn tersenyum menanggapi semua ocehan sahabat dan adiknya tanpa berniat untuk menjawabnya.
"Buna thalo tali, penen di jodohin cama ang bai aja ya buna" ujar tari sambil tersenyum polos.
Translate : Buna kalo tari, pengen di jodohin sama yang baik aja ya buna
Semua orang yang berada di sana terbelalak dengan ucapan yang keluar dari mulut kecil tari. Bahkan arya saja yang sudah berkepala tiga tak ada niat sekali pun untuk menikah. Tetapi ini? bocah berumur 4 tahun meminta bundanya untuk menjodohkannya dengan orang baik sungguh zaman telah berubah.
"Kamu masih kecil tari jadi ga boleh jodoh-jodohan apalagi mikirin pasangan" tutur putri evelyn yang tak mau anaknya berpikir dewasa sebelum waktunya.
"Tari emang gitu bunda, bahkan tari aja sekarang…"
Tari langsung turun dari pangkuan buna ara dan menutup mulut abangnya dengan telapak tangannya sambil cengengesan. "Nda apa-apa tho bund" ucapnya sambil tersenyum namun tidak dengan matanya ia malah melotot ke arah sang abang.
Putri evelyn mengkerutkan keningnya bingung sekaligus heran dengan tingkah anak bungsunya. Namun detik kemudian ia teringat dengan suaminya yang memang selalu bertingkah layaknya anak kecil.
"Gimana keadaan adnan?" tanya putri evelyn pada semua orang.
Putri evelyn mengangguk karena memang keadaan adnan tak berubah sejak kejadian masa kecil mereka.
"Sekarang dia ada di mana?" tanya putri evelyn lagi.
"Di mansion kak" bukan buna ara lagi yang menjawab melainkan angkasa.
"Apa dia bakal kesini?" tanya putri evelyn yang sebenarnya merindukan adnan.
"Nanti abang ipar bakal ke sini. Tunggu bang arya selesaiin tugasnya dulu kak biar dia yang ngejemput abang" ujar angkasa yang tak secara langsung menyuruh arya untuk menjemput adnan.
Seketika arya melotot ke arah angkasa yang tersenyum jahil ke arahnya. Namun bukannya marah arya hanya mengangguk pasrah dan memilih untuk fokus pada ponselnya lagi.
Angkasa yang berniat jahil pun mendengus kesal karena arya menerimanya dengan sukarela walau terlihat agak terpaksa.
Buna ara dan putri evelyn yang tahu dengan niat angkasa pun tersenyum geli karena kegagalan angkasa.
"Tho pada terlcenum-cenum cendili?" tanya tari yang memperhatikan wajah kedua wanita itu.
__ADS_1
Tari menoleh ke arah arya dan angkasa yang memasang wajah yang berbeda. Arya memasang wajah datar miliknya sedangkan angkasa memasang wajah kesal.
"Paman thaca thenapa?" tanya tari yang membuat semua tertawa mendengar nama panggilan tari untuk angkasa.
"Angkasa tari bukan kaca" protes angkasa yang tak terima jika namanya di ubah.
"Biallin paman tercelah tali mahu panggil paman apa" ketus tari sambil menenggelamkan wajahnya di tubuh sang bunda.
"Nyenyenye, kemaren manggil bang arya paman pepaya sekarang manggil saya paman kaca sungguh menyebalkan" gerutu angkasa sambil membawa nama-nama abangnya.
Arya melirik tajam pada adiknya yang selalu tak bisa diam sedangkan yang di lirik terus menggerutu tidak jelas.
"P-paman" panggil nathan dengan nada ketakutan.
Arya dan angkasa menoleh ke arah nathan secara bersamaan kemudian mereka berdua berjalan ke arahnya.
"Kenapa nak?" tanya mereka berdua serempak.
Detik kemudian mereka saling memandang dan bergidik ngeri. Entah apa yang mereka pikirkan.
"A-aku mau minta maaf" ujarnya sambil menunduk ke takutan.
Angkasa memegang bahu nathan yang tampak bergetaran sedangkan arya ia sudah kembali ke tempatnya.
"Iya gapapa kok, lagipula kamu ga bermaksud untuk menjauhi paman mu yang tampan ini bukan?" tanya angkasa sambil tersenyum.
"Cih tampan darimana kayak ondel-ondel gitu" cibir buna ara dengan senyum mengejeknya.
Putri evelyn menatap buna ara seolah-olah meminta untuk diam terlebih dahulu. Buna ara yang mengerti dengan tatapan itu pun langsung mengangguk sambil menutup mulut nya dengan kedua telapak tangannya.
"I-iya paman aku nggak bermaksud, t-tapi aku cuman takut paman menyiksa aku kayak paman zion" ucap nathan sambil menangis ketakutan.
"Tenang jangan takut, paman zion juga tak bermaksud untuk menyakitimu tetapi ia cuman salah paham terhadap kita sehingga kamu korbannya" jelas angkasa yang ingin membantu keponakannya terlepas dari rasa traumanya.
Apakah nathan akan sembuh dari traumanya? Ikutin terus ceritanya yaa.
Bersambung~
__ADS_1