
Jedar
Bagai tersambar petir di siang bolong semua orang tercengang mendengar peryataan itu.
"L-loh kenapa kalian mau cerai?" tanya grandma glaudi yang tak percaya dengan apa yang di dengarnya apalagi setahunya buna ara dan daddy axelo adalah pasangan yang sangat serasi dan selalu romantis dimana pun mereka berada. Mengapa tiba-tiba mereka akan cerai?
"Axelo jangan bercanda kamu ya" bentak grandpa arka tak terima jika putri nya akan bercerai.
"Sudahlah jangan di perpanjang lagi. Lagipula anakku menikahi anakmu hanya untuk merenggut kekuasaan keluarga leonard saja bukan atas dasar cinta" ujar grandpa allan ikut berbicara
Jedar
Sekali lagi semua tak percaya dengan yang mereka dengar lagi. Pernyataan yang sungguh membuat grandpa arka dan vyano langsung marah seketika.
Bahkan nathan yang sudah menganggap buna ara sebagai ibu kandungnya pun mengepalkan tangan kecilnya.
"P-pah" ucap grandma vian tak percaya dengan kenyataan bahwa suami dan anaknya itu benar-benar kejam.
"Huh ayah sepertinya keputusan ini yang terbaik. Aku sudah capek pura-pura bahagia di depan kalian" ujar buna ara seraya tersenyum miris.
"Buna ang cabal ya lathi-lathi thaya om acelo emang haluc ditinggal in buthan di punut. Bahthan thalo pellu thita bakar dia" seru tari yang ikut tak rela jika buna angkatnya di perlakukan seperti itu.
"Hahaha bakarnya silahkan. Kalian udah gak punya apa-apa lagi karena semua aset sudah menjadi milikku" ujar daddy aelo dengan seringai jahat di wajahnya.
"Cukup" bentak vyano yang sudah lelah dengan semua drama yang ia alami hari ini.
Vyano mendekat ke arah ayahnya dan sedikit melompat hingga akhirnya…
Brugh
Satu bogeman dan satu tendangan mendarat di wajah mulus dan perut milik ayahnya.
"Kamu!!" geram daddy axelo tak terima jika ia di pukul oleh sang anak di depan semua orang.
Daddy Aaelo mendekat ke arah dan hendak memukul wajah anaknya. Namun tangannya terhenti di udara karena buna ara yang menahannya.
"Jangan pernah sakiti anakku" seru buna ara dengan mata tajamnya.
__ADS_1
"Tapi anak seperti dia pantas di beri pelajaran karena telah berani memukul ayahnya" ujar daddy axelo dengan tatapan tak kalah tajam.
"Ada saatnya jika kita harus memukul orang tua apalagi orang itu telah menyakiti seorang ibu" tegas nathan dengan aura gelapnya.
"Dan kamu termasuk orang itu. Kau pikir aku tak tahu jika setiap malam ibuku menangis? Selama ini aku diam karena aku menghargai mu sebagai ayahku. Tapi julukan itu sudah tak pantas bagimu yang telah menyakiti ibuku" sambung vyano yang mulai mengeluarkan aura gelapnya.
"Penjaga usir mereka dari sini" titah daddy axelo tanpa perasaan pada penjaga yang sedari tadi sudah berada di sekitar mereka.
"Dan untukmu gio dan vian, masuk ke dalam" titah grandpa allan pada istrinya.
"Tapi……"
Tanpa menunggu apa-apa lagi grandpa allan langsung menarik tangan grandma vian dan gio ke dalam diikuti oleh daddy axelo.
Sedangkan yang lainnya telah berada di depan gerbang mansion dengan barang-barang mereka yang sebelumnya telah di siapkan.
"Semuanya" panggil dika yang menghampiri mereka dengan babby divan digendongannya.
Semua orang menoleh ke arah Dika.
"Kamu disini nak?" tanya grandma glaudi pada anaknya.
"Bun… Nanti kalian tinggal dimana? kalau di rumah kami itu tak memungkinkan bun" ujar nathan sendu karena merasa ibu angkatnya itu sangat memprihatikan daripada dirinya yang masih mempunyai tempat tinggal.
"Iya ra. Rumah kita semuanya disita sama calon mantan suami mu. Terus kita bakal tinggal dimana? Ga mungkin kan tinggal di rumah nak adnan" timpal grandpa arka.
"Huhh"
Buna Ara membuang nafas kasar dan berpikir akan tinggal dimana.
"Kita akan tinggal di rumah adnan buat sementara" ucap buna ara yang tak tahu lagi harus tinggal dimana.
"Asyik ara bakal nginep dong di rumah adnan. Horee" pekik adnan bahagia karena rumahnya akan semakin ramai.
"Tapi bun rumah kita kan sempit" ujar nathan yang sudah memperkirakan bahwa rumah itu tak kan cukup untuk menampung keluarga buna ara.
"Iya tuh. Lagipula ayah bisa bodoh banget kok ayah langsung ngerestuin kalian dan nanda tanganin dokumen tanpa di baca sampai gini akhirnya" timpal grandpa arka merutuki kebodohannya.
__ADS_1
"Sudahlah yah. Ara takut penyakit ayah kumat kalau mikirin ini. Ara bakal minta bantuan sama temen ara kok yah. Ara juga bakal hubungin arya sama angkasa buat bantu Ara kok" jelas buna ara menenangkan ayahnya.
"Tenang semuanya. Nathan sama bang vyano bakal bantuin kalian buat ngerebut perusahaan itu lagi kok, ya kan bang" ujar nathan membuat semua orang menatapnya.
"Yoi nat, gue bakal bantuin kok. Lagipula lu ngelakuin ini demi keluarga gue. Kenapa nggak gue bantu coba" timpal vyano setuju.
"Buna juga bakal bantu kalian" ucap buna ara sambil tersenyum.
"Tali juga bathal bantuin tho" balas tari tak mau kalah dengan yang lain.
"Ich thita ang macih cetholah mana munthin bica bantu meletha" ujar airin yang tak tau kemampuan tari.
"Eitc thata ciapa athu nda bica? thamu aja ang nda tau themampuan athu" ujar tari yang hendak sombong.
"Iya-iya buna tau kamu pinter. Udah ah yu ke rumah adnan" ujar Buna Ara yang mengerti alur pembicaraan tari.
"Iya"
Mereka semua pun menuju rumah adnan dengan naik angkutan umum karena uang mereka yang tak cukup untuk membayar taksi dan memang jarak rumah adnan dengan mansion grance cukup jauh.
Setelah 45 menit di dalam angkot dan berdesakan dengan penumpang yang lainnya akhirnya mereka sampai di depan gang rumah adnan.
Semua orang turun dari angkut itu dan tak lupa buna ara membayar terlebih dahulu. Nathan dan tari berjalan terlebih dahulu dan disusul oleh yang lainnya.
Nathan membukakan pintu rumah kecil itu dan mempersilahkan nya untuk masuk. Buna ara sangat bersyukur karena anak sahabatnya itu sangat baik seperti adnan dan ibunya.
"Terimakasih sudah mengizinkan kami untuk tinggal disini ya" ucap buna ara pada adnan tari dan nathan.
"Ga usah sungkan bun, lagipula disini buna hanya korban dari sifat om axelo bukan" ujar nathan yang tak mau bunanya merasa sungkan terhadap dirinya.
"Harusnya kita yang bilang makasih kan ara udah mau nginep di rumah adnan" ujar adnan sambil tersenyum polos.
Yang lainnya langsung membalas senyuman adnan dengan senyuman manis yang mereka miliki.
Beruntung semuanya mudah beradaptasi sehingga keluarga itu tidak merasa jijik tinggal di rumah adnan yang kecil dan cukup kumuh namun maaih layak untuk ditinggali.
Bersambung~
__ADS_1