Mr. Bodoh & Anak Genius

Mr. Bodoh & Anak Genius
14 (Revisi)


__ADS_3

Usai makan siang, para pria seperti grandpa arka, grandpa alan daddy axelo dan vyano kembali lagi ke kantor. Dan sisanya akan kembali ke kediaman grance.


"Yaampun tadi seru banget loh ih, tapi kayaknya ada yang kurang deh, tapi apa?" tanya grandma glaudi ketika mereka telah berada di ruang keluarga.


"Iya kayak ada yang kurang, tapi apa ya jeng?" timpal grandma vian seraya mengingat-ingat.


"Entahlah jeng, coba ingat-ingat"


Grandma glaudi dan grandma vian sama-sama berusaha mengingat apa yang mereka lupakan. Namun di detik kemudian mereka terkejut.


"Anak-anak kita!!" pekik keduanya seraya cemas dengan keadaan anak-anaknya yang akan kembali siang ini.


"Bundaa kalian ngelupain kita" pekik dua orang anak yang seusia dengan vyano dan vyunda.


Seketika mereka semua menoleh ke arah sumber suara. Para grandma hanya bisa menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal ketika melihat anak-anak mereka.


Mereka adalah gio dan elizabeth/el yang merupakan anak bungsu dari kedua grandma itu. Selama ini mereka tinggal di negara B karena acara di sekolahnya. Dan hari ini lah, hari dimana mereka kembali ke negaranya.


"Eh kalian, sama siapa ke sini nya nak?" tanya grandma glaudi berbosa-basi supaya bisa terhindar dari kekesalan sang anak.


"Perang ke tiga akan di mulai" celetuk dika yang baru pulang rapat bersama baby divan di gendongan nya.


"Hush jangan ngomporin, mending ke kamar gih istirahat. Kasihan tuh baby divan udah ngantuk kek gitu" tegur buna ara yang tak mau jika kedua adiknya akan semakin mengamuk.


Dika menganggukkan kepalanya dan pergi ke kamarnya. Namun sebelum ia pergi ke kamar, ia membisikkan sesuatu di telinga adik-adiknya.


"Kakak syetaaaaan" pekik keduanya yang sangat kesal dengan bisikan dika yang non akhlaq seperti axelo.


Setelah puas memaki-maki sang kakak, mereka berdua pun beralih menatap ibu mereka.


"Ibu jahat ih, masa anak sendiri di lupain ckckck" ucap el seraya geleng-geleng kepala.


"Ekhem, salahin ayah mu aja karena dia yang gak jemput kamu" ucap grandma glaudi yang tak mau di salahkan.


"Iya tuh ayah yang gak mau ngejemput kalian" timpal grandma vian yang ikut menyalahkan suaminya.


"Wah jadi ayah nih yang lupa ngejemput aku, awas aja ayah!!" geram gio sambil mengepalkan tangannya.


"Udah-udah. Sekarang kan kalian udah ada disini, pasti kalian capek kan? Mending kalian istirahat dulu gih" lerai buna ara yang membuat kedua ibu itu menghela nafas lega karena merasa terselamatkan.


"Tali ayo main di tamal athu" ajak airin tiba-tiba.

__ADS_1


Sontak el dan gio tersadar jika di ruangan itu ada orang lain selain kakak dan kedua ibu mereka.


"E-eh ada orang toh, maaf ya kita gak sadar hehehe. Bisalah terlanjur emosi" ucap el sambil cengengesan menghilangkan rasa malunya itu.


Sedang gio, sudah ga usah di tanyakan lagi. Itu anak sudah terbirit-birit lari menuju kamar yang sering ia tempati jika sedang menginap di kediaman grance.


"Nda papa to, agy pula thami nda telganggu" ucap tari sambil tersenyum manis.


"Hehehe sekali lagi maaf yah, duh jadi malu nih" ujarnya seraya pamit pergi ke kamar.


"Makanya jangan emosi dulu dek, jadi malu kan" gumam grandma glaudi pelan.


"Ya udah sana gih, daripada makin malu loh" ucap buna ara yang secara tak langsung mengusir el dengan halus.


El menganggukkan kepalanya dan pergi ke kamarnya. Toh buat apa juga ia berada di ruangan itu sedangkan rasa malunya sudah setinggi gunung.


Setelah kepergian el, buna ara beralih pada nathan yang sedang memainkan ponselnya.


"Nathan ayo ikut buna ke ruang kerja" ajak buna ara dengan nada seperti yang memerintah.


Nathan mengalihkan pandangannya sebentar kemudian mengangguk dan menyimpan ponselnya.


"Kalian mau kemana?" tanya adnan pada sahabat dan anaknya.


"Loh kok aku sih bun?"


Baru saja ingin protes tapi bunanya sudah pergi duluan membuatnya sangat kesal.


"Yang cabal ya ta, tami te tamal dulu. Papayy" ujar airin seraya menarik tari menuju kamarnya.


"What? Kok gue jadi di tinggalin sih. Ckckck"


Vyunda mengambil remote televisi dan menyalakan televisi itu. Ia maupun adnan sangat menikmati acara televisi tersebut.


......................


"Nah jadi gitu cara jadi hackers" ucap buna ara setelah berjam-jam mengajari nathan tentang cara menjadi hackers.


Nathan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya seraya mencoba ulang apa yang telah buna ara ajarkan.


"Woww ternyata kamu lebih hebat dari buna ya nat" pekik buna ara terkejut ketika nathan berhasil membobol data perusahaan nya yang di jaga dengan sangat ketat.

__ADS_1


"Sekarang aku ngerti bun , makasih karena udah mau ngajarin aku jadi hackers" ucap nathan seraya memeluk kaki buna ara.


Buna ara menganggukkan kepalanya seraya tersenyum dan mengelus-elus puncak kepala nathan.


"Ya udah, sekarang udah malem loh. Ayo turun, buna mau bantuin bibi masak makan malem" ujarnya seraya melepaskan pelukan nathan.


Nathan hanya mengangguk dan berjalan mengikuti buna ara.


"Ayah lagi apa?" tanya nathan ketika menghampiri airin, tari dan juga sang ayah.


"Main lempar-lemparan nat" jawabnya dengan polos. "Nathan mau ikutan ga?" tanyanya yang berniat mengajak nathan untuk bermain.


"Ngga, nathan mau nyimak aja" tolak nathan secara langsung.


Hampir 30 menit mereka bermain dan sudah beberapa putaran mereka lalui.


Tiba-tiba saja seorang pelayan menghampiri mereka dan menyuruh mereka pergi ke meja makan sesuai perintah buna ara.


"Udah di panggil tuh. Ayo ke sana" ajak nathan pada ketiga orang itu.


Adnan dan tari mengangguk sedangkan airin malah mengamuk karena permainan mereka belum selesai.


"Nanti kan bisa di lanjutkan" tutur nathan memberi pengertian pada airin.


Airin yang awalnya menangis pun kini kembali tenang dan ikut pergi ke ruang makan.


Di sana sudah ada duo grandma bersama pasangannya, twins E & A, Gio , vyunda dan buna ara.


"Loh daddy cama ta iano mana bun?" tanya airin ketika semua orang telah duduk di kursi masing-masing.


"Mereka lembut, katanya bakal pulang larut malem" jawab buna ara jujur, sesuai dengan apa yang di katakan suaminya ketika sedang melakukan panggilan telepon dengannya. "Selamat makan" lanjutnya seraya berdoa.


Mereka semua mengikuti buna ara, dan mereka memakan makanan yang telah di sediakan dengan penuh hikmat meski menunya sederhana sekali.


"Macatan buna ala emang bect" celetuk tari ketika mereka telah selesai makan.


"Syukurlah kalau kamu suka tari" kata buna ara yang sedang membantu pelayan. "Anak-anak lebih baik kalian bersihin diri dan tidur gih" lanjutnya pada mereka.


Anak-anak itu menganggukkan kepalanya dan pergi ke kamar yang biasa mereka tempati.


Setelah itu pun para orang tua berbubaran dan beristirahat.

__ADS_1


Bersambung~



__ADS_2