Mr. Bodoh & Anak Genius

Mr. Bodoh & Anak Genius
46 (Reivisi)


__ADS_3

Sore pun menjelang.


El, vyunda, airin dan tari sudah pulang ke rumah dan kini mereka tengah mengerjakan pr. Wajah al, airin dan tari tampak ceria seperti sebelumnya, namun berbeda dengan mereka wajah el dan vyunda tampak di tekuk membuat Dika grandma glaudi dan grandpa arka heran di buatnya.


"Itu wajah kenapa? kayak baju yang belum di setrika aja kusut" tanya dika yang membuat wajah mereka semakin di tekuk.


"Ich paman maca thata cama bibi di cama-camain cama baju , no no no" desis airin yang tak suka kakak dan bibinya di sama-sama kan dengan baju yang belum di setrika.


"Tapi muka mereka kan emang kusut" balas dika jujur.


"Iya cih kucut thaya embe ang beyum dicicilin lambutnya" ucap airin yang membuat wajah el dan vyunda yang awalnya cerah karena di belas airin kembali kusut seketika.


"Waduh itu mah lebih parah dari baju atuh neng" ucap dika sambil geleng-geleng kepala.


"Ih kalian mah nyebelin" kesal vyunda seraya masuk kembali ke dalam kamarnya.


El menyusul keponakannya itu karena merasa senasib sedangkan semua orang yang berada di sana hanya saling pandang dan mengangkat bahu masing-masing.


Tak berselang lama.


"Assalamualaikum" salam buna ara, vyano dan juga nathan.


"Waalaikumsalam" balas grandma glaudi dan grandpa arka yang sedang mengamati pr dari cucu-cucu nya.


"Loh ibu sendiri? kemana dika sama yang lain?" tanya buna Ara seraya mengamati sekelilingnya.


"Kalo dika sama al dia lagi bikinin divan susu di temenin sama adnan, kalo el sama vyunda dia lagi di kamar mereka ga tau lagi ngapain" jelas grandma glaudi.


Buna ara mengangguk dan mengelus anak bungsunya. "Semangat belajarnya yaa" ucapnya seraya bangkit menuju kamar el dan vyunda.


"Iya buna ailin pacti cemanat buat belajal nya" ucap airin yang langsung di balas acungan jempol oleh buna ara.


Buna ara melangkahkan kakinya menuju kamar vyunda dan el. Saat hendak membukakan pintu buna ara menguping terlebih dahulu karena mendengar suara tangis dari luar.


"Vyun apa kamu sama kayak aku? Dijauhin karena miskin?"


"Iya kak, vyunda di jauhin sama semua orang karena kita udah jadi miskin"


"Terus kita harus apa? Ga mungkin kita terus begini"

__ADS_1


"Gimana kalo kita bolos aja?"


"Itu ide yang ga terlalu bagus tapi boleh di coba"


ceklek


Buna ara membuka pintu secara tiba-tiba seraya berkacak pinggang membuat el dan vyunda dengan cepat menghapus air mata mereka.


"Eh buna/kakak ada apa?" tanya vyunda dan el serempak.


Buna ara tak menjawab pertanyaan mereka dan malah berjalan mendekati vyunda dan el.


"Vyunda el kalian tau apa artinya pertemanan?" tanya buna ara yang langsung di jawab dengan gelengan kepala oleh mereka.


Buna ara tersenyum dan mengelus kepala adik dan anaknya itu. "Pertemanan itu sulit buat di jelaskan tetapi jika seseorang yang mau berteman dengan kalian di saat kalian susah maupun senang dia adalah teman kalian yang sesungguhnya" jelas buna ara sambil mengingat tentang sahabatnya yang kini sudah berumah tangga dan tak sempat bertemu dengannya karena kesibukannya.


"Jadi kalo mereka ga mau berteman karena kita kita miskin itu artinya mereka bukan teman kita?" tanya vyunda dan el berbarengan.


Buna ara mengangkat bahunya sebagai jawaban. "Kalian tahu dulu juga buna seperti kalian, dulu kekayaan buna cukup banyak dan banyak juga yang mau berteman sama buna tetapi ketika orang tua buna bercerai dan buna hidup dengan nenek dan kakek buna dengan harta yang pas-pas an membuat mereka ifeel dan menjauhi buna. Dan sejak itu pula buna tau apa arti pertemanan sesungguhnya"


El dan vyunda mendengarkan cerita buna ara dengan jelas dan mengambil kesimpulannya bahwa pertemanan yang sejati adalah pertemanan tanpa memandang apapun.


"Jadi selama ini mereka hanya pura-pura menjadi teman kami dong kak" ucap el seraya mengepalkan tangannya karena merasa di permainkan oleh teman-temannya.


Vyunda dan el mengangguk mengerti dan memeluk buna ara. Mereka berdua masih tak menyangka bahwa kekayaan dapat mengubah semuanya dalam sekejap. Yang awalnya mau berteman dengan mereka malah menjauhi mereka karena mereka yang jatuh.


Vyunda dan el berjanji dalam hati mereka untuk mencari teman yang pantas untuk mereka. Teman yang tak memandang harta ataupun status. Teman yang selalu ada untuk mereka.


"Sudah ayo kita turun,, sebentar lagi waktu makan malam akan di mulai. Apa kalian ga mau bantu buna masak?"


"Tentu aja mau kak/ bun" ucap el dan vyunda berbarengan.


Mereka bertiga pun turun kebawah untuk memasak makan malam.


Di lantai bawah


"Om Adnan jangan gitu ihh" pekik vyano seraya mengejar adnan yang membawa ponsel miliknya.


Adnan terus berlari seraya sesekali meledek vyano. Vyano yang merasa di tantang pun langsung mempercepat langkah nya hingga tak sengaja menabrak tubuh vyunda yang baru saja turun.

__ADS_1


Brugh


"Awww" pekik mereka berdua seraya mengelus-elus bagian yang sakit.


Vyano dan vyunda saling melotot seolah-olah sedang mengibarkan bendera perang.


"Kakak/adek" ucap vyunda dan vyano serempak.


"Kaka/adek jalan tuh pake mata jangan pake kaki doang" ucap mereka berbarengan lagi.


"Idih kok nyalahin sih? kakak yang salah, udah lari-lari rumah malah adek yang di salahin sungguh terlalu" ujar vyunda dramatis.


Vyano tak menghiraukan adiknya dan memilih bangun untuk mengambil ponselnya yang tadi di bawa adnan.


"Gara-gara om sih" kesal vyano menyalahkan adnan.


Adnan mengangga tak mengerti dengan ucapan vyano sedangkan nathan ia malah geleng-geleng kepala dengan tingkah vyano.


"Salah sendiri ngejailin ayah jadi kena kan?" cibir nathan seraya mengotak-atik ponselnya.


"Yaelah gue cuman bercanda doang ga bermaksud begitu" ucap vyano mengelak.


Nathan memutar bola matanya jengah dan malah memilih untuk pergi ke dapur dan membantu grandma glaudi yang sudah memulai memasak


"Mau kemana lu nat?" teriak vyano saat melihat nathan yang sudah berjalan menjauh dari dirinya.


Buna ara menyumpal mulut vyano dengan sapu tangan yang selalu di bawanya dan menarik tangan vyano ke dapur.


El dan vyunda cekikikan melihat vyano yang terlihat pasrah pada bunanya. Mereka berdua juga mengekori buna ara ke dapur.


......................


Sementara itu, di kerajaan.


"Kak apa kita harus kembali ke negara kita? Kemungkinan di sini tak aman" ujar arya pada putri svelyn.


Putri evelyn berpikir sejenak kemudian ia menggelengkan kepalanya. Ia berdiri menghadap ke arah luar balkon.


"Masih banyak misteri yang belum kita ketahui termasuk siapa yang menyerang kerajaan ini. Aku bingung mengapa banyak musuh di kerajaan ini" ucap putri evelyn seraya memandang bintang-bintang berharap salah satu bintang itu adalah ibunya yang sedang memandangnya dari alam sana.

__ADS_1


Bersambung~



__ADS_2