
Keesokan harinya
Semua orang telah duduk di sekitar meja makan karena sekarang adalah waktunya sarapan. Namun kini mereka menunggu kedua anak perempuannya yang sedang di bangunkan oleh bibi.
Hingga berselang beberapa menit akhirnya mereka pun sampai di ruang makan dan ikut duduk di sekitar meja makan.
"Pagi bun, dad, thatha-thata cemua, glandma and glandpa" sapa tari dan Airin berbarengan.
"Pagi juga" balas mereka semua kecuali dika yang memang tidak di sapa.
"Duh sedihnya gak di sapa sama keponakan sendiri" ucap dika dengan nada menyindir karena memang hanya ia yang tak di sapa oleh airin dan tari.
"Miris banget yang ga di sapa" celetuk daddy axelo dengan wajah julid miliknya.
Seketika dika cemberut karena kejulidan sang kakak ipar.
Sedangkan kedua keponakannya saling pandang seolah sedang mengode sesuatu.
"Pagi uncle anteng" ucap mereka yang sengaja memakai pujian agar dika tidak kesal.
"Pagi juga keponakan uncle" balas dika dengan senyum manisnya karena telah di puji oleh kedua keponakan kecil yang cantik nan menggemaskan.
"Loh kok uncle doang yang di puji? Grandpa ga kan di puji kah?" tanya grandpa arka yang iri pada pujian dika.
__ADS_1
"Glandpa telalu tua buwat di puji, makana ailin nda muji glandpa" jujur airin yang membuat semua orang tertawa kecuali grandpa arka.
"Kasian banget ayah di sebut tua, hahahaha" tawa al yang paling menggema.
"Tua-tua gini kesayangan glandma glaudi lohh" ucap grandpa arka yang tak terima di bully oleh anak cucunya.
blushh
Seketika wajah grandma glaudi memerah mendengar ucapan suaminya.
"Udah tua masih aja tukang gombal!! Tapi kok aku suka ya?" gumam grandma glaudi di dalam hati.
"Ciee yang blushing tapi suka" goda buna ara yang sepertinya tahu apa isi dari hati sang ibu.
"Ih ibu ga mau ngaku" celetuk el yang sedang sarapan duluan.
"Bukan ga mau ngaku, tapi malu" jujurnya seraya menutup wajahnya.
"Tuh kan bener" seru vyunda, el, dan buna ara berbarengan.
"Yaampun kalian kompak banget, untung grandma ga jantungan" ujar grandma vian yang memegang jantungnya.
Ketiga orang itu hanya cengengesan dengan wajah yang tak berdosa.
__ADS_1
"AYOLAH SAMPAI KAPAN KALIAN NGOBROL TERUS? GIO UDAH LAPAR LOH!!" kesal gio yang sedari menahan rasa laparnya.
"Uncle telapalan talena pelutna itu cama taya gentong butan talena tami" ujar airin yang suka sekali membully adik dari sang ayah.
"What? Airin perutku itu bukan gentong loh but cacingnya aja yang kebanyakan. Makanya aku kelaperan" kata gio sambil mengelus-elus perutnya yang cukup berisi.
"Cacing ga punya dosa, ga usah di salahin om" celetuk vyano yang ikutan nimbrung.
"Tuh tan tata ailin juga apa!! Matana pelut om celalu telapalan!! Huuuu" sorak airin dengan senyum yang puas karena berhasil membully sang om.
"Oh my God sepertinya keributan ini akan terus menjadi" kata grandma vian yang sudah pasrah dengan keributan di atas meja makan.
"Kakak ipar lihatlah anak-anak mu!! Mereka membully ku habis-habisan huaa" adu gio dengan tangis palsu.
"Udah-udah jangan ribut!! Cepet sarapannya keburu makanannya jadi dingin loh" lerai buna ara yang ikut pusing dengan drama itu.
"Baik kak/bun" ucap mereka serempak.
Dan akhirnya mereka pun sarapan dengan tenang tanpa ada drama lagi.
Bersambung~
__ADS_1