
Berjam-jam berlalu, perperangan itu masih saja belum berakhir. Baik dari pihak raja erwand maupun dari pihak pangeran dikri mereka masih saja tak mau kalah.
Perlahan-lahan tenaga mereka mulai terkuras. Putri evelyn ingin sekali mundur dari daerah perperangan itu karena merasakan dadanya yang kembali nyeri namun apa boleh buat karena baru saja selangkah ia akan keluar seseorang langsung menghadangnya.
Dengan cepat arya mengambil pedangnya karena melihat sang kakak yang sudah mulai letih dan hampir saja pingsan.
......................
Berbanding terbalik dengan keadaan di istana,, di mansion tempat keluarga baru buna ara tengah terjadi kehebohan di karena kan adnan yang berulah kepada tetangga baru mereka.
"Ih ini tuh jatuhnya ke kepala adnan jadi adnan yang punya" ucap adnan seraya menarik mangga yang berada di tangan seorang wanita cantik.
"Tapi ini buah pohon saya mas" balas wanita itu tak mau kalah.
"Sudah-sudah, memangnya berapa harga mangga ini? biar saya saja yang bayar daripada ribut gini" ucap Dika pengertian seraya berusaha mengambil dompet dari celananya.
Wanita itu menatap dika dengan tatapan meremehkan seraya menarik mangga itu.
"Lima puluh juta. Kenapa hah? Emangnya situ bisa bayar? Gaji situ aja cuma beberapa persen dari mangga saya" ujar wanita itu meremehkan dika.
Dika terbelalak dengan harga dan perkataan wanita itu begitu juga dengan grandpa arka dan grandma glaudi yang menyimak pertengkaran mereka.
"Buset dah ni mangga apa kinderj*y mahal banget" ucap Dika tak percaya.
"Emang kinderj*y harganya lima puluh juta ya?" tanya adnan polos karena memang selama ini ia tak pernah tahu harga-harga dari cemilannya.
Jangankan harga cemilan untuk tanggal ulang tahun dirinya saja ia lupa.
"Enggak sih, kinderj*y cuman 20 ribu an doang itu juga dapet bonus batagor kuah" jawab dika sambil membayangkan makanan tersebut.
Grandpa arka menepuk pundak dika yang hampir meneteskan air liur dengan pelan. "Jangan sampe ngiler juga kali kasian tuh babby divan dapet hujan bau" ucap grandpa arka yang menyadarkan dika.
Berbeda dengan dika, adnan malah meletakkan tangannya di udara. Jelas saja tindakan itu membuat mereka bingung.
"Ngapain kau gitu-gituan?" tanya wanita itu heran..
__ADS_1
"Enggak hujan kok" ucap adnan pelan.
Semua orang menepuk jidatnya kecuali wanita itu karena ia tak tahu apa-apa tentang tetangga barunya.
"Emang ga hujan napa lu ngira hujan?" tanya tetangga itu heran.
"Tapi kata ayah arka…"
"Udah lupakan saja percuma di jelasin juga nak adnan tak akan mengerti" potong grandpa arka sebelum adnan selesai berbicara karena akan semakin rumit urusannya jika dibiarkan.
Adnan memajukan bibirnya pertanda kesal dan menghentak-hentak kan kakinya. Wanita yang tadinya marah-marah pada adnan seketika langsung gemas padanya karena tingkahnya yang cukup lucu.
"Kok gemes ya?" ucapnya pada diri sendiri.
Wanita yang sering di panggil silvia itu mendekat pada adnan dan mencubit pipinya dengan gemas. Bukannya marah adnan malah tertawa ketika silvia mencubit-cubit pipinya.
Dika, grandpa arka dan grandma glaudi menatap heran pada Silvia yang awalnya angkuh menjadi ramah. Silvia yang menyadari itu pun berdehem untuk menetralkan rasa malunya.
"Ekhem, baiklah buat kalian saja mangga itu karena aku sudah tak menginginkan nya lagi. Yang ku inginkan sekarang pria bodoh ini supaya aku bisa bermain dengannya" ujar silvia tak tahu malu.
"Ga mau, kamu jahat adnan ga mau main sama kamu"
Adnan langsung melengos pergi begitu saja setelah mendengar permintaan silvia.
"Nak Silvia, Adnan itu udah punya istri jadi dia ga mungkin main ke rumah wanita lain selain bersama istrinya. Lagipula dia juga suka bertingkah childris kami takut akan merepotkan kamu nak" jelas grandpa arka yang di angguki grandma glaudi dan juga dika.
Silvia nampak berpikir sejenak kemudian ia mengeluarkan selembar kertas. Dika, grandpa arka dan grandma glaudi heran dengan tindakan silvia namun setelah mendengar perkataan silvia mereka langsung terkejut seketika.
"Apa? Kamu mau membeli adnan? Hei jangan gila kamu ya. Mau gimana pun adnan keluarga kita dan ga mungkin kita jual" sarkas dika yang tak suka dengan sikap silvia.
"Baiklah jika kalian tak mau karena aku pasti akan mendapatkannya. Apalagi aku seorang anak pembisnis yang terkenal pasti akan mudah bagi ku untuk mendapatkannya" ujar silvia percaya diri.
Salah satu pengawal yang bersembunyi di balik pohon hanya memandang iba ke arah silvia tanpa ingin menegurnya.
"Semoga saja dia akan selamat dari sergapan tuan putri evelyn" do'a pengawal itu.
__ADS_1
Tak lama ponsel milik pengawal itu bergetar pertanda waktunya mereka bergantian shift. Pengawal itu berjalan perlahan-lahan tanpa sepengetahuan orang-orang yang berada di sana.
"Ck terserahmu saja aku tak peduli kau akan melakukan apa karena kau bukan istriku" ucap dika seraya pergi bersama babby divan karena matahari yang sudah mulai terik.
"Apa kalian yakin tak akan menjualnya padaku?" tanya silvia dengan mengacungkan selembar kertas itu.
"Maaf dia bukan anakku maka aku tak berhak menjualnya" ucap grandpa arka seraya masuk begitu juga dengan grandma glaudi ia menolaknya mentah-mentah dan menyusul sang suami.
Silvia menghentak-hentak kan kakinya karena kesal dan pergi menuju mansion milik keluarganya.
......................
Setelah setengah hari berlalu pangeran dikri memutuskan untuk mundur karena pasukan mereka yang sudah mulai lelah. Begitu juga dengan pasukan raja erwand, mereka memutuskan untuk beristirahat dengan kewaspadaan tingkat tinggi.
Putri Evelyn telah di obati oleh tabib istana karena luka tembakan yang masih cukup basah. Arya sendiri memutuskan untuk mengobati dirinya sendiri dengan bantuan zion dan angkasa.
"Apa kakak tak apa-apa?" tanya arya yang khawatir pada sang kakak.
Meski arya tahu dengan kenyataan bahwa mereka berbeda ayah tetapi tetap saja arya menganggap putri evelyn sebagai kakak kandungnya seperti sebelumnya.
Putri evelyn menggelengkan kepalanya pertanda bahwa ia baik-baik saja.
Tak berselang lama raja erwand masuk dengan dua buah nampan di tangannya. Raja erwand meletakkan nampan itu di bantu oleh pengawal yang selalu mengikutinya.
"Kalian berempat makanlah, aku tak memberikan makanan itu racun karena bagaimanapun kalian tak bersalah" ucap raja erwand dan kemudian ia berlalu pergi.
Mereka berempat saling pandang dan kemudian putri evelyn mengangguk karena percaya dengan sang ayah.
Di kamar raja erwand berada.
"Sayang maafkan aku yang telah memisahkan mereka dan membunuh kak mira tetapi aku melakukan ini untuk pembalasan atas kesalahan kak edward sayang. Aku berjanji akan membalaskan kematian mu pada Edward dengan perkalian yang tak bisa di hitung jari" ucap raja erwand pada foto mendiang istrinya.
Bersambung~
__ADS_1