Mr. Bodoh & Anak Genius

Mr. Bodoh & Anak Genius
66(Revisi)


__ADS_3

"Adnan" panggil paman rendy yang terkesan lirih.


Adnan yang mendengar samar-samar suara pamannya pun langsung menghampirinya dan memeluknya dengan erat. Acara ceramah bunda nana pun terhenti karena paman rendy yang sudah bangun dari tidurnya.


"Udah bangun paman? Apa kami membangunkan paman?" tanya bunda nana yang merasa tak enak hati karena telah membangunkan paman dari suaminya itu.


Paman rendy menggelengkan kepalanya lemah seraya berusaha untuk duduk. Bunda nana yang melihat itu pun langsung membantunya.


"Kalian tidak membangunkan paman, melainkan paman yang memang tak tidur sedari tadi" ucap paman rendy setelah berhasil duduk.


"Oh ya?" bunda nana memicingkan matanya tak percaya karena memang paman rendy sangat terlihat sedang tidur sehingga ia dapat terkecoh.


Paman rendy hanya mengangguk tanpa berniat untuk menjawab ataupun mengeluarkan suara. Pandangannya hanya lurus ke depan dan mengingat anggota keluarganya yang lain.


tes


Satu bulir air mata pun menetes di pipi paman rendy membuat adnan yang melihatnya langsung menghapus air mata itu menggunakan telapak tangannya.


"Paman kenapa? Jangan nangis kalo nggak adnan juga ikutan nangis" ujar adnan dengan suara yang lama kelamaan menjadi parau seperti hendak menangis.

__ADS_1


"I'm oke nan" ucap paman rendy seraya menghapus bulir air matanya agar keponakannya tidak sedih.


"I'm oke itu apa?" tanya adnan polos membuat bunda nana terkekeh geli dengan pertanyaannya.


"Itu artinya aku baik-baik saja sayang" jawab bunda nana yang membuat adnan mengangguk-angguk kan kepalanya tanda mengerti.


"Kakek kok kakek disini sendirian? Bahkan disini ga ada siapa-siapa lagi selain kita" ucap nathan yang celingak-celinguk mencari keberadaan orang lain di ruangan itu.


Mendengar pertanyaan dari cucunya paman rendy hanya bisa tertunduk lesu. "Mereka tidak mau mengurusku, bahkan mereka mengusir ku karena aku berpura-pura di pecat" jawab paman rendy dengan nada lirih.


Sontak bunda nana dan kedua anaknya tercengang mendengar hal itu. Adnan yang melihat pamannya seperti sedang sedih pun memeluknya dengan erat menyalurkan rasa nyaman dari dirinya.


"Glandpa anan cedih than ada tali dicini" celetuk tari seraya menggoyangkan kedua lengannya sehingga membuatnya terlihat tampak imut di depan paman rendy.


Paman rendy tersenyum manis pada cucunya dan mengusap-usap kepalanya dengan lembut. Ia benar-benar tak menyangka dapat mendapatkan keluarga yang benar-benar tulus dibandingkan keluarga kandungnya yang gila harta.


"Oh ya na, bolehkah paman bertanya?" tanya paman rendy dengan tatapan serius.


Bunda nana yang awalnya tersenyum manis langsung menatap paman rendy dengan tatapan penuh tanya.

__ADS_1


"Bertanya apa paman?"


Paman rendy tampak menghela nafas sejenak sebelum menanyakan suatu hal yang menjadi teka-teki beberapa tahun silam.


"Apakah kau yang membuat perusahaan alvendra bangkrut dan membeli perusahaan itu waktu setahun yang lalu?"


Bunda nana yang mendengar pertanyaan itu tampak menghela nafas sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya tanda bahwa itu semua benar.


"Mengapa kau melakukan itu? Karena mu aku tak bisa menebus adikku" lirih paman rendy seraya menundukkan kepalanya.


"Aku melakukan itu hanya sebatas membalas rasa sakit adnan saja paman. Tapi tenanglah adikmu atau juga ibunya adnan dia bersamaku. Tapi sayang kondisi ia tak baik-baik saja" ujar bunda nana yang membuat paman rendy terkejut, khawatir sekaligus senang karena sang adik yg dikiranya telah meninggal ternyata masih hidup.


"Benarkah? Lalu jenazah itu?" paman rendy tampak berpikir namun bunda nana langsung memberitahukan suatu hal yang membuatnya lebih terkejut.


"Itu bukan ibunya adnan, melainkan istri kedua dari ayahnya adnan. Selama ini aku memang sengaja menyembunyikan dia karena ia selalu di siks* oleh suaminya" ujar bunda nana yang membuat paman rendy terkejut sehingga pingsan.


Bersambung~


__ADS_1


__ADS_2