
"Apa ada yang bisa ku bantu mas nathan?" tanya luna yang sungkan pada nathan.
"Cuci sayur itu saja"
Luna menganggukkan kepalanya patuh dan melakukan apa yang di perintahkan oleh nathan. Sedangkan laura yang melihat itu pun tersenyum manis seraya memperhatikan keduanya.
"Kalian selasi" celetuk laura yang membuat luna menoleh, sedangkan nathan hanya cuek dan melanjutkan acara memasaknya.
Beberapa saat kemudian makanan pun sudah habis. Laura langsung izin ke kamarnya sedangkan nathan akan merakit pernak-pernik yang akan di jual esok hari.
"Wah ternyata kau hebat dalam membuat pernak-pernik seperti ini yah" puji luna yang kagum pada nathan.
"Aku juga mau dong bikin ini, bisa ajarin gak?" tanyanya yang sepertinya tertarik menjadi pengrajin.
Sontak pertanyaan luna membuat nathan menoleh kepadanya. "Baiklah akan ku ajarkan" ucapnya seraya menyuruh luna untuk melakukan apa yang ia lakukan.
Dengan perlahan namun pasti, akhirnya luna pun dapat membuat sebuah gelang yang terbuat dari tali dan kerang.
"Woah kau hebat bisa mengajariku seperti ini" ucap luna dengan riang membuat nathan menatapnya dengan heran.
"Memangnya guru-guru mu tidak bisa mengajarimu?"
"Hum, dulu aku seorang yang pintar tetapi karena aku trauma aku jadi sulit memahami apapun"
__ADS_1
Nathan menganggukkan kepalanya paham dengan apa yang di maksud luna. Namun di detik kemudian ia jadi teringat sang ayah. Ayah yang selalu ia rawat saat kecil karena lukanya. Ah nathan jadi merindukan ayahnya.
"Kau kenapa? Apa aku salah bicara?" tanya luna dengan hati-hati takut nathan tersinggung.
Nathan hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Senyum yang sebelumnya tak pernah ia perlihatkan kecuali kepada sang buah hati setelah 3 tahun lamanya.
"Senyum itu sangat manis" gumam luna yang terpesona dengan senyuman nathan.
"Hey kau kenapa?"
Nathan menggoyang-goyangkan tubuh luna membuat empunya tersadar dan malu karena ketahuan memandangi wajah nathan.
"Aku tahu aku tampan, kau tak perlu memandangiku seperti itu" ucapnya penuh percaya diri membuat luna yang awalnya mengaguminya langsung mencibirnya.
Hingga beberapa jam kemudian.
"Sebaiknya kau tidur, ini sudah malam. Tidak baik ibu hamil tidur malam-malam" ujar nathan perhatian membuat luna yang jarang di perhatikan oleh siapapun tersenyum manis.
"Terimakasih atas perhatiannya, apa mau aku bantu kau tuk berbaring?"
"Tidak usah, di kamarku sudah ada alat yang akan membantuku naik" ujar nathan apa adanya.
Luna menganggukkan kepalanya dan pamit untuk pergi tidur.
__ADS_1
Setelah kepergian luna.
"Apakah dia gadis yang aku cari?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.
"Ah bodoh, seharusnya aku tak pergi ke bar saat itu"
Kini nathan sangat-sangat menyesal, andai saja ia tak menerima saran dari teman-temannya mungkin ia tak akan merasa bersalah seperti ini. Ah andai saja waktu bisa di ulang, mungkin nathan akan tetap mengurung dirinya di kamar.
tring
Suara ponsel nathan berbunyi membuat nathan tersadar dari lamunannya dan langsung membuka benda pipihnya itu.
Kening nathan seketika mengkerut melihat pesan itu ternyata dari sang ayah yang mengirimkan sebuah dokumen.
"Dokumen apa ini? Apa ayah mengetahui semuanya?" gumamnya penuh tanya.
Karena penasaran, nathan pun membuka dokumen tersebut. Disana tercantum beberapa data tentang orang tua kandung laura.
"Ternyata laura anak yang di buang" gumamnya tersenyum ketir mengingat laura yang merindukan sosok ibu.
tring
Ayah nathan kembali mengirimkan sebuah pesan dengan dokumen kedua yang membuat nathan kaget. Bagaimana bisa ayahnya mengetahui segalanya? Bukannya ia sudah menutupi semuanya dengan baik?
__ADS_1
Bersambung~