
Nathan mengerjapkan matanya dan memperhatikan sekelilingnya. Ia mengerutkan keningnya ketika menyadari bahwa dirinya berada di tempat yang asing.
Ingatan nathan langsung memutar pada kejadian di depan kampus saat ia membuka ponselnya untuk memesan taksi dan tiba-tiba ada yang membekap mulutnya sehingga ia jatuh pingsan.
"Wah calon pangeran mahkota ternyata sudah bangun" seru seseorang sambil bertepuk tangan.
Karena pencahayaan yang minim membuat nathan tak bisa melihat wajah orang itu.
"Siapa kau? Dan apa maksud mu tentang pangeran mahkota?" tanya nathan yang berusaha setenang mungkin.
"Wah ternyata pangeran mahkota tidak mengetahui identitas nya hahaha" ujar orang itu lagi.
"Jawab pertanyaan ku" pekik nathan yang mulai ketakutan.
Meski dirinya adalah anak genius tetapi anak kecil tetaplah anak kecil. Jika sedang di culik seperti ini, pasti ia akan ketakutan.
"Hmm, pangeran yang satu ini ternyata penakut yaa" ucapnya lagi.
"Perkenalkan aku zion kenzo lukyanova, aku adalah musuh ibu mu sekaligus adik kandung ibumu meski kami berbeda ibu" ucap zion memperkenalkan diri dan menunjukkan wajahnya.
Nathan yang mendengar itu pun mengkerut kan keningnya lagi. Mengapa sang ibu banyak musuh padahal di rumahnya sang ibu terkenal baik hati?
"Mengapa kamu memusuhi ibuku? Bukannya ibu adalah kakakmu?" tanya nathan yang berusaha memberanikan diri untuk bertanya.
"Karena ibu mu telah mengambil tahtaku. Bahkan dia kini di nobatkan menjadi putri mahkota, sedangkan aku? aku malah di buang ke jalanan oleh ayah raja" jawab zion seadanya.
"Mengapa kau di buang ke jalanan paman? Dan siapa nama ibuku?" tanya nathan lagi yang memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan informasi tentang sang ibu.
"Nama ibu mu adalah annata evelyn lukyanova. Dan dulu aku adalah seorang pangeran yang sangat baik hati. Namun suatu hari ibu ku meninggal dunia dan ayah menyalahkan ku dan adik-adik ku dan membuang kami ke negara yang berbeda" ucap zion yang mulai menceritakan kisah masa lalu sekaligus memberikan nathan informasi.
Flashback belasan tahun yang lalu
Suatu ketika ibu kandung zion yaitu amira louis lukyanova yang tak lain adalah istri kedua dari ayah handa mulai sakit-sakitan.
"Nak zion obat ibumu berada di atas meja dan berkantung putih ya. Kamu tinggal ke ruangan saya saja untuk mengambil obat itu" ucap tabib istana yang mengurus penyakit ibunya zion.
"Baik paman" ucap zion yang berumur 12 tahun kala itu.
Zion yang memang terkenal anak yang patuh pun berjalan menuju ruangan tabib dan mengambil kantung yang berwarna putih sesuai ucapan sang tabib.
__ADS_1
Zion mengantarkan obat itu pada ibunya yang sedang berbaring lemah di kamarnya dengan kedua adiknya dan sang kakak yang menemani.
"Ibu ini obatnya" ucap zion sambil memberikan obat yang diambilnya dari sang tabib yang sudah bekerja puluhan tahun lamanya.
Dan pada saat itu putri evelyn sudah kabur dari istana. Adik yang berbeda ibu dengan Zion langsung memberikan minum yang berada di atas nakas pada ibu tirinya.
Tanpa ragu permaisuri almira meminum obat itu dan tertidur. Namun keesokan harinya permaisuri Almira dinyatakan meninggal karena mengonsumsi obat yang salah.
Mendengar hal itu raja murka dan memutuskan untuk membuang anaknya yang di duga telah membunuh permaisuri almira sesuai dugaan tabib dan hukum kepercayaannya dan juga berdasarkan dari laporan para pengawal istana.
Zio dan adik-adiknya pun di buang ke negara yang berbeda.
Flashback off
"Ayah memang pilih kasih. Kakak yang waktu itu kabur saja di cari, sedangkan kami? kami malah di buang dan di pisahkan ke negara yang berbeda" ujar zion sendu.
Nathan yang merupakan tripikal anak genius pun langsung menduga-duga yang terjadi.
"Terus kenapa paman nyulik aku?" tanya nathan lagi.
"Karena kau adalah umpan untuk mendatangkan kakak pada ku sehingga aku bisa membunuhnya dan merebut tahta kerajaan" ucap zion sambil mencengkram dagu nathan.
"Pa man sa kit ja ngan di ceng kram" ucap nathan terbata-bata karena cengkraman itu.
Zion langsung melepaskan cengkeramannya dan pergi meninggalkan nathan yang di jaga ketat oleh orang-orang suruhannya.
..............
Di rumah adnan.
Semua orang telah kembali ke rumah adnan kecuali nathan yang sebelumnya telah mengirim pesan bahwa akan pulang terlambat pada buna ara.
"Kak cuman segini doang makanannya?" tanya el yang tak terbiasa dengan makanan terbatas.
"Hemat nak" ucap grandma glaudi sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Nda boleh potles tha, tahu ini tuh ena banet thata aja ang nda mencukuli" ucap airin sambil memasukkan tahu yang sudah di celupkan pada kecap.
"Pinter nya anak Buna" puji buna ara sambil tersenyum dan menatap El dengan tatapan mengejek.
__ADS_1
"Ga usah gitu juga kali kak matanya" ucap el sambil mengalihkan pandangannya.
"Buna bang nathan tho belum pulang?" tanya tari dengan mulut yang penuh makanan.
"Telen dulu nanti keselek tari" tegur grandpa arka yang takut tari akan tersedak.
Tari mengangguk dan menelan makanan nya itu.
"Abang mu katanya mau lembur sama banyak tugas tapi entahlah buna ga tau" jawab buna ara.
Buna ara kembali menyuapkan makanan ke mulutnya. Namun pikirannya tiba-tiba menerawang pada panggilan misterius kemarin.
Dengan segera buna ara mengambil ponselnya dan menchat no yang tak di kenal itu dan mengirimkan sebuah pesan
Aku mungkin bisa datang nanti sore atau lain kali
Begitu pesan dari buna ara.
Buna ara tak menggubris balasan dari orang misterius itu dan langsung melanjutkan makannya yang sempat tertunda akibat ingatannya.
Usai makan, seperti biasa semua orang akan menonton televisi sedangkan buna ara dan grandma glaudi mencuci peralatan makan.
Semua orang hari ini menonton acara kesukaan para anak-anak dan adnan tentunya. Apalagi kalau bukan film kartun yang tayang setiap sore hari.
"Baru tau spons bisa pake celana" celetuk el yang baru pertama kali menonton film itu.
"Mathana anan onton dlama teluc adinya nda tau than thalo cponc pathe celana" ujar airin sambil pandangannya tak lepas dari televisi.
"Haish" el hanya berdesis dan tak melawan. Toh percuma melawan karena tetap akan kalah dengan sang keponakan.
"Udah jangan berisik" tegur grandpa arka yang tak mau anak-anaknya menjadi kebiasaan tak menghargai yang sedang menonton.
"Nanti adi ithan ya glandpa thalo belcici"(Nanti jadi ikan ya grandpa kalo bersisik) celetuk tari sambil tersenyum polos.
Dika, grandpa arka dan el menepuk jidatnya masing-masing sedangkan adnan dan airin mengangguk membenarkan ucapan tari.
Bersambung~
__ADS_1