
Hingga 45 menit kemudian, mereka tiba di sebuah mall yang cukup besar di kota j.
Mereka semua langsung pergi ke lantai 5 dimana area bermain anak berada.
"Anak-anak kami nunggu disini yaa, kalian aja yang bermain oke" pesan grandma glaudi yang tampak letih.
"Baik"
"Aku ikut duduk di sini aja deh grandma" ujar vyano yang malas bermain.
"Udah kau ikut" ucap gio seraya menarik vyano.
Vyano yang di tarik oleh gio hanya bisa pasrah dan mengikutinya. Mula-mula vyano hanya diam, namun di detik kemudian ia malah ikut bersenang-senang dengan permainan yang ada.
"Bang nathan tolon bantuin thami main pelmainan itu" rengek airin pada nathan sambil menunjuk-nunjukan jarinya ke arah mesin capit boneka.
"Iya bang, bonetha nya baguc-baguc" timpal tari yang ikut merengek pada nathan.
"Iya nathan ayo kita main itu" seru adnan yang ikut tertarik dengan boneka-boneka yang sangat lucu.
"Hm baiklah ayo.." putus nathan.
Mereka berempat berjalan beriringan menuju mesin capit itu.
"Mau yang mana bonekanya?" tanya nathan sambil menggerak-gerakkan tongkat kecil yang berfungsi untuk mengatur mesin itu.
"Ang lumba-lumba"
"Yang beruang"
"Ang thelinci"
Jawab adnan tari dan airin berbarengan namun tidak sama membuat nathan sedikit bingung dan tak lama kemudian mengangguk. Nathan mengarahkan tombol itu hingga pencapitnya tepat di atas boneka lumba-lumba.
Setelah merasa posisinya telah tepat nathan langsung menekan tombol merah hingga mesin itu mendapat boneka lumba-lumba. Boneka lumba-lumba itu nathan serahkan pada airin yang memang ingin boneka itu.
Setelah itu nathan kembali bermain dan mendapatkan boneka kelinci dan juga beruang yang sangat lucu versi Adnan dan tari.
Airin tari dan adnan bersorak riang sedangkan nathan hanya memasang wajah datarnya. Di sela-sela keriangan mereka vyano datang pada mereka.
"Nat tanding game basket yu,, yang kalah bakal di hukum" tantang vyano pada nathan.
Sebenarnya vyano bukan ingin sombong dan menunjukkan kemampuannya namun vyano menantang nathan hanya sebatas untuk bermain saja.
__ADS_1
"Ogah ah" tolak nathan yang malas bermain. Toh lebih baik menjaga ayahnya saja daripada ikut bermain. Begitulah pemikiran nathan.
Vyano langsung menepuk pundak nathan yang lebih pendek darinya.
"Gue tau lu takut kan? Pantes aje nolak" cibir vyano meremehkan nathan dengan tujuan agar nathan mengikuti tantangannya.
"Gue ga takut sama tantangan lo tapi gue takut ayah gue ilang" jujur nathan seraya melirik sang ayah yang tengah memeluk boneka beruang.
"Masalah ayah lu? lu bisa titipin ke tari sama adek gue" saran vyano yang membuat nathan berpikir sejenak.
Nathan melirik tari seolah bertanya apakah ia bisa menitipkan ayahnya padanya? Dan tari yang mengerti dengan itu pun langsung mengangguk.
"Hm baiklah, ayo" putus nathan kemudian.
Vyano tersenyum dan menarik tangan nathan menuju tempat bermain basket.
"Yang paling banyak masukin bola ke ring itu dia lah pemenangnya" ujar vyano menjelaskan bagaimana cara memainkannya.
"Hm, ya udah mulai" ucap nathan yang sudah memulai pemanasan untuk otot tangannya.
Vyano hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Permainan pun di mulai. Tari dan adnan bersorak mendukung nathan sedangkan airin bersorak mendukung vyano.
Semua orang berkerumun untuk menyemangati mereka. Ada yang menyemangati nathan dan ada juga yang menyemangati vyano. Dua menit berlalu permainan masih berlangsung karena point mereka yang sama-sama seri.
"Dosen kiyowo semangat" teriak salah satu pengunjung yang ternyata merupakan salah satu murid didik nathan.
"Wow ternyata anak kecil itu seorang dosen"
"Pasti anak genius tuh"
"Semoga anak saya berjodoh dengannya. Kecil-kecil dah pandai nyari uang pasti kalo udah besar kaya raya"
"Wah yang satu masih kecil tapi genius yang satu lagi juga gak kalah hebat"
"Auto sejam ni permainan"
Dan masih banyak komentar lainnya yang masuk ke dalam telinga nathan dan vyano melalui telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri.
"Semnagat na" seru adnan yang tak lelah hebok untuk menyemangati sang anak.
Selang tiga menit kemudian permainan pun berakhir karena permainan itu telah di menangkan oleh nathan dan vyano karena skornya sama-sama seri. Para pengunjung pun mulai berbubaran.
__ADS_1
"Yah sayang sekali padahal kita udah penasaran loh siapa yang bakal menang" ujar vyunda dengan lesunya.
"Cik-cik tumben lu lesu biasanya juga angkuh dan sombong hahaha" ledek gio pada keponakannya itu.
"Diem lu" kesal vyunda.
"Hm udah-udah jangan ribut. Malu loh di liatin banyak orang" lerai vyano.
"Iya lagipula permainannya juga udah berakhir. Buat apa di ributin sekarang coba?" timpal nathan yang ikut melerai.
"Hahaha kasian di omelin bocil" ledek el sambil tertawa terbahak-bahak padahal tidak ada yang lucu.
"Nda lucu loh bi" seru airin yang membela sang kakak.
"Iya-iya ngga lucu ngga" ucap el yang malas berdebat dengan keponakannya.
"Glandpa and glandma thita the lumah buna ala dulu than?" tanya tari pada grandpa dan grandma angkatnya.
"Tentu dong nak. Kalian pamit dulu sama buna ara baru deh kalian pulang" tutur grandma glaudi
"Iya tuh bener" timpal grandma Vian.
Adnan dan grandpa arka hanya diam dan memperhatikan saja. Bagi adnan pembicaraan itu sungguh membingungkan jadi ia memutuskan untuk diam saja sedangkan grandpa arka merasa pembicaraan itu tak terlalu penting dan memutuskan untuk diam juga.
Mereka semua berjalan menuju parkiran dan menaiki mobil seperti semula. Supir yang sudah siaga di dalam mobil pun langsung melajukan mobilnya ketika semua orang sudah masuk ke dalam mobil.
Di sepanjang jalan adnan tertidur pulas dengan kepala yang bersender pada jendela mobil. Sedangkan yang lainnya memilih untuk mengobrol dan menikmati perjalanan.
Beberapa menit kemudian kedua mobil itu pun masuk ke perkarangan mansion grance yang amat megah. Disana sudah ada buna ara yang telah menunggu mereka sambil menenteng sebuah koper sehingga membuat pertanyaan di benak semua orang kecuali adnan yang tampak masih mengantuk.
Mobil itu pun berhenti tepat di depan buna ara. Dengan cepat buna ara menghampiri mereka.
"Mengapa kamu bawa koper nak?" tanya grandma glaudi heran.
"Huft ara udah ga sanggup bu" tutur buna ara lesu.
Penuturan itu membuat semua orang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi ketika mereka pergi sehingga buna ara memutuskan untuk pergi?
"Emang nya ada apa?" tanya grandma vian yang tak tahu apa yang terjadi.
"Axel sama ara mutusin buat cerai mom" seru daddy Axelo yang tiba-tiba datang bersama grandpa allan.
Bersambung~
__ADS_1