Mr. Bodoh & Anak Genius

Mr. Bodoh & Anak Genius
23 (Revisi)


__ADS_3

Hari pun sudah mulai menjelang malam dan waktu pun sudah menunjukkan bahwa waktu makan malam akan tiba.


Buna ara, grandma glaudi, el dan vyunda dengan telaten nya mereka memasak di dapur kecil milik nathan dengan bahan-bahan seadanya.


El dan vyunda yang sebelumnya belum pernah menyentuh alat-alat dapur pun hanya mengikuti instruksi buna ara yang sering menyuruhnya untuk memotong dan mencuci sayuran.


"Bun mau nathan bantu gak?" tawar nathan yang baru saja datang bersama vyano.


"What?" pekik vyunda dan el kaget karena ketika mereka berdua malas di dapur, nathan sendiri malah ingin di dapur.


"Emangnya kamu bisa masak? paling juga bisa nyuci sayur doang" ujar el meremehkan nathan.


"Janan calah abang jago macak loh" ucap tari yang mendengar pembicaraan mereka. Padahal niatnya ke dapur hanya untuk mengambil minum saja.


"Waduh bang vyano kalah telak dong sama nathan" ucap vyunda yang membawa-bawa vyano.


"Ya jelac dong abang kan the bect" celetuk tari sambil mengacungkan jempolnya.


"Benell" timpal airin tak ingin kalah untuk memuji nathan.


"Kata siapa abang ga bisa masak? bisa kok" ucap vyano yang tak mau kalah dengan nathan.


"Hah? Sejak kapan kamu bisa masak nak?" tanya buna ara heran pasalnya anak-anaknya tak pernah sekalipun menyentuh alat-alat dapur bahkan hari ini adalah pertama kalinya anak-anak nya itu masuk ke dapur.


"Udah-udah langsung masak aja biar langsung buktiin" lerai El.


Vyano dan nathan pun mengangguk. Nathan membantu mengupas bawang sedangkan vyano membantu mencuci sayuran saja. Mereka semua bekerja sama memasak sehingga memasak lebih mudah dan menyenangkan.


Tari dan airin kembali ke ruang depan dimana adnan, al, dika dan grandpa arka berada. Mereka memutuskan untuk duduk di sudut ruangan karena ingin bersantai sejenak.


"Kalian abis darimana?" tanya grandpa arka yang melihat tari datang dengan segelas air di tangannya.


"Abic ambil minum glandpa coal na tali hauc" jawab airin sambil menunjuk ke arah gelas yang di bawa tari.


"Oh gitu, terus kalo bang vyano sama bang nathan pada kemana?" tanyanya lagi.


"Meletha di dapull agy bantuin glandma cama buna macath" jawab tari yang bergantian menjawab dengan airin.


"Hah? masak?" gumam grandpa arka tak percaya dengan yang didengarnya dari tari.

__ADS_1


"Iya macath glandpa malahan bang iyan nantanin bang nathan buat macath" ujar tari sambil tersenyum polos.


"Pacti mathanannya nda cedap" celetuk Airin sambil membayangkan rasa masakan hasil abangnya itu.


"Ya kalo ga masak dibuang lah" ucap al sekenanya.


"Ich nda boleh buan buan mathanan mubanjil" protes tari yang memang tak pernah membuang-buang makanan.


"Mubajil tali buthan mu banjil" ralat airin.


"Ich cama aja tho" elak tari


"Kalo mubazir itu buang-buang makanan tapi kalo mu banjir itu artinya mau banjir tari" jelas dika pada keponakan-keponakan nya itu.


Tari mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. "Ohh ditu toh thilain tali cama aja hehe" ucap tari sambil cengengesan.


"Udah jangan berisik mending juga nonton" ucap adnan yang merasa terganggu dengan suara kedua anak perempuan itu.


Airin dan tari mengangguk dan kembali menonton sedangkan grandpa arka langsung rebahan di atas karpet Piramida itu sambil menerawang langkah apa yang harus ia lakukan saat ini.


Tak berselang lama buna ara, nathan dan yang lainnya datang dengan membawa beberapa piring kosong dan piring isi makanan di setiap tangannya.


"Udah kok yah, ayo makan" ucap grandma glaudi sambil menata makanan yang sudah di masaknya.


Masakan yang terdiri dari tumis kangkung, sayur bayam sambel tahu dan tempe tak lupa juga telur dadar itu sungguh menggugah selera.


"Cuci makan dulu baru makan" ucap nathan yang tahu kebiasaan adiknya.


Airin dan tari cengengesan bersama dan langsung pergi ke kamar mandi. Begitu juga dengan yang lainnya karena sehabis masak mereka langsung menata makanan tapi tak mencuci tangan dulu.


Bahkan grandpa arka yang sama belum mencuci tangan dan hendak memakan makanan itu langsung tersindir oleh nathan dan dengan segera bangkit dan cuci tangan di kamar mandi.


Mereka menggunakan kamar mandi secara bergantian berhubung kamar mandinya ada satu. Setelah mencuci tangan mereka kembali berkumpul di ruang depan.


Baru saja ingin menyuapkan makanan ke mulut ponsel buna ara sudah berdering dengan nyaring pertanda bahwa ada telpon masuk. Buna ara langsung bangkit untuk menjawab panggilan dari no tak dikenal itu.


"Buna angkat telpon dulu yaa" pamit Buna Ara sambil melenggang pergi menuju ke luar rumah.


"Halo" sapa buna ara ketika panggilan itu sudah terhubung.

__ADS_1


"Datanglah ke jalan Xx no 57 dan tinggal lah di sana bersama keluarga mu dan juga keluarga adnan. Kalian tinggal datang besok jam delapan pagi dan di sana sudah ada penjaga yang menunggu kalian" ucap seseorang yang misterius.


Setelah mengucapkan itu panggilan pun terputus. Buna ara mengkerutkan keningnya bingung namun detik kemudian dia ingat suara siapa itu.


Tanpa menunggu lama lagi buna ara masuk ke dalam rumah adnan dan kembali bergabung dengan yang lain. Mereka pun makan bersama dengan penuh nikmat meski lauk yang sederhana.


Usai makan para wanita membereskan peralatan makan yang mereka gunakan dan yang lainnya membagi-bagikan kamar karena kamar di rumah adnan hanya ada tiga dan sisanya akan tidur di ruang depan.


"Adnan nathan sama tari kalian tidur sekamar di kamar adnan yaa. Dan buat el ,, airin sama vyunda kalian akan tidur di kamar tari. Terus dika, divan, al sama vyano tidur di kamar nathan. Grandpa sama grandma dan buna ara tidur di sini oke" putus grandpa arka setelah membagi-bagikan tempat.


"Apa kalian ga kan kedinginan tidur di luar?" tanya dika ragu.


"Ngga lah orang pake selimut" celetuk grandpa arka.


"Ich glandpa, celimut itu nda menjamin ke hanatan tau" ucap airin yang ikut tak tega dengan grandpa dan grandma nya.


"Kan grandpa sama grandma bisa…"


"Kasian kakak dong harus ngeliatin kalian yang uwu-uwu" potong dika sambil mata yang menatap tajam ke arah grandpa arka.


pletak


Grandpa arka mendaratkan satu sentilan tepat di jidat dika. Refleks dika mengusap-usap jidatnya yang terasa sakit karena mendapatkan sentilan yang cukup keras dari grandpa arka.


"Sakit loh yah" ringis dika.


"Suruh siapa otakmu traveling hah? mentang-mentang udah ngerasain yang kek gitu jadi otaknya eror" omel grandpa arka.


"Terus tadi kata ayah bisa…"


"Bisa pelukan maksudku. Kamu sih main motong ucapan orang tua jadinya salah paham kan" ujar grandpa arka dengan muka kesalnya.


"Udah-udah mending tidur yuk.Udah malam nih. Kasian tuh babby divan udah nyenyak gitu" lerai buna ara yang baru saja datang bersama dengan yang lainnya sambil menunjuk ke arah babby divan.


Semua orang mengangguk dan mengikuti instruksi buna ara. Namun grandpa arka dan grandma glaudi dan juga buna ara harus mengampar kan kasur lantai terlebih dahulu sebelum tidur.


Semua orang terlelap dengan damai meski harus berhimpitan.


Bersambung~

__ADS_1



__ADS_2