Mr. Bodoh & Anak Genius

Mr. Bodoh & Anak Genius
39 (Revisi)


__ADS_3

"Dokter sinta" panggil suster yang di sampingnya seraya menggoyang-goyangkan bahu dokter sinta.


"Eh?"


Seketika dokter sinta tersadar dan menatap suster yang di sebelahnya.


"Ada apa sus?" tanya dokter sinta yang tampak linglung.


"Itu di tanya sama tuan muda arya" jawab suster itu sambil menunjuk ke arah arya yang sudah berubah 180 derajat wajahnya.


"Tadi tanya apa?" tanya dokter sinta yang tiba-tiba tak ingat apa-apa.


"GIMANA KEADAAN KAKAK SAYA DOK" ucap arya mengulangi pertanyaannya dengan penuh tekanan di setiap katanya.


"Arya" tegur putri evelyn lagi.


"Maaf kak aku hanya terpancing emosi" ucap arya tanpa menatap kakaknya.


"Hm"


Putri evelyn hanya menjawab dengan deheman seraya menatap langit-langit kamarnya.


"N-nona hanya butuh istirahat total untuk beberapa waktu saja tuan setelah itu nona bisa beraktivitas seperti semula" jelas dokter sinta terbata-bata.


Dokter sinta dan susternya menunduk karena takut pada arya sedangkan arya sendiri ia sudah menghampiri ranjang nathan karena mendengar tangisan nathan yang begitu kencang.


"Paman huaa nathan takut"


Tangis nathan kembali pecah lagi ketika ia terbangun dan mendapati arya yang sudah tak berada di sampingnya lagi.


Dokter sinta dan tim medis lainnya hendak memberikan obat penenang untuk nathan. Namun baru saja melangkah satu langkah mereka di hentikan oleh tangan arya yang tak mau jika keponakannya terus di beri obat penenang.


"Tenang paman ada di sini" ucap arya sambil memeluk nathan dengan erat.


"Ku mohon jangan menangis apa kau mau bundamu yang baru saja sadar ikut menangis" bisik arya di telinga nathan.


Nathan yang awalnya tak sadar dengan keberadaan bundanya yang menatapnya pun langsung menoleh ke ranjang sang bunda.


"Bunda udah sadar?"


Seketika tangis nathan berubah, yang awalnya tangis ketakutan menjadi tangisan haru karena melihat wanita yang di tunggu nya telah membuka mata.


Nathan mengulurkan kedua tangannya pada arya seolah-olah meminta untuk menggendongnya. Dengan sigap arya menggendong nathan.


"Apa paman ngga berat kalo ngegendong aku?" tanya nathan yang merasa sungkan saat di gendong.

__ADS_1


"Kau sangat ringan" jawab arya singkat sambil meletakkan nathan di samping kakaknya.


"Makasih paman" ucap nathan sambil tersenyum meski matanya sembab.


Arya mengangguk dan kembali duduk di sofa dengan laptop yang berada di pangkuannya.


"Bunda hiks"


Nathan langsung kembali menangis di pelukan bundanya tanpa peduli dengan keberadaan para tim medis.


Putri evelyn tersenyum manis seraya mengusap-usap kepala nathan dengan penuh kasih sayang.


Arya yang melihat itu pun tanpa sadar tersenyum dan membuat para suster itu meleleh seketika termasuk dokter sinta.


Selang beberapa detik wajah arya kembali datar dan menatap para pekerja medis itu seolah mengode agar keluar dari ruangan ini.


Salah satu suster yang paham dengan kode itu langsung membisikkan nya pada rekan kerjanya. Dokter sinta dan timnya pun keluar dari ruangan.


Setelah para pekerja medis itu keluar tari, buna ara dan juga angkasa langsung masuk ke dalam. Tari yang melihat kepala abangnya di usap-usap oleh wanita yang telah melahirkannya pun langsung iri dan berlari menghampiri mereka.


Namun keberuntungan sedang tak berpihak pada tari sehingga tari terjatuh.


Brugh


"Huaa cathit" pekik tari yang langsung menumpahkan air matanya.


Angkasa menggendong tari dengan buna ara yang mengusap-usap punggung tari.


"Udah jangan nangis tari kan anak hebat" tutur buna ara seraya mengusap-usap punggung tari yang bergetar.


"Tari sini" titah putri evelyn yang tak tega.


Angkasa langsung meletakkan tari yang masih menangis di samping kakaknya. Untung saja ranjang putri evelyn cukup luas sehingga dapat menampung tiga orang sekaligus.


Putri evelyn berusaha untuk duduk sambil bersandar. Buna ara membantu sahabatnya itu sampai posisinya benar-benar nyaman.


Nathan yang awalnya berbaring pun ikut duduk seperti bundanya.


"Tari kenapa nangis hm? apa ada yang sakit?" tanya putri evelyn dengan nada yang lembut sesuai dengan ciri khas dirinya yang asli.


"Thati tali cathit bunda hic" jawab tari sambil sesenggukan.


Translate : kaki tari cajit bunda hiks


Putri evelyn mengusap-usap kaki tari yang sedikit lecet dengan penuh kelembutan membuat tari perlahan-lahan berhenti menangis.

__ADS_1


"Udah ga sakit kan?" tanya putri rvelyn perhatian.


Tari menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban bahwa ia sudah tak merasakan sakit di kakinya.


Putri evelyn pun tersenyum tipis.


"



(visual putri Evelyn)


"Wajah bunda thaya wajah tari" celoteh tari yang mengamati wajah sang bunda.


Putri evelyn pun tersenyum tipis dengan celotehan tari.


"Tapi kok aku ga mirip sama bunda ya?" tanya nathan sambil terus memperhatikan wajah bundanya.


Tari pun ikut memperhatikan wajah bunda dan sang abang yang hanya beberapa persen saja kemiripannya. Sedangkan putri evelyn tersenyum mendengar pertanyaan nathan yang menurutnya konyol.


Putri evelyn mencubit gemas hidung nathan. "Kamu itu miripnya pada ayah adnan daripada bunda sayang" ujarnya sambil tersenyum manis.


"Wah jangan-jangan nathan bukan anak kakak lagi" celetuk angkasa yang sengaja memanas-manasi keadaan.


Nathan yang mendengar ucapan seorang pria pun langsung mencebikkan bibirnya. Namun di detik kemudian ia gemetar ketakutan karena bukan arya yang berbicara seperti itu melainkan angkasa.


"Tenang dia orang baik jadi jangan takut" bisik putri evelyn yang menyadari bahwa putranya itu ketakutan.


"Angkasa sini" titah putri evelyn pada adik beda ibunya itu.


Angkasa mengangguk dan menghampiri ranjang sang kakak. Angkasa berdiri di samping nathan membuat tubuh kecil itu gemetaran.


Bayangan penyiksaan yang di lakukan oleh zion pun tiba-tiba terlintas kembali. Nathan kembali sesenggukan di pelukan sang bunda. Tari yang tak tega melihat keadaan abangnya pun langsung ikutan menangis.


"Angkasa coba kamu kenalan sama nathan" titah putri evelyn pada angkasa.


Bukannya ia tak tahu, jika anaknya itu mengalami trauma tetapi putri Evelyn ingin menyembuhkan trauma putranya dengan cara mendekatkan nya dengan angkasa secara perlahan-lahan sehingga trauma itu akan hilang seiring berjalan waktu.


Angkasa mengangguk dan hendak menyentuh nathan yang memeluk putri evelyn dengan erat. Baru saja tangan itu menempel nathan sudah histeris membuat putri evelyn dan arya langsung memeluknya dengan sangat erat.


"Tenang kami ada disini"


Bersambung~


__ADS_1


__ADS_2