
Grandma glaudi dan grandma cian langsung saling pandang kemudian mereka cekikikan bersama karena melihat adegan yang di depannya sedangkan grandpa arka menatap iri ke arah adnan karena bisa di suapi meski bukan istrinya.
"El suapin papa dong" pinta grandpa arka dengan nada lirih pada anaknya.
"Hah" semua orang yang mendengar permintaan grandpa arka langsung terbengong dan menepuk pipinya tak percaya dengan apa yang baru saja di dengar.
"Uhuk uhuk"
Sedangkan grandma glaudi sendiri langsung tersedak. Dengan cepat grandma glaudi menyambar jus miliknya dan meminumnya hingga tersisa setengah.
"Seriusan nih yah? Demi apa sih ayah minta di suapin sama aku?" tanya el yang tak percaya.
"Seriusan, kata nya papa gak boleh di suapin sama ibu mu. Ya sudah kamu aja yang nyuapin papa" ujar grandpa arka dengan santainya.
"Emang gak malu gitu yah?" tanya grandma glaudi yang masih tak percaya.
"Ngga lah, tuh liat Adnan juga di suapin sama anaknya masa ayah ga boleh di suapin sama anak ayah" ujar grandpa arka sambil menunjuk ke arah adnan dan nathan.
"Jadi ceritanya ayah iri?" tanya el dengan nada menggoda.
"Ya enggak lah, ya kali iri" sangkal grandpa arka yang malu untuk jujur.
"Cih keliatan gitu dari mukanya" cibir grandma glaudi pelan namun masih terdengar jelas.
"Sudahlah jeng, dia malu untuk mengakuinya. Mending el suapi aja ayah mu yah. Kasihan tuh udah iri di ujung tanduk" tutur grandma vian sambil terkekeh.
"Glandpa than cehat-cehat and puna tanan jadi glandpa cehalusnya mathan cendili buthan di cuapin. ang haluc nya di cuapin itu athu buthan na glandpa" omel airin dengan mulut yang penuh makanan.
"Makan ga boleh sambil bicara de, telan dulu" tegur vyano pada adiknya itu.
"Hehehe colly bang" ucap airin sambil cengengesan.
"Tha vyano mahu di cuapin cama tali nda?" tawar tari pada vyano.
"Ngga usah kamu aja yah" tolak vyano secara halus namun membuat tari murung seketika.
"Makanya kecil-kecil jangan udah main hati aja. Jadi di tolak mentah-mentah kan" cibir nathan yang melihat wajah murung tari.
Seketika tari menatap abangnya dengan mata yang berkaca-kaca. Nathan yang tahu bahwa sang adik akan menangis langsung berpikir agar adiknya itu tidak menangis.
"Gapapa kalo bang vyano ngga mau biar abang aja yang kamu suapin" tutur nathan lembut membuat senyum tari yang awalnya luntur kembali terbit lagi.
__ADS_1
Nathan membalas senyum sang adik dengan senyuman manisnya. Meski awalnya nathan ingin mengerjai tari namun niatnya itu harus di urungkan apalagi mengingat pesan dari buna ara beberapa bulan yang lalu.
"Di dalam sebuah hubungan persaudaraan itu harus ada yang kata nya mengalah, namun tak seharusnya terus menerus mengalah karena jika seperti itu maka adik mu akan naik pintam. Jadi lebih baik menegurnya dengan halus. Dan satu lagi jika kamu dan adikmu ingin akur maka kamu tidak boleh menjahilinya. Bukan apa-apa ya tapi jika kamu menjahili adikmu buna takut bahwa tari akan kesal pada mu apalagi tari bukan anak genius dewasa melainkan anak pintar biasa jadinya kamu harus berhati-hati agar tidak menyakiti atau pun menyinggung perasaan adikmu"
Begitulah nasihatnya yang masih teringat jelas oleh nathan.
"Aaaa" pinta adnan pada nathan karena mulutnya yang sudah kosong.
Dengan cepat nathan memotong daging itu dan menyuapi ayahnya.
"Thalna ayah cudah menyuap cethalang abang ang menyuap aaaa" ujar tari sambil memasukkan potongan daging yang cukup besar ke mulut nathan.
Dengan senang hati nathan membuka mulutnya. Semua orang yang melihat acara suap-suapan pun langsung menatapnya dengan tatapan iri.
"Bang tha cuap-cuapan thaya meletha yo" ajak airin yang iri.
"Boleh" jawab vyunda yang sebelumnya belum pernah di suapi oleh adiknya.
"Ga, kayak anak kecil aja.. Mending makan sendiri daripada suap-suapan" tolak vyano secara langsung.
"Nyenyenye anak kecil anak kecil emang situ dah dewasa? Heloww yu masih belum punya kartu keluarga sendiri loh ya" cibir vyunda pada abangnya.
"Combong" cibir tari dan airin berbarengan.
"Hahaha, puas lu di katain ma bocil" ledek vyunda.
Vyano hanya memutar bola matanya malas dan melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
Mereka semua pun memakan makanan mereka dengan suap-suapan kecuali vyano tentunya yang menolak untuk di suapi karena gengsi nya yang tinggi.
Usai makan, mereka semua kembali ke mobil dan berniat untuk pergi ke mall. Sesampainya di mobil.
"Yakin kita bakal ke mall? Kok ibu perasaannya ga enak ya takutnya ara kenapa-kenapa" ujar grandma glaudi gelisah.
"Udah tenang aja glaudi, anakmu itu kan jago bela diri jadi kamu gak usah khawatir" ucap grandma vian menenangkan grandma glaudi.
"Vian benar, kamu gak usah khawatir. Emang kamu ga kasihan sama anak-anak? Mereka kan pengen jalan-jalan ke mall" timpal grandpa arka yang membuat grandma glaudi setuju untuk pergi ke mall.
"Baiklah aku ngikut kalian aja" putus grandma glaudi pada akhirnya.
Di mobil para anak-anak.
__ADS_1
"Yun kenapa ya perasaan ku ga enak" ucap vyano pada adiknya.
"Pake gula atau garem biar enak" celetuk el dari belakang.
"Nyenyenye bukan gitu maksud gue" protes vyano.
"Aku juga kok kak, perasaan ku ga enak ke buna ara" ujar nathan yang mencuri dengar pembicaraan twins v.
Seketika para anak di mobil itu menoleh pada nathan.
"Nah aku juga, kenapa ya?" tanya vyano yang masih heran dengan firasatnya.
"Dah-dah jan ngadi-ngadi kalian, mending sekarang kita happy toh kita mau ke mall" lerai Gio yang duduk di paling belakang bersama El.
"Aciii the moll yeyeye" pekik airin dan tari girang sambil bertepuk tangan.
"Giliran main aja girang tapi giliran belajar langsung bilang ngantuk" cibir vyano pada sang adik.
"Namanya juga bocil kak" celetuk nathan sambil menatap jalan yang dilalui mereka karena mobil itu telah berjalan.
"Cik ga sadar diri, lu juga bocil" cibir vyano.
"Cuman tubuh doang yang bocil kak, pikiran dah dewasa" balas nathan sombong.
"Ich-ich thalian cama yaa, cama-cama combong" celetuk airin.
"Emang meletha combong" timpal tari yang setuju dengan ucapan airin.
"Mana ada" pekik keduanya berbarengan.
"Woah barengan,, jangan-jangan jodoh nih" celetuk vyunda yang ingin mengerjai abangnya.
"Dih amit-amit" balas keduanya kompak lagi.
"Udah yan terima aja lu berjodoh sama nathan hahaha" seru gio sambil menepuk-nepuk pundak vyano yang berada di depannya.
"serah lu dah" kesal vyano sambil membuang pandangannya ke jalan.
Sepanjang jalan banyak sekali pembicaraan di antara mereka, namun vyano hanya diam karena kesal dengan paman mudanya itu.
__ADS_1