
Bunda nana memperhatikan ketiga adiknya yang terdiam setelah ia melontarkan pertanyaan itu. Kemudian bunda nana menghela nafas panjang dan bangkit dari duduknya.
"Lebih baik kita putuskan besok saja. Sekarang kalian tidur lah" ucap bunda nana seraya mengajak buna ara untuk pergi ke kamarnya sendiri.
Setelah kepergian bunda nana dan buna ara, ketiga saudara itu saling pandang seolah-olah meminta pendapat.
"Menurut ku lebih baik nathan saja yang menjadi raja" ujar angkasa menyampaikan pendapatnya.
"Mau jadi raja gimana orang usianya aja belum cukup" ucap zion yang agak sedikit tahu dengan peraturan kerajaan.
"Berarti salah satu dari kita harus menjadi raja sampe usia nathan cukup?" tanya angkasa yang memang mempunyai feeling bahwa keponakan jeniusnya akan cocok menjadi raja.
"Sepertinya" jawab arya datar.
"Kalau kata kak zion antara kita siapa yang pantas menjadi raja?" tanya angkasa meminta pendapat zion.
Zion berpikir sejenak kemudian ia menatap kedua adiknya secara bergantian. "Menurutku di antara kita tidak ada yang cocok" ucap zion dengan wajah lesu miliknya.
"Mengapa begitu kak?" tanya angkasa yang bingung dengan pendapat sang kakak.
"Kalau aku yang menjadi raja, aku terlalu pedendam sedangkan kalau arya yang jadi raja dia terlalu cuek dan sibuk dengan perusahaannya. Tapi kalau kamu? Hm mungkin kerajaan akan hancur karena kau yang selalu bertindak ceroboh" jelas zion dengan jujurnya.
__ADS_1
Arya dan angkasa yang mendengarnya pun saling pandang kemudian mereka mengangguk setuju dengan ucapan kakaknya.
"Apa kalian ga akan tidur?" tanya bunda nana yang berniat untuk mengambil air untuk suaminya.
"Kalau angkasa sih mau nonton yang ekhem ekhem dulu sih kak hehe" jawab angkasa seraya tersenyum manis.
Zion yang mendengar itu pun langsung menjitak kepala sang adik. "Hati-hati jadi pengen gituan, kan lu ga ada istri dek" ucap zion sambil geleng-geleng kepala.
"Dia emang ga waras" celetuk arya seraya pergi ke kamarnya.
"Heh kak arya, angkasa masih waras loh ya" teriak angkasa pada kakaknya yang sudah berjalan menjauh dari dirinya.
Karena suara angkasa yang terlalu besar, bunda nana langsung mengambil apel yang berada di meja dan memasukannya ke dalam mulut angkasa.
Zion tertawa terbahak-bahak melihat sang adik yang berusaha menggigit apel yang berada di mulutnya. Sedangkan bunda nana jangan di tanya, ia sudah pergi ke dapur dan hendak kembali ke kamarnya.
"Cepat tidur atau daun telinga mu akan berguguran" ancam bunda nana sebelum pergi ke kamarnya.
Mendengar ancaman tersebut zion langsung berlari ke kamarnya meninggalkan angkasa.
'Dasar kakak-kakak yang kejam, bisa-bisanya mereka nindas gue' batin angkasa yang merasa tertindas.
__ADS_1
......................
Setelah selesai memberikan Adnan minum, bunda nana merebahkan badannya di pinggir adnan.
"Udah ga haus kan?" tanya bunda nana seraya mengelus rambut Adnan.
Adnan menggelengkan kepalanya dan menelunsup mencari kenyamanan di tubuh bunda nana.
"Nana darimana aja waktu itu? Kok ga pernah nemuin adnan? Nana tau ga waktu itu bi surti ngejahatin adnan" adu adnan pada bunda nana sambil menangis.
Meski kejadian itu sudah cukup lama namun adnan yang masih ingat pun mengadu pada istrinya.
"Hm, udah ga usah nangis kan sekarang udah ga ada yang jahatin adnan lagi, kalau pun ada pasti orang itu udah nana hukum" ujar bunda nana seraya menghapus air mata adnan.
"Udah yu tidur" ucap bunda nana seraya memeluk adnan.
Adnan hanya menganggukkan kepalanya dan terlelap di pelukan istrinya. Bunda nana yang melihat sang suami sudah terlelap pun tersenyum dengan tangan yang tak berhenti mengusap rambut suaminya.
"Sekarang nana udah disini sayang, maafin nana ya. Nana janji bakal bales sama siapapun yang udah nyakitin adnan. Adnan tunggu aja ya pembalasan nana untuk mereka" gumam bunda nana yang tak terdengar oleh adnan.
Bunda nana mengecup lembut kening adnan dan ikut tidur dengan posisi saling memeluk.
__ADS_1
Bersambung~