Mr. Bodoh & Anak Genius

Mr. Bodoh & Anak Genius
64 (Revisi)


__ADS_3

Dengan wajah kebingungan bunda nana mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi sang anak. Mata mereka bertiga saling terkunci seolah mereka sedang saling bertanya jawab.


"Jadi siapa yang salah?" tanya bunda nana dengan suara yang lembut pada kedua anaknya.


"Tali bunda, bang nathan cuma mau bela tali doang bunda" jawab tari jujur.


Sedangkan nathan ia sudah menundukkan kepalanya karena takut sang bunda memarahi adiknya. Bunda nana yang melihat itu pun hanya bisa menghela nafas seraya geleng-geleng kepala.


"Cuci tanganmu dan ganti bajumu oke, nanti kita bakal jenguk kakek" ucap bunda nana lembut tanpa nada marah sedikitpun.


"Emangnya thate cathit ya bund?" tanya tari yang mendadak cemas dengan keadaan sang kakek.


"Iya, makanya kita perlu jenguk kakek" tutur bunda nana.


Bunda nana kini menatap nathan yang memiliki lebih sedikit noda lumpur di badannya. "Udah ga usah takut, bunda ga akan marahin tari kok. Hm sekarang nathan juga sama kayak tari oke. Bersihin badanmu dari lumpur biar ga bau" ujar bunda nana seraya pura-pura menutup hidungnya.


Nathan mengangguk dan berjalan menuju kamarnya. Begitupun dengan tari, ia juga ikut melakukan apa yang ibunya perintahkan untuknya.


"Terus adnan gimana? Mandi sendiri kah?" tanya adnan dengan polosnya membuat bunda nana terkekeh seraya mencubit kedua pipinya.

__ADS_1


"Emang Aanan bisa ngebedain yang mana yang sabun yang mana yang shampo hm? pasti nggak kan?"


Sontak ucapan bunda nana membuat adnan menganggukkan kepalanya dengan polos. Dan bunda nana pun menarik tangan adnan menuju kamar mereka meninggalkan zion yang mendadak terlupakan.


"Hadeh di lupain lagi" gumam zion seraya menghela nafas kesal karena jika kakaknya itu bersama suaminya, sudah di pastikan maka ia akan menempel terus bagaikan perangko pada sebuah surat.


......................


Di kamar mandi


Bunda nana yang memang dari awal menikah sudah telaten mengurus adnan pun tak merasa repot ketika sang suami menjahilinya ketika mandi.


Mulai dari sipratan air hingga sabun yang awal nya di tubuh adnan berpindah ke tubuh bunda nana. Bunda nana hanya bisa tersenyum dan menikmati kejahilan adnan. Meski sesekali ia akan membalas perbuatan adnan yang sangat lucu di mata bunda nana.


Sontak teriakan kedua anaknya membuat bunda nana malu sekaligus kesal dengan apa yang di ucapkan kedua anaknya itu


'Siapa yang mengajarkan itu pada mereka?' batin bunda nana bertanya-tanya.


Namun pikiran bunda nana yang memang encer dari lahir pun ingat dengan seseorang. Seseorang yang telah di lupakan nya tadi.

__ADS_1


"Zion" gumam bunda nana kesal.


Dengan kekesalan yang di ubun-ubun, bunda nana membereskan aktivitas mandi mereka dan masuk ke ruang ganti yang terhubung dengan kamar mandi.


Setelah bersiap ke empatnya pun turun ke bawah. Di bawah zion sudah bersiap dengan jas miliknya. Untuk sementara zion akan bekerja di perusahaan LV sampai asisten bunda nana yang izin kembali bekerja lagi.


"Ga kesiangan kamu dek?" tanya bunda nana pada zion seraya menatap arloji miliknya.


"Ngga lah orang kliennya datang jam 12" sahut zion seadanya seraya membenarkan dasi nya.


"Oh ya gimana kak proses pembuatan adiknya? Apa lancar?" tanya zion ceplas-ceplos padahal di depannya masih ada kedua anak sang kakak.


"Pembuatan apa? emangnya kita lagi bikin sesuatu na?" tanya adnan yang bingung membuat bunda nana ingin sekali menyubit mulut sang adik.


"Lupain aja nan, lagipula si zion mah cuman berhalusinasi doang" ucap bunda nana yang tak mau adnan semakin bertanya lebih jauh.


"Sebaiknya kita berangkat sekarang, ayo sayang" lanjut bunda nana mengalihkan keadaan.


Bunda nana menggiring ketiga orang tersayangnya ke dalam mobil dan mereka pun berangkat menuju rumah sakit. Sedangkan zion ia akan membawa mobil sendiri untuk berangkat ke LV company.

__ADS_1


Bersambung~



__ADS_2