My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.99 Rembes


__ADS_3

Seorang wanita dewasa dengan pakaian kantor cassual serta hijab pashmina yang menutup aurat atasnya membuat dirinya semakin terlihat mempesona diusianya yang tak lagi muda.


Ia melangkahkan kakinya dengan anggun memasuki kantor pusat perusahaan miliknya yang beberapa bulan ini ia tinggalkan karena banyaknya urusan pribadi yang ia hadapi.


Hari ini ia ada pertemuan penting dengan salah satu perusahaan terbesar yang terkenal di Asia mengenai kerja sama yang akan dimulai kembali setelah dulu gagal karena pemilik perusahaan tersebut tidak memberikan kepastian dan akhirnya meninggal karena kecelakaan setelah meeting berlangsung.


"Rara sudah kamu siapkan berkas berkasnya?" tanya Lifia pada sekretaris sekaligus orang kepercayaannya yang selama ini mengurus perusahaan peninggalan suaminya itu kala dirinya sedang fokus pada urusan pribadi.


"Sudah bu, client kita juga sudah menunggu diruang meeting" ucap Rara.


Keduanya pun berjalan menuju ruang pertemuan d.


"Benar benar sangat mirip dengan ayahnya" ucap Lifia dalam hati seraya menguarkan seulas senyum pada dua lelaki muda dihapannya kini.


"Selamat siang tuan David Mahendra, mohon maaf anda menunggu terlalu lama" ucap Lifia menyambut salam dari pengusaha muda yang akan bekerja sama dengannya itu.


"Oh tidak masalah miss, kebetulan kita juga baru saja sampai" ujar David ramah.


"Perkenalkan ini Yoga sekretaris saya" sambung David.


"Senang berkenalan dengan anda, pengusaha yang bisa dibilang sangat sukses diusia yang masih sangat muda" puji Lifia.


"Anda terlalu berlebihan miss, mari kita mulai saja" ujar David.


Keempat orang itu pun mangembil posisinya masing masing, dan larut dalam obrolan bisnis mereka hingga mencapai kesepakatan yang memuaskan bagi kedua perusahaan tersebut.


"Woow saya tidak menyangka miss Elifia ini ternyata pembisnis wanita yang luar biasa! Senang bekerja sama dengan anda" ujar David kala rapat telah usai.


"Begitu pun kami, kami juga sangat bangga bisa bekerja sama dengan MRc group perusahaan yang sangat terkenal karena kesuksesannya dalam mencapai setiap goal" ucap Lifia.


"Baiklah, kalau begitu kami pamit undur diri" ucap David bersiap untuk kelaur dari ruangan itu.


"Emm tuan David, bolehkan saya berbicara berdua dengan anda" ujar Lifia.


"Oh tentu saja boleh" ucap David ramah.


Tanpa disuruh kedua asisten mereka pun keluar dari ruangan itu.


"Ada apa miss? Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?" tanya David penasaran.


"Emmm, tuan David apakah kamu tau saya siapa?" tanya Lifia perlahan.


"Tentu saja saya tau, anda adalah Elifia Ayshe pengusaha perempuan yang kini tengah banyak diperbincangkan dikalangan para pengusaha" ucap David santai, karena ucapannya itu memang benar adanya.

__ADS_1


"Bukan, kali ini kita akan membicarakan masalah pribadi" ucap Lifia. Ia merasa bimbang, yang ia lakukan ini entah benar atau salah.


"Masalah pribadi?" tanya David dengan dahi yang mengerut.


Ia merasa tidak memiliki urusan pribadi dengan wanita dewasa dihadapannya ini, karena untuk bertemu saja sepertinya baru kali ini dan pertama kalinya.


"Apakah anda akan marah dan membatalkan kerja sama kita jika anda tau saya ini ibu kandung dari adik anda. Devano Mahendra" tutur Lifia.


David tercengang, namun beberapa detik kemudian ia mampu menormalkan kembali fokusnya.


"Jadi, miss ini istri kedua papa saya? Tapi bukankah ibunya Devan sudah meninggal?" tanya David.


Lifia menganggukkan kepalanya.


"Saat itu saya tidak tau jika papamu sudah memiliki anak dan istri karena dia mengaku bujang dan sebatang kara dalam artian saya dibohongi olehnya. Dan kesalahan terbesar saya adalah setelah mengetahui kebohongan papa kalian, saya malah meninggalkan bayi saya yang baru nerusia tuga hari dengan memalsukan kematian saya" ucap Lifia dengan air mata yang mulai mengembun dipelupuk matanya.


"Astagfirullah, miss saya atas nama papa saya mohon maaf atas segala kesalahan nya. Karena papa saya kini sudah meninggal"


Ucapan David tersebut sungguh diluar ekspektasi Lifia, dia kira David akan marah bahkan mencaci dirinya karena merusak kebahagiaan ibunya dulu. Nyatanya, David malah bersimpatik pada dirinya.


"Kau tidak marah padaku nak? Karena merusah kebahagiaan ibumu?" isak Lifia, kini air matanya sudah tak terbendung lagi.


"Tidak miss, apa pun yang terjadi diantara papa, mommy dan miss Elifia itu adalah jalan takdir kalian yang sudah digariskan tuhan. Justru saya bahagia miss akhirnya adik saya bisa bertemu dengan ibu kandungnya" ucap David seraya menenangkan Lifia.


"Lalu, apa Devan sudah bertemu dengan anda?" tanya David penasaran.


"Sudah, kami sudah bertemu beberapa bulan yang lalu. Meski pun awalnya Devan sempat menyangkal tapi kini hubungan kami sebagai ibu dan anak terjalin cukup baik" jelas Lifia, ia mengahapus air matanya. Perasaan lega kini menyeruak dalam hati nya.


"Syukurlah kalau begitu, saya senang mendengarnya. Miss tenang saja, urusan bisnis kita pasti terus berjalan, karena saya tidak mencampurkan urusan priabdi dengan pekerjaan" jelas David.


"Terimakasih nak, salam untuk ibumu ya"


"Sama sama miss, kalau begitu saya pamit dulu" ucap David kemudian keluar dari ruang meeting itu.


"Wajahmu, suaramu, sangat persis dengan papamu David" lirih Lifia menatap langkah David yang semakin menjauh.


***


Semenjak usia kandungan Tiara memasuki sembilan bulan, Devan lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah. Bahkan pekerjaannya pun ia selesaikan dirumah, untuk peninjauan lapangan seperti biasa dia akan meemrintahkan anak buahnya.


Karena Devan tidak mau melewatkan sedetik pun waktu jika jauh dengan Tiara, ia takut jika wanitanya akan melahirkan dia saat dirinya sedang tidak ada dirumah.


Tiara bangkit dari posisi duduknya, karena merasa pakainnya basah.

__ADS_1


"Sayang kenapa bajuku basah, kenapa aku kaya habis ngompol" kekeh Tiara, Devan yang tengah sibuk dengan laptopnya segera menghampiri Tiara dengan wajah panik.


"Tiara apa perutmu sakit?" ucap Devan dengan raut wajah cemas.


"Tidak sayang" jawab Tiara


"Ini air dari mana ya sayang" sambung Tiara bingung.


"Imut sepertinya kamu akan melahirkan" ucap Devan khawatir.


"Tapi sayang, menurut perkiraan dokter kan masih dua minggu lagi" sanggah Tiara.


Tanpa berkata lagi Devan langsung mengankat tubuh Tiara kedalam gendongannya.


"Kita harus segera kerumah sakit" ucap Devan gusar.


"Sayang tapi pakaianku basah, biarkan aki ganti baju dulu"


Namun tak digubris Devan, ia langsung membawa Tiara kedalam mobil. Untung saja koper yang berisikan keperluan bersalin Tiara sudah stand by didalam mobil, supaya jika keadaan darurat seperti sekarang tidak akan kerepotan lagi.


"Sayang tapi aku belum merasakan kontraksi" ujar Tiara.


"Tapi imut sepertinya baju kamu basah karena air ketuban, bagaimana pun kita harus periksakan ke dokter. Saya tidak mau terjadi apa apa pada kamu dan anak kita. Kuat ya sayang" ucap Devan mengelus perut nesar Tiara kemudian mengecup kening wanita tercintanya itu.


Tiara terharu dengn perlakuan suaminya itu.


"Devan benar benar suami siaga" batin Tiara bangga.


"Sayang kamu kuat ya, baik baik diperut mama" ucap Tiara mengelus buah hatinya yang masih didalam perut.


Bersambung....


...JANGAN LUPA...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...TERIMAKASIH :)...


.

__ADS_1


.


__ADS_2