My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.83 Rencana


__ADS_3

Setelah mengantarkan Lifia ke rumahnya, kini Devan telah sampai dikediamannya didesa.


Meski pun Tiara sudah terjaga dari tidurnya, dengan sigap Devan menggendong tubuh Tiara yang mulai mengembang dan membengkak itu.


"Sayang tidak perlu" ucap Tiara namun tak mendapat jawaban dari sang suami. Devan terus menggendong Tiara hingga sampai kedalam kamar mereka.


"Imut, kamu istirahat dulu ya! Saya sedang ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan" ucap Devan, kala membaringkan tubuh istrinya dan menyelimuti Tiara.


"Iya sayang, kamu hati hati ya" ucap Tiara.


Setelah mengecup kening sang istri, Devan pun meninggalkan Tiara menuju suatu tempat.


*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#


Dengan kecepatan tinggi, Devan melajukan sepeda motor sport miliknya menuju kantor.


Setelah motor sport nya terparkir didepan kantor, dengan langkah lebar ia memasuki gedung yang tidak terlalu besar itu.


"Riki cepat ke ruangan saya" ucap Devan kala melewati meja kerja Riki.


"Ada apa bos?" tanya Riki setelah sampai diruangan atasannya.


"Kemari lah duduk" ucap Devan, ekor mata mengarah pada sofa yang kosong disebelahnya.


"Bagaimana pekerjaanmu apa sudah selesai???" tanya Devan, setelah Riki duduk disebelahnya


"Beres bos" ujar Riki dengan senyum pongahnya.


"Saya ada kerjaan baru untukmu, kali ini masalah diluar perusahaan kita" ucap Devan.


Riki hanya mengernyitkan alisnya.


Devan kemudian menjelaskan apa saja tugas yang harus dilakukan oleh orang kepercayaan nya itu.


"Jangan sampai mereka menembus pertahanan kita" ucap Devan menutup pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Siap! Bos tenang aja" ujar Riki santai.


Devan hanya tersenyum miring, anak buahnya itu memang bisa diandalkan dalam segi apa pun, untuk itu Devan ikhlas menggaji Riki dua puluh persen dari penghasilannya perbulan. Baginya itu tak seberapa jika dibandingkan dengan kinerja Riki sangat memuaskan bagi Devan.


"Oh iya bos, sepertinya perkebunan teh yang disebelah utara harus bos yang meninjau langsung deh, saya rada sedikit sulit menyimpulkan hasil akhirnya" ucap Riki dengan menampilkan gigi putih miliknya.


Dahi Devan berkerut, padahal baru saja ia memuji kinerja Riki yang tak ada celahnya. Sekarang Riki malah menunjukkan jika pekerjaannya belum sempurna.


"Hehe saya permisi dulu bos" ucap Riki beranjak dari hadapan Devan, meninggalkan bosnya yang berwajah dingin itu.


"Emmm baiklah, saya pun sudah rindu bekerja" ucap Devan pada dirinya sendiri karena disitu sudah tidak ada lagi orang.


Setelah selesai dengan urusan dikantornya, Devan kemudian melanjutkan pekerjaan yang ditunjukkan Riki tadi.


Devan tau, Riki hanya beralasan saja tidak mengerti dengan pekerjaannya. Namun Devan memaklumi, waktunya banyak tersita hanya untuk bekerja pada dirinya. Makanya ia membiarkan saja Riki untuk beristirahat dulu, karena setelah ini pekerjaan yang besar telah Devan bebankan dipundak nya.


*#*#*#*#*#*#*#*#


Ditempat lain.


Riasan wajah yang mencolok, rambut berwarna pirang meski pun bukan warna aslinya, dan pakaian yang tak kalah modis dari putri semata wayangnya Alena.


"Alisa kau dari mana saja??" ucap Yukas dengan wajah yang mengeras pada sang istri.


"Biasalah darl, aku habis shoping" ucap Alisa dengan wajah sensualnya dan duduk dipangkuan sang suami.


Alisa sudah hafal betul harus bagaimana, ketika suaminya mulai emosi pada dirinya. Maka akan dengan mudah luluh kembali setelah mendapat rayuan maut dengan sedikit ke*upan kec*pan manja yang Alisa berikan.


Itulah kelemahan Yukas, mudah tergoda oleh rayuan, sehingga gampang sekali dimanfaatkan oleh wanita termasuk istrinya sendiri.


"Ada apa darling? Kenapa wajahmu kusut begitu?" ucap Alisa yang masih berada dalam pangkuan Yukas seraya membelai bulu bulu yang terdapat di wajah suaminya itu.


"Tadi siang Elif membawa putranya kemari, bertemu dengan baba" ucap Yukas


"Apa??" ucap Alisa kaget, kamudian turun dari pangkuan suaminya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa? Elif kan mand*l, darimana dia punya anak?" ucap Alisa berapi api.


"Dari suami pertamanya, dia tidak mand*l jadi waktu ia pulang kembali kesini dua puluh tujuh tahun lalu, rupanya ia baru saja melahirkan. Dan yang membuat saya terkejut lagi, ternyata putra Elif itu bukanlah orang sembarangan" jelas Yukas.


"Tidak tidak!! Ini tidak mungkin?!" teriak Alena.


Yukas hanya diam dengan dahi yang mengkerut menatap tingkah aneh istirnya itu


"Darling, lalu bagaimana nasib anak kita? Dia pasti sedih kalau tau dia batal menjadi pewaris tunggal kekuasaan baba" ucap Alisa kini duduk disebelah Yukas.


"Kamu tenang saja, saya tidak akan membiarkan itu terjadi!" ucap Yukas dengan seringai licik nya.


.


.


.


Bersambung...


...Jangan Lupa...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...TERIMA KASIH :)...


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2