
Yukas melajukan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi, tujuannya saat ini adalah hotel. Karena untuk pulang ke manssion membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih, dan ia sudah tidak sabar untuk menumpahkan seluruh emosinya.
"Darling, pelan pelan bawa mobilnya aku takut" cicit Alisa, namun tak dihiraukan oleh Yukas.
Hingga mereka tiba disalah satu hotel yang tak jauh dari rumah sakit tempat Alena dirawat.
Setelah berhasil chek in, Yukas langsung menarik kasar lengan Alisa menuju kamar yang ia sewa, dan pastinya ia memilih kamar yang kedap suara.
"Akh darl sakitt" ujar Alisa saat tubuhnya tiba tiba didorong dengan kasar hingga terjatuh dilantai.
"Alisa tolong jawab pertanyaan saya, kenapa Alena golongan darahnya berbeda dengan saya??" ucap Yukas dengan sorot mata yang menyala nyala seakan ingin membakar wanita dihadapannya saat itu juga.
"Aku tidak tau darling, bisa saja dokter salah memberikan hasil lab nya" ujar Alisa dengan air mata mulai membasahi pipinya.
Yukas menurunkan tubuhnya, agar sejajar dengan Alisa yang terduduk dilantai.
"Sekali lagi saya tanya, siapa ayah kandung Alena?" ucap Yukas dengan gigi yang menggretak dan kedua tangannya mencengkram bahu Alisa.
"Akhh sakit Yukas, tentu saja kamu ayah kandung Alena" jawab Alisa merintih karena bahunya dicengkram sangat kuat oleh sang suami.
"Cukup!!! Saya tidak mau mendengar lagi kebohongan dari mulutmu" Yukas langsung melepas ikat pinggannya dengan kasar.
"Buka pakaianmu" ujar Yukas.
Tanpa fikir panjang Alisa langsung membuka seluruh pakaiannya. Alisa langsung merasa tenang, karena merasa emosi Yukas pasti akan berkahir dengan percintaan panas mereka seperti biasanya.
Namun dugaannya salah, setelah ia tak menggunakan sehelai benang pun ditubuhnya. Yukas langsung melayangkan ikat pinggang yang ia pegang mengenai tubuh mulus Alisa.
Paakkk!!
Paakkk!!
Pakkk!!
"Akhh, Yukas apa yang kamu lakukan?? Ini sakit sekali akh" jerit Alisa merasa tak terima.
"Itu belum seberapa dibanding rasa sakit hati saya karena kau bohongi selama dua puluh enam tahun"
Paakk!!!
"Akhhh" Alisa terus menjerit seiring dengan bunyi suara ikat pinggang yang menyentuh kulit halusnya dengan kasar.
"Saat menikah denganmu sejujurnya saya kecewa karena mendapatimu sudah tak suci lagi, namun tetap saya terima kamu"
Paaakkkk!!!
"Akhh ampun Yukas" teriak Alisa
"Tak ada kata ampun!! Dan setelah dua tahun pernikahan kita, saya sangat bahagia akhirnya kau mengandung anak yang kita nanti nantikan"
Paaakkk!!
"Aaawhhh" pukulan semakin kencangn dan tubuh Alisa semakin sakit karena sudah dipenuhi jejak ikat pinggang Yukas.
"Namun ternyata!! Anak itu bukanlah hasil buah cinta kita!! Tapi hasil dari kelakuanmu yang hina melebihi hinanya seorang jala*g!" ujar Yukas dengan suara yang menggelegar.
Paakkk
Pakkkk
__ADS_1
Pakkk
Yukas semakin membabi buta menyerang tubuh lemah Alisa.
"Yukas ampun, tolong hentikan!!" ucap Alisa dengan suara yang mulai melemah.
Yukas pun menghentikan kegiatannya dan kembali menggunakan ikat pinggang miliknya dengan rapi. Kemudian kembali mencengkram dagu Alisa.
"Katakan Alisa! Siapa ayah kandung Alena?" tanya Yukas dengan gigi yang masih menggeretak.
"A-aku ti tidak ta u" ucap Alena terbata bata.
"Wahh, kau bilang tidak tau! Apa karena terlalu banyak lelaki yang menidurimu sehingga kau tak tahu kau hamil anak siapa huh??" ucap Yukas dengan suara yang meninggi.
Alisa hanya diam saja, karena yang diucapkan suaminya itu memang benar.
Plaakkk!!!!
Sebuah tamparan dari tangan lebar Yukas mendarat mulus di pipi sebelah kanan Alisa.
"Kau begitu menjijikan Alisa! Kau berperilaku seperti ja*ang disaat kau sudah menjadi istriku!"
Plakkk!!
Tangan Yukas kembali mendarat di pipi sebelah kirinya.
"Alisa saya jijik sama kamu! Cuihh" ujar Yukas seraya melemparkan ludahnya pada wajah sang istri, kemudian melangkah meninggalkan kamar hotel membiarkan Alisa menangis meratapi nasib malang akibat perbuatan dirinya sendiri. Karena bangkai yang selama bertahun tahun ia tutupi, akhirnya tercium juga.
.
.
Tuan Erdan mengedarkan pandangannya, dan tak hanya Lifia disana. Ia juga mendapati ada Devan dan Tiara yang kini tengah menatap hangat dirinya didalam ruangan yang serba putih itu.
"Cucu opa" ujar Tuan Erdan dengan suara pelan nya menatap nyalang pada Devan.
Devan menatap Tiara seolah ia bertanya apa yang harus ia lakukan. Dengan senyum hangatnya Tiara menganggukkan kepalanya agar suami tercintanya itu menghambur mendekati sang opa.
Dengan wajah datarnya Devan mendekat ke brangkar tempat tuan Erdan terbaring lemah.
"Cucuku" ucap tuan Erdan pada Devan
"Ya saya disini" jawab Devan masih dengan wajah datarnya.
"Opa bangga padamu Devano" ujar Tuan Erdan.
"Termikasih tuan, emm opa" ucap Devan masih dengan wajah datarnya.
"Kamu persis sekali dengan opa saat muda dulu" ujar tuan Erdan dengan pandangan yang menatap lurus kearah langit langit kamar rawat.
Melihat wajah Devan yang minim ekspresi, mengingatkan tuan Erdan pada dirinya saat masih seumuran dengan Devan dulu. Sifat dingin, irit bicara, lebih suka bertindak daripada banyak berkata itulah sifat Tuan Erdan yang saat ini semuanya ada pada diri Devan.
Devan menatap kearah dua wanita yang disayanginya, yang kini sedang tersenyum hangat padanya.
"Bagaimana kondisi opa, apa sudah mendingan?" tanya Tiara menghampiri kedua lelaki yang beda generasi itu.
Ia faham jika suaminya masih butuh penyesuaian untuk lebih akrab dengan opanya bukan hanya sekedar sebagai client kerja saja, namun juga sebagai kakeknya.
"Opa sudah baik baik saja nak, tadi opa hanya terkejut saja" ucap tuan Erdan.
__ADS_1
"Syukurlah kalau opa sudah baikkan, iya kan sayang?" ucap Tiara pada Devan.
"Ya benar sekali" jawab Devan sekenanya.
"Elif, bagaiamana kondisi Alena? Apa dia sudah mendapatkan donor darah?" ujar tuan Erdan.
"Sudah ba, sekarang tinggal menunggu dia sadar. Ada nak Riki yang menjaganya" ucap Lifia.
"Riki? Kamu kenal anak itu?" Tuan Erdan mengernyitkan dahinya.
Lifia menatap kearah Devan, dan Devan hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Tentu saja kita kenal, Riki itu orang kepercayaan Devan ba" jawab Lifia.
"Jadi Riki itu Asisten kamu Devan? Pantesan opa serasa tidak asing dengan wajahnya" ujar Tuan Erdan.
"Benar, Alena mengalami kecelakaan didaerah perkebunan saya dan Riki orang pertama yang menemukannya dan membawanya kesini" jawab Devan.
"Alena kecelakaan di area perkebunan kamu? Untuk apa dia datang kesana?" tuan Erdan semakin tak mengerti.
"Hanya Alena yang tahu jawabannya" ujar Devan.
"Yasudah opa sebaiknya istirahat saja dulu, saya dan Tiara akan pamit pulang. Karena ibu hamil tidak baik terlalu lama dirumah sakit" ucap Devan.
"Iya nak, bunda akan tetap disini menjaga opa kalian" ujar Lifia.
"Bunda, opa, kita pulang dulu ya" ucap Tiara berpamitan pada mertuanya.
"Hati hati ya sayang" ucap Lifia memeluk Tiara sesaat.
Setelah itu Devan dan Tiara pun melangkah meninggalkan ruang rawat tuan Erdan.
"Sayang, aku ingin melihat kondisi Alena deh" ucap Tiara disela langkah mereka dikoridor rumah sakit.
"Tidak perlu, lain kali saja" jawab Devan acuh.
"Emmm iya deh" Tiara meminyongkan bibirnya.
Karena terlalu gemas, Devan langsung membopong tubuh bulat Tiara kedalam gendongannya agar segera sampai kedalam mobil. Dan setelah sampai didalam mobil, ia sudah tidak bisa mengurungkan keinginannya lagi dan langsung melahap bibir merah jambu milik Tiara.
.
.
Bersambung.....
Maaf ya my readers up nya terlalu lama, buat yang udah dengan setia menunggu up author terimakasih banyak, kalian sumber semangat
author pokoknya. :*
...Jangan Lupa...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...TERIMAKSIH :)...
__ADS_1
.