My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.82 Maafkan


__ADS_3

Tiara kini tengah tersenyum lepas, menikmati hembusan angin danau yang menerpa rambutnya. Saat ini mereka tengah duduk di salah satu restoran didaerah itu, tepatnya dipinggir danau. Sehingga Tiara bisa merasakan tiupan angin alam meraba dirinya.


"Sayang anginnya segar sekali" ucap Tiara pada laki laki gagah dihadapannya.


Namun Devan hanya memandang tanpa berkedip dengan senyuman tipis yang menghiasi wajah tampannya, seakan tak ingin berhenti untuk memuja sang istri. Baginya Tiara semakin hari semakin cantik dan membuatnya semakin mencintai istrinya itu.


"Sayang ko ngeliatin aku kaya gitu sih?" ujar Tiara seraya memonyongkan bibirnya.


"Ahh, imut kamu semakin cantik" ucap Devan tanpa memutus pandangannya.


"Sayang aku tau aku memang cantik, kalau aku jelek mana mau kamu sama aku" ucap Tiara ngasal.


Devan menarik tangan Tiara dan menggenggamnya.


"Tidak imut, meski kamu dalam keadaan paling buruk sekali pun asalkan itu kamu saya akan selalu menerima dan mencintai kamu" ucap Devan serius, membuat wajah Tiara memerah bak tomat masak.


"Makasih sayang, semoga aku bisa terus di sampingmu dan menemanimu hingga kita tua nanti" ucap Tiara dengan mata yang berkaca kaca karena terharu.


Devan hanya diam dengan senyum yang tak luntur di bibirnya dan genggaman yang tak lepas dari tangan Tiara.


Drrttt drttt


Handphone Tiara berbunyi tanda panggilan masuk.


"Siapa?" tanya Devan


"Bunda"


"Hallo bunda" ucap Tiara setelah menggeser tombol hijau di telfon pintarnya itu.


"Sayang kalian dimana? Bunda khawatir dengan keadaan kamu Tiara" ucap Lifia, dari suaranya saja Tiara bisa tau jika bunda mertuanya itu pasti sedang dalam keadaan cemas.


"Kita sedang ditempat makan nih bund, cucu bunda rewel pengen makan terus" kekeh Tiara.


Mendengar suara menantunya yang baik baik saja bahkan bisa membercandai dirinya Lifia pun bisa bernafas lega


"Kalian dirumah makan mana? Bunda kesana sekarang ya"


Setelah memberitahu alamat restoran yang sedang mereka singgahi, panggilan itu pun berakhir.


"Sayang bunda mau kesini" ujar Tiara, namun tak ada jawaban dari Devan. Lelaki itu tampak sedang sibuk dengan gawai ditangannya.


"Sayang.." ucap Tiara dengan suara yang sedikit mengeras.

__ADS_1


"Iya imut kenapa?" ucap Devan kini kembali fokus pada sang istri


"Lagi ngeliatin apa sih di handphone? Istirnya manggil aja gak kedengeran" ucap Tiara manja.


"Maaf imut sayang, tadi saya ngecek pekerjaan, tadi bunda bilang apa?" jawab Devan.


"Tadi bunda bilang dia mau kesini" ucap Tiara.


Namun seketika matanya berbinar kala makanan yang dipesan mereka telah datang.


"Imut, air liurmu seperti tak terbendung" bisik Devan mendekatkan wajahnya ke arah sang istri.


Refleks Tiara mengusap mulutnya dan tidak mendapati apa apa, termasuk air liurnya.


"Sayang kamu ngerjain aku?" ucap Tiara tak terima.


Devan hanya tertawa melihat wajah lucu yang ditunjukan Tiara.


Dari kejauhan sepasang mata tengah memandang mereka. Perasaan gundah yang melanda hatinya seakan luntur kala melihat tawa lepas sang putra.


Dengan langkah tenangnya ia menghampiri Tiara dan Devan.


"Assalamualaikum anak anak bunda" ucap Lifia.


"Walaikumsalam bunda, wahh kebetulan bunda datang makanannya udah siap" ucap Tiara sumringah.


"Devan, maafkan ucapan saudara bunda ya. Dia memang sedari dulu seperti itu, bahkan bunda saja sudah kebal dengan mulut mulut mereka" ucap Lifia.


Namun tak ada jawaban dari Devan, laki laki itu terus mengunyah makanannya tanpa melirik sedikit pun kearah sang bunda.


"Sayang, itu bunda berbicara sama kamu" ucap Tiara, membuat Devan menghentikan kegiatan makannya dan memandang wajah sendu Lifia.


"Saya tidak akan pernah datang lagi kerumah itu, mereka hampir saja mencelakai orang paling penting dalam hidup saya" ucap Devan dingin.


"Iya sayang bunda mengerti, bunda hanya minta kamu berhati hati ya nak, karena pamanmu itu orang yang sangat licik. Meski pun bunda telah meyakinkan mereka bahwa kamu tak ingin harta opamu, tapi mereka tak akan percaya begitu saja" ucap Lifia dengan penuh kekhawatiran.


Devan membuang nafasnya dengan kasar.


"Bunda tidak usah khawatir saya pasti bisa mengatasinya" ucap Devan melemah, karena tak tega melihat sorot mata sang bunda yang menyimpan keresahan disana.


"Maafkan bunda ya nak, seandainya bunda tak memaksa kamu.."


"Sudah, lebih baik kita makan saja! Kasian ibu hamil sedari tadi air liburnya menetes terus menatap makanan yang didepannya" potong Devan, Lifia pun mengangguki ucapan sang anak.

__ADS_1


"Baca doa dulu" ujar Devan karena Tiara nampak bernafsu ingin segera menyantap makanan berkuah dihadapannya itu.


Dengan merengut Tiara yang tak sabar ingin menyantap pun mengikuti perintah sang suami.


.


.


Setelah selesai makan, mereka pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan kembali.


"Bunda mau pulang ke Desa atau kerumah opa lagi?" tanya Tiara.


"Bunda pulang ke Desa saja, Devan apa boleh bunda ikut dengan kalian?" tanya Lifia, karena tadi ia ke restoran menggunakan taksi.


"Tentu saja" ujar Devan.


Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan tenang, karena perutnya kenyang sejak tadi Tiara terus saja menguap, dan tak lepas dari perhatian Devan.


"Imut kalau ngantuk tidur saja" ucap Devan, ia merasa heran biasanya Tiara akan tidur begitu saja dimobil tanpa harus menahan nahan kantuk.


"Tidak sayang aku tidak mengantuk" elak Tiara, padahal ia sangat ngantuk berat, Namun tak enak sama sang mertua ia pun memaksa agar matanya tetap terjaga.


Tak berselang lama, mata Tiara sudah terpejam dan tertidur dengan lelapnya.


"Lihat bun, menantu bunda! tadi bilangnya tidak mengantuk, tapi baru beberapa detik saja ia sudah terlelap" ucap Devan pada Lifia


Lifia hanya tersenyum melihat tingkah anak dan menantunya.


.


.


.


Bersambung....


...Jangan Lupa...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...

__ADS_1


...TERIMAKSIH :)...


.


__ADS_2