My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.67 Datang


__ADS_3

"Tiara apa kamu hafal nomor handphone Devan" ucap nek Mawar.


Tiara langsung melepaskan pelukannya.


"Nenek bawa hand phone???" tanya Tiara langsung mengahpus air mata yang hampir saja jatuh di pipinya.


Nek Mawar mengeluarkan sebuah hand phone keluaran lama, berukuran kecil dan layarnya masih kuning dari dalam pakainnya.


Jika dilihat dari luar memang tidak akan nampak dan tersembunyi.


"Dulu nenek juga pernah kena sekap begini oleh lawan bisnis papanya Devan. Setelah kejadian itu Dani memberikan handphone ini pada nenek, dan harus nenek bawa kemanapun karena takut hal itu terjadi kembali atau mungkin keadaan darurat lain. Dan lihatlah??? Hufft dunia bisnis memang kejam" jelas nenek seraya menghela nafasnya kasar.


Mata Tiara langsung berbinar, untung saja dia hafal betul berapa nomor handphone suaminya.


Saat Tiara menyalakan handphone itu.


"Nek batrainya tinggal tiga persen!!!" mata Tiara membulat.


"Astaga Tiara! Mungkin karena jarang digunakan nenek sampai lupa mengecek baterainya" ucap nenek yang mulai panik juga.


"Tidak apa apa nek, yang penting kita bisa ngasih petunjuk keadaan kita pada Devan, kebetulan sinyalnya penuh" ujar Tiara.


"Iya memang handphone itu Dani rancang supaya tetap bisa menangkap sinyal dimanapun kita berada" ucap nek Mawar.


Dengan tergesa Tiara menekan angka demi angka hingga terdengar suara gahar sang suami. Karena tak ingin kehilangan kesempatan Tiara langsung memberikan clue keberadaan mereka tanpa memberikan kesempatan suaminya berbicara. Dan benar saja, handphone jadul itu pun kehabisan daya.


"Alhamdulillah, nek handphone nya mati setelah Tiara memberikan keberadaan kita pada Devan" ucap Tiara pada sang nenek.


Nek Mawar tetap tersenyum tenang.


"Nak kamu kuat yaa, papa pasti selamatkan kita sama nenek yuyut" ucap Tiara seraya mengelus perut buncitnya.


Seolah mendengar ucapan mamanya, baby didalam perut Tiara memberikan respon tendangan halus pada perut sang mama.


"Nek baby nya bergerak" ucap Tiara dengan mata yang berbinar, dengan nenek yang tersenyum senang


"Makasih ya nak, sudah menghibur kami disaat genting seperti ini" ucap Tiara masih mengelus permukaan perutnya.


*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*


Motor sport Devan kini telah sampai didepan bangunan yang nampak tak terurus.


"Aku yakin, Tiara sama nenek pasti ada disni" ucap Devan mematikan masin motornya.


"Wahhh akhirnya sang ksatria datang juga" ucap seseorang yang tiba tiba muncul dari dalam villa itu dengan bertepuk tangan


"Keparat kau Juan!!!" geram Devan, buku tangannya memutih akibat kepalan yang terlalu kuat.


"Ini semua tidak akan terjadi jika saja kau tak menghancurkan usaha dan bisnisku" ucap laki-laki berna Juan itu


"Usaha yang merugikan masyarakat, tentu saja harus dimusnahkan!" ucap Devan, kini ia mulai bisa mengontrol emosinya.


Juan hanya menyeringai licik.

__ADS_1


"Lepaskan istri dan nenekku!" teriak Devan


"Itu hanya dalam mimpimu! Sebentar lagi istrimu yang cantik itu akan ku jadikan istriku. Dan anak didalam kandungannya akan ku musnahkan, seperti dirimu yang hari ini akan ku bunuh tuan Devano" ujar Juan kemudian menyerang Devan dengan senjata tajam nya.


Dengan lihai Devan terus menangkis serangan demi serangan yang diberikan Juan. Ia tak boleh lengah sedikit pun, bisa saja ia tumbang karena pisau yang ditangan Juan sudah dicampur dengan racun mematikan.


Pertarungan sengit itu pun berlangsung cukup lama, hingga akhirnya Juan kalah dan pisau beracun itu kini telah beralih ke tangan Devan.


Tak disangka, keluar puluhan orang berbadan tegap dari setiap sudut, mengelilingi Devan yang sendirian. Dan salah satu dari orang orang itu adalah Teguh, mantan anak buah Devan yang berkhianat.


"Setelah jadi pengkhianat rupanya kau masih berani menampakkan wajahmu dihadapan saya, dan mencoba mencelakai keluarga saya hm?" ucap Devan dingin


"Ini balasan untuk anda tuan Devan yang terhormat karena anda telah menghancurkan adik saya!" ucap Teguh dengan mata merah menyala.


"Apa maksud anda?" ucap Devan tak mengerti


"Karena anda telah menyebarkan vidio skandal adik saya Tyas, sekarang dia depresi berat" teriak Teguh.


"Ohh jadi anda si penghianat ini ternyata kaka dari wanita jal*ng itu!" ucap Devan dengan senyum remeh nya.


"Ba*ingan kau Devan, beraninya menghina andikku! Serang dia!" teriak Teguh pada kumpulan orang berbadan tegap yang mengelilingi Devan.


Namun belum sempat mereka menyerang Devan, Riki dan anak buah Devan yang lain sudah lebih dulu menyerang mereka, yang jumlahnya tidak sebanding pastinya. Karena Riki mengerahkan seluruh anak buah Devan untuk menyelamatkan bosnya.


Ditengah pertarungan itu, Devan perlahan mundur. Menghampiri si biang masalah alias Juan yang sedang tergolek lemas akibat pukulan dari sang lawan, tak lain adalah Devan.


"Masih main main dengan Devano Mahendra?" ucap Devan dengan seringai liciknya pada Juan.


Juan langsung memalingkan wajah nya.


"Dimana istri saya?? Kau jangan main main dengan saya! Kalau sampai terjadi sesuatu terhadap istri dan nenek saya! Saya bersumpah tujuh turunan keturunan mu tidak akan saya biarkan hidup tenang!" ucap Devan dingin. Membuat siapa saja yang mendengarnya pasti akan merinding.


Juan masih saja diam, Devan langsung menggeladah tubuh Juan dan akhirnya ia menemukan sebuah kunci.


"Riki.! Amankan dia" ucap Devan dan disanggupi oleh orang kepercayaannya itu.


Devan pun melangkah memasuki villa kumuh itu. Matanya langsung tertuju pada satu ruangan yang tertutup rapat dan tanpa ada celah sedikitpun untuk udara masuk.


Brakk!!!


Pintu itu terbuka


Nampak dua wanita berbeda generasi sedang terduduk lemas dengan keringat yang bercucuran.


"Sayang kamu datang" ucap Tiara lemah.


"Imut! Nenek!" Teriak Devan panik.


Untung saja Riki dengan sigap menyusul dirinya, setelah mengamankan Juan tentunya.


"Riki cepat bawa nenek"


Devan langsung menggendong tubuh lemah sang istri, begitupun Riki yang membopong tubuh kemah nan renta nenek bos nya yang sudah ia anggap nenek sendiri juga.

__ADS_1


"Imut sayang bertahan lah, maafkan saya sedikit telat" ucap Devan dengan tak henti mencium kening Tiara dengan perasaan gusarnya.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang.


Sedangkan untuk masalah Juan dan Teguh biar anak buah nya yang menangani, rencananya akan dilaporkan kepada pihak yang berwajib.


"Sayang aku tidak apa apa, hanya merasa haus saja" ucap Tiara lemah.


Devan langsung mengambil dua botol air mineral untuk Tiara dan sang nenek yang duduk dibangku samping kemudi.


"Nenek apa ada yang sakit?" tanya Devan khawatir seraya memberikan air mineral pada sang nenek.


"Nenek baik baik saja Devan, hanya sedikit sesak nafas saja. Tapi sekarang sudah mendingan" ucap nenek lemas.


"Sayang apa benar yang Teguh katakan, kalau kamu mengalami kecelakaan?" tanya Tiara.


"Tidak imut, mereka membohongi kalian. Saya juga sempat mendapat pesan ancaman, makanya saya langsung pulang" ucap Devan.


"Imut apa tadi baby kita nakal?" tanya Devan seraya mengusap perut Tiara


"Tidak Devan, bahkan anakmu tadi sempat menghibur kami yang hampir putus asa" ucap sang nenek.


Tangan Devan yang masih menempel diperut Tiara merasakan ada pergerakan yang mengusiknya. Membuat senyum Devan mengembang dan beradu pandang dengan Tiara.


"Sayang, sepertinya baby kita ingin mengucapkan terimakasih pada papanya karena telah datang menyelamatkan kami" kekeh Tiara.


"Kalian adalah hidup dan matiku" ucap Devan tulus kemudian merengkuh tubuh istrinya kedalam dekapannya.


Nenek dan Riki hanya mengulum senyum melihat tingkah romantis mereka.


.


.


.


Bersambung....


Hay para readers ada salam nih dari Tiara dan Devan



Jangan lupa


Like


Vote


Komen


Biar author semangat terus!


Terimakasih

__ADS_1


.


.


__ADS_2