
"Hallo, tuan rekaman cctv yang anda minta sudah saya kirim lewat email " ucap seorang pria dari sebrang telfon sana.
"Oke, terimakasih Yoga" David menaruh kembali gawainya keatas meja.
"Setelah semuanya terungkap, kita akan kembali lagi seperti dulu sayang, maafkan kakak karna terlambat menyadari tentang cctv itu" ucap David mengusap gambar diri Tiara. Sehari hari ia selalu menyibukkan diri dengan pekerjaannya, berharap dapat melupakan Tiara, namun semakin ia ingin melupakan malah semakin jelas kenangan kenangan indah bersama Tiara.
David mengamati setiap perputaran vidio kejadian hari itu diruangan kerjanya.
Tangannya mengepal, buku buku jarinya memutih karna kuatnya kepalan si mpunya menahan emosi.
Ia tak menyangka dalang dibalik gagal nya pernikahan ia dan sang kekasih adalah ibu kandungnya sendiri.
"Momy kenapa kau lakukan ini padaku, arrggghhhhh" David menggebrag meja.
Namun tatapannya kembali terfokus pada vidio yanh sedang diputar, dimana ada seorang perempuan masuk keruangan tidurnya.
"Laura" gumamnya.
Ia teringat beberapa kali Laura sering datang ke Negara tempat David berada hanya untuk menemuinya. David tidak menaruh curiga sedikit pun karna sejak SMA mereka memang sudah berteman.
"Atau jangan jangan dia juga bersekongkol dengan momy, sekarang aku mengerti kenapa Tiara tidak mau menemui ku waktu itu" ucap David masih terbakar emosi.
"Aku harus segera pulang malam ini juga, aku harus menjelaskan semua pada Tiara, aku yakin Tiara masih menungguku"
David bergegas mengemasi semua barang barangnya, ia sudah tidak sabar mengungkap kebenaran ini dan berharap Tiara akan kembali kepadanya.
**********
Tiara baru saja terbangun dari tidurnya.
Saat ia membuka mata Devan sudah tidak ada disampingnya.
"Astaga, aku kesiangan!! Badanku lemas sekali, entah jam berapa semalam aku bisa tidur" ucap Tiara.
Flashback on
Setelah selesai makan, Devan menggendongnya kembali kedalam kamar. Lalu meninggalkan Tiara dengan alasan ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Selang beberapa jam Devan kembali, ia mendapati istrinya sudah terlelap.
Ia pun berbaring disisi Tiara sambil memeluk pinggang rampingnya dari belakang.
"Devan kamu sudah kembali?" Tiara membuka matanya.
"Iya, baru sebentar saya sudah kangen" ucap Devan seraya mencium pucuk kepala istrinya, membuat semburat merah di pipi Tiara.
"Tiara" ucap Devan serak.
"Hmmm" Tiara menatap kearah suaminya.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Devan, karna ia langsung menarik tengkuk Tiara dan menyambar benda kenyal berwarna merah jambu yang menjadi kesukaannya.
Kejadian bertukar kenikmatan pun berlanjut, entah selesai sampai jam berapa. Pokoknya sampai mereka benar benar lelah, apalagi Tiara dia sangat kwalahan melawan kekuatan suaminya.
Flashback off
Wajah Tiara memerah kala mengingat kejadian semalam
"Katanya tak bernaf*u melihatku, tapi aku digempur habis habisan tanpa ampun" ucap Tiara.
"Kau mengumpat suamimu huh??" ujar suara yang baru saja muncul dari balik pintu, dengan membawa nampan yang berisi segelas susu dan beberapa lembar roti yang sudah diberi selai.
"Ti.. tidak ko" ucap Tiara salah tingkah.
Devan duduk disebelah Tiara.
"Mau sarapan dulu atau mandi dulu" Devan menatap istrinya lembut.
"Aku mau mandi dulu" ucap Tiara mencoba turun dari ranjang
"Awwhh" Tiara merasakan perih dibagian intinya.
"Masih sakit, ayo biar saya bantu" Devan langsung menggendong Tiara kedalam kamar mandi, dan meletakkannya keadalam bath tub.
"Devan kamu ngapain buka baju juga" Tiara kelabakan saat melihat suaminya menggalkan pakaiannya, ia takut kejadian semalam berlanjut lagi, bukan apa apa tapi dia masih belum siap, karna sekarang aja intinya masih serasa bengkak.
"Saya janji cuma mandi aja" ucap Devan kala melihat wajah gundah istrinya, lalu masuk kedalam bath tub yang sama.
.
.
.
"Aku bisa sendiri Devan" ucap Tiara kala Devan ingin mengangkat kembali tubuhnya.
"Maaf, gara gara saya kamu jadi kesakitan" ucap Devan
"Sudah tidak apa apa" Tiara pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi, dan disusul oleh Devan.
********
Seperti biasa Tiara mengantar Devan sampai depan pintu.
Namun ada yang berbeda, setalah Tiara mencium punggung tangan Devan, Devan membalasnya dengan mengecup kening Tiara.
Serasa banyak kupu kupu terbang dari dada Tiara, ia bahagia karna dapat merasakan rumah tangga yang sesungguhnya.
"Semangat kerjanya yaa suami!!" Ucap Tiara dengan senyum manisnya, yang sejenak membuat Devan terpana.
__ADS_1
"Heyy malah bengong, Riki sudah nungguin tuh dari tadi" ucap Tiara sambil menggoyangkan tangannya depan muka Devan.
"Kamu cantik Mutia.... Ra" ucap Devan dengan senyum samar.
"Ehh kulkas bisa gombal juga rupanya" kekeh Tiara dalam hati.
"Saya berangkat dulu, nanti saya akan makan siang dirumah" Devan lalu masuk kedalam mobil.
"Ok" Tiara melambaikan tangan kala mobil suaminya menjauh dari pekarangan rumah.
"Entah bagaimana perasaanku padamu yang jelas aku sudah mulai nyaman dan takut kehilangan kamu" batin Tiara.
Baru saja Tiara akan masuk, ia dikagetkan kedatangan bi Esih.
"Non maaf bibi datangnya kesiangan, soalnya tadi ada urusan dulu dirumah" ucap bi Esih menghampiri juragannya.
"Halahh bibi ini, santai aja kali. Devan juga baru aja berangkat" ucap Tiara ramah, lalu melanjutkan langkahnya yang sedikit tertatih.
"Tunggu non!!" Tiara menoleh ke arah bi Esih mengerutkan keningnya serakan bertanya kenapa.
"Itu kenapa non jalannya aneh gitu" kepo bi Esih.
Tiara yang ditanya begitu menjadi salah tingkah, ia bingung harus menjawab apa, kini wajahnya sudah seperti kepiting rebus karena menahan malu.
"Hehe gak usah dijawab bibi udah tau jawabannya ko, mudah mudahan segera jadi baby yaa non. Maaf non bibi duluan yaa mau nyuci!" bi Esih pun melangkah mendahului Tiara sambil cekikikan.
"Hmmm semoga saja" jawab Tiara seraya mengelus perut rata nya.
.
.
.
.
.
Bersambung......
Dukung terus author jangan lupa tinggalkan jejak jempolnya, masukan ke daftar paforit kalian yaa.
Semoga suka
Terimakasih
.
.
__ADS_1