
Diusia kandungan memasuki lima bulan, Hanum mulai terbiasa dengan rutinitas kehamilannya. Mulai dari ngidam yang aneh aneh hingga mual muntah setiap pagi yang untungnya sekarang sudah mulai berkurang, dan David sebagai suami selalu siap siaga memenuhi apa saja kemauan istri dan calon buah hatinya.
Seperti saat ini, David harus buru buru pulang kerumah dan meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk. Hanum terus terusan menelfon dirinya merengek menyuruh pulang karena merasa kesepian dirumah. Padahal ia tak sendirian, ada para pembantu dirumah yang selalu sigap menerima perintah dari sang pemilik rumah.
Terhitung nek Mawar dan Sandra sudah hampir seminggu dirumah Devan, dan belum ada tanda tanda bahwa kedua orang itu akan segera pulang kembali ke kota.
"Daddyy... Akhirnya datang juga" teriak Hanum yang sedari tadi menunggu kedatangan David diruang tamu, ia pun berlari kecil menuju suaminya yang baru saja melewati pintu utama.
"Baby kamu jangn lari lari gitu, kasian anak kita nanti kenapa napa sayang" ucap David seraya merengkuh tubuh kecil sang istri kedalam dekapannya.
"Aku nungguin daddy dari tadi, rumah ini sepi sekali gak ada mami. Apa mami udah gak sayang lagi ya sama kita, betah banget disana" ujar Hanum seraya mengusap perutnya yang sudah mulai menonjol.
"Husst baby kamu jangan ngomong kaya gitu, mommy disana kan dirumah anaknya juga sayang" ujar David seraya membelai kepala istrinya, dan Hanum hanya menganggukan kepalanya.
"Besok kita susul mommy ya, sekalian kita nengok anaknya Devan, keponakan kita" ucap David.
"Beneran?" tanya Hanum dengan mata yang berbinar.
"Iya babyy.. Cuph" ujar David seraya mengecup singkat bibir manis milik Hanum yang setelah itu terbit senyum merekah dari bibir tipisnya.
Sebenarnya sudah sejak lama Hanum ingin melihat bayi adik iparnya itu, ditambah rasa penasarannya tentang keindahan desa tersebut sebagai mana yang sering ia dengar dari cerita nek Mawar. Namun keinginananya itu tak berani ia utarakan melihat kesibukan suaminya yang akhir akhir ini sangat padat.
Semenjak hamil Hanum jarang sekali pergi jalan jalan keluar, kecuali kantor suaminya dan rumah sakit saat kontrol kandungan. Mendengar ajakan suaminya pergi ke desa, tentu saja ia sangat gembira.
"Aku udah gak sabar ingin segera besok" ucap Hanum pelan dengan senyuman yang mengembang di pipinya.
***
Dihari ke tujuh setelah kelahiran Ryshaka, Devan dan Tiara sepakat akan menagadakan pengajian syukuran sekaligus aqiqah untuk putra pertama mereka.
Kini rumah Devan nampak ramai dengan kehadiran seluruh keluarga besar, kecuali David dan Hanum yang batal berangkat pagi ini karena David harus ada meeting dadakan yang sangat penting, dan rencananya David akan datang setelah pekerjaannya selesai.
Devan dan yang lainnya pun memaklumi kegiatan sang kakak yang merupakan CEO diperusahaan besar yang namanya kini tengah melambung tinggi didunia perbisnisan itu, jadi tidak ada masalah bagi Devan jika kakaknya akan datang terlambat.
Beda halnya dengan Hanum, wajahnya ditekuk dan masam sudah seperti seorang kuli yang sudah tiga bulan tidak gajian saking kesalnya pada sang suami.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Hanum yang sudah sangat antusias akan pergi ke desa tapi baru saja menempuh perjalanan sepuluh menit suaminya sudah mendapat panggilan telfon untuk melakukan meeting.
"Babby, kamu tunggu sebentar disini ya. Saya janji tidak akan lama" itulah ucapan terkahir David lima jam yang lalu.
Ya..! Lima jam. Itu bukanlah waktu yang sebentar buat Hanum, dan dia harus menunggu sendirian diruangan David. Hanya sesekali ada Office boy suruhan David datang untuk sekedar menanyakan apakah Hanum menginginkan sesuatu atau tidak
"Aku gak menginginkan apapun, aku ingin segera berangkat ke desa" gumam Hanum dengan mata yang berkaca kaca.
"Kalo gak meeting dulu, pasti sekarang sudah sampai di desa" ucapnya seraya menatap makanan dihadapannya yang sudah mulai dingin.
"Babby kenapa makanannya cuma dilihat doang, kamu belum makan?" tanya David yang entah kapan ia masuk kedalam ruangannya Hanum tak menyadari itu.
"Aku gak selera daddy"
Huftthh
David menghela nafas beratnya, ia mengerti saat ini istri kecilnya itu tengah merajuk karena harus menunda perjalanan ke desa, tapi mau bagaimana lagi masa depan perusahaannya tak kalah penting karena itu juga demi masa depan istri dan anak anaknya kelak.
"Maaf ya babby, pekerjaan saya kali ini sangat penting demi masa depan kita dan anak anak kita nanti" ujar David seraya merengkuh tubuh Hanum kedalam dekapannya.
Hening, tak ada jawaban dari Hanum. Secara logika memang benar yang diucapkan David, tapi Hanum sendiri tak mengerti kenapa dia harus selebay itu, atau mungkin ini bawaan bayi.
"Gak usah pesan makanan lagi daddy, ini aja belum aku makan loh" sergah Hanum.
"Tapi itu sudah dingin sayang, biar saya nanti yang makan. Untuk babby besar dan bebby kecil yang diperut kesayangan daddy biar daddy pesankan ulang" ujar David.
Tak lama pesanan pun datang, keduanya makan dengan tenang. Senyum David melebar kala melihat Hanum yang lahap menghabiskan makanannya dengan antusias karena setelah itu mereka akan melanjutkan perjalanan menuju kediaman Devan.
***
-Di kediaman Devan-
Acara berlangsung meriah dan hangat, setelah acara pengajian dan aqiqah selesai keluarga sepakat untuk berkumpul bersama untuk sekedar sharing agar lebih mengenal satu sama lain. Terutama keluarga Elifia yang terbilang baru bagi keluarga dari pihak Tiara.
Disela sela obrolan, Sandra nampak gelisah seolah menahan sesuatu.
__ADS_1
"Sandra kamu kenapa?" bisik nek Mawar.
"Aku kebelet nih mam, kalau aku kekamar sebentar apa tidak apa apa?" ujar Sandra dengan suara pelan.
"Tidak apa apa, yaudah kamu kekamar aja dulu sana jangan ditahan tahan" ucap nek Mawar.
Tanpa berkata lagi Sandra langsung beranjak dari posisi duduknya dan berjalan menuju kamarnya dengan tergesa gesa, saking buru burunya ia sampai lupa menutup kembali pintu kamar tidurnya.
Selang beberapa menit, suasana pun semakin ramai dengan kedatangan David dan istrinya. Saat semua orang tengah sibuk menyambut kedatangan David, Yukas perlahan mundur dari ruangan tempat mereka berkumpul karena sedari tadi gawainya terus saja berbunyi.
"Halo.." ucap Yukas setelah menempelkan handphone nya ditelinga, ia pun terus melangkah menjauh sampai tak sadar ia masuk ke dalam kamar yang kebetulan pintunya terbuka.
Setelah usai dengan panggilannya, Yukas baru menyadari jika saat ini ia sedang berada didalam kamar.
"Astaga, ngapain aku ada disini?" batin Yukas seraya memindai setiap sudut kamar.
"Eh pak tua.! Ngapain anda disini? Mau berbuat jahat pada saya ya?" ujar Sandra dengan suara tinggi seraya mendekat pada pria didepannya, Yukas tak kalah terkejutnya dengan kehadiran Sandra didalam kamar.
Namun sebelum Yukas menjawab ucapan Sandra, terdengar suara langkah kaki mendekat menuju kamar yang tidak tertutup itu.
Entah dapat ide dari mana Yukas langsung menarik tubuh Sandra sehingga keduanya ambruk diatas tempat tidur dengan posisi Sandra diatas Yukas.
"Oh my god mommy..!!!" ucap sebuah suara yang sangat familiar bagi Sandra.
Bersambung...
...JANGAN LUPA...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT LAGI BUAT UP ;)...
__ADS_1
...TERIMAKSIH...
.