My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.38 Pohon Mangga


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian..


Setelah menyelesaikan aktifitas paginya, termasuk mengantar Devan berangkat kerja sampai depan pintu, Tiara kembali ke dalam kamarnya.


Entah mengapa ia merasa malas ngapa ngapain hari ini. Padahal Tiara sudah janji sama bi Esih akan pergi ke kebun belakang rumah untuk panen sayur sayuran disana.


"Uhhh malas sekali, rasanya gak mau jauh dari bantal ini" ucap Tiara seraya memeluk bantal guling, hingga lamat lamat matanya terpejam.


Toktoktok!!


"Non, non Tiara" ucap bi Esih sambil mengetok pintu kamar Tiara.


Tiara pun membuka matanya.


"Astaga!! Aku ketiduran!" ucap Tiara kemudian melirik jam di kamar nya menunjukan pukul sembilan pagi.


"Non, ini bibi" ucap bi Esih dari balik pintu.


"Iyaa bi sebentar" dengan segera Tiara membuka pintu.


"Maaf bi Tiara ketiduran" ucap Tiara sambil menguap.


"Tidak apa apa non, tapi jangan dibiasakan tidur pagi pagi, tidak baik" jelas bi Esih.


"Mm iya bi"


"Hayu atuh, katanya kita mau panen sayur dibelakang rumah, nanti mah keburu panas aja non" ajak bi Esih.


"Iya ayo!" Tiara pun mengikuti langkah pembantunya tersebut.


.


.


*****


Setelah selesai panen, kini keduanya sedang duduk di pondok yang tak jauh dari rumah utama untuk beristirahat, kalau orang +62 bilang sih ngadem ya.


Disampingnya sudah ada dua keranjang penuh hasil panen dengan berbagai jenis sayur. Dari cabe, tomat, terong, bawang, buah pepaya, timun dan lain lain.


Kebun yang berukuran 50m persegi itu, diurus oleh dua orang kepercayaan Devan.


Jadi, jika hasil panennya sedang melimpah tidak jarang Devan menyuruh orang kepercayaannya itu untuk membagi bagikan ke warga sekitar.


Tiara sedang duduk sambil melihat bi Esih memberi makan ikan yang berada di kolam samping pondok, tiba tiba pandangannya tertuju pada pohon mangga yang sedang berbuah lebat pas di dekat dapur.


"Bi ko Tiara baru tau ya kalo disitu ada pohon mangga" tanya Tiara.


"Ah itumah enonnya aja yang baru nyadar, itu pohon udah dari dulu ada disitu, meskipun tidak terlalu tinggi tapi selalu berbuah lebat non. Mungkin beberapa minggu lagi itu buahnya pasti udah pada masak non" jelas bi Esih.


Tatapan Tiara masih fokus pada pohon mangga berbuah lebat itu.


Tiba tiba ia melangkah mendekati pohon mangga


"Non mau kemana??" Tanya bi Esih mengambil keranjang sayur kemudian menyusul sang majikan.

__ADS_1


"Tiara mau ngambil buah mangga itu bi, entah mengapa sangat menggoda sekali" ucap Tiara siap siap mau manjat.


"Itukan pohon mangga nya tinggi enon, aduhh mana si ujang sama si parman lagi libur lagi. Udah non jangan maksain" ucap bi Esih.


"Tapi Tiara mau bi" ucap Tiara.


"Begini saja, gimana kalau ngambil mangga nya nanti aja kalau den Devan sudah pulang" usul bi Esih.


"Yaudah deh" ucap Tiara lesu.


.


.


.


Hingga malam menjelang, Devan belum juga pulang. Tadi Tiara mendapatkan pesan bahwa suaminya itu akan pulang telat karna ada pekerjaan penting.


Tiara hanya mondar mandir saja di kamar nya, fikiran nya masih tertuju pada pohon mangga yang berbuah lebat, entah mengapa ia sangat penasaran sekali ingin memakan buah mangga yang sedang mengkal dari pohonnya itu.


"Aduhhh Devan mana sih, kenapa lama sekali" rutuk Tiara, ia kini sedang mamberingkan dirinya diatas kasur, mencoba mengalihkan fikiran nya agar tidak penasaran terus dengan si pohon mangga.


Sampai akhirnya ia ketiduran.


Pukul setengah sebelas malam, Devan baru saja pulang dari tempat kerjanya.


Pekerjaannya hari ini benar benar menyita waktu dan tidak bisa ditunda lagi.


Setelah membersihkan diri, ia membaringkan dirinya disebelah Tiara.


Tak lama Tiara pun terjaga kembali, ia mendapati suaminya sudah terlelap dengan tenang.


"Dia pasti sangat lelah sekali, pulang hingga hampir larut malam begini" batin Tiara kala memandang raut wajah suaminya.


Namun fikiran nya kembali dihantui rasa ingin memakan buah mangga mengkal yang langsung dipetik dari pohonnya.


Telah ia tepis berulang ulang, namun tetap tidak bisa lupa, malah membuatnya semakin ingin.


"Gilaa!!! Ya aku hampir gila gara gara pohon mangga itu" ucap Tiara pelan.


Ia pandang lagi wajah tenang suaminya.


Karena tak tega harus mengganggu tidur suaminya, akhirnya ia putuskan akan mengambil sendiri mangga mengkal itu, daripada tidak bisa tidur fikirnya.


Tiara turun dari ranjangnya dengan perlahan, kemudian menutup pintu kamarnya dengan perlahan pula agar Devan tidak terbangun.


Setelah pintunya tertutup, Devan membuka kedua matanya.


"Imut mau kemana, kenapa dia mengendap endap begitu" ucap Devan kemudian memutuskan untuk menyusul sang istri.


Devan mengikuti Tiara dengan perlahan, karna ia penasaran dengan apa yang akan dilakukan istrinya tengah malam begini.


Namun seketika matanya melotot kala mendapati Tiara akan memanjat pohon mangga yang didekat dapur.


Dengan tergesa gesa ia segera menghampiri sang istri.

__ADS_1


"Imut kamu lagi ngapain" tanya Devan yang membuat Tiara kaget.


"Ehh sayang, emmm aku mau ngambil buah mangga " ucap Tiara salah tingkah, setelah tertangkap basah suaminya.


"Hahhh!!! buah mangga kan banyak di kulkas imut sayang" ucap Devan menarik tangan Tiara agar mendekat padanya.


"Aku maunya yang masih mengkal, dan baru dapat metik dari pohonnya" ucap Tiara dengan mata yang berkaca kaca, karna ia takut suaminya akan marah.


"Tapi kenapa harus manjat sendiri tengah malam begini huh?? kenapa tidak membangunkan saya?? kamu ini bikin saya khawatir aja tau gak!!" ucap Devan sedikit tegas sehingga membuat tangis Tiara pecah.


"Huaaa aku gak tega bangunin kamu, karna gak mau ngerepotin kamu kak Vano" ucap Tiara dalam isakannya.


"Imut sayang, sudah jangan nangis lagi. Lain kali tidak apa apa bangunkan saja saya, saya ini suami kamu. Sudah tugas saya memenuhi semua keinginan kamu" ucap Devan seraya memeluk menenangkan istrinya.


Tiara hanya menjawab dengan anggukan saja, kini ia sudah menghentikan tangisan nya.


"Yaudah, tunggu disini biar saya ambilkan" ucap Devan lalu menaiki pohon mangga yang baginya tidak terlalu tinggi itu.


.


.


"Sayang kupasin" ucap Tiara manja.


keduanya kini sedang duduk dimeja makan karna Tiara sudah tidak sabar ingin memakan mangga mengkal yang Devan petik tadi.


Devan dengan piawai mengupas buah mangga yang sudah kekuningan itu.


"Imut kamu yakin mau makan mangga itu sekarang??" tanya Devan tak yakin, melihat nya saja Devan sudah ngilu betapa masamnya buah yang belum matang itu.


"Iya sayang" ucap Tiara antusias kemudian melahap potongan buah itu.


Tapi baru saja satu gigitan tiba tiba wajah nya mengkerut, matanya terpejam.


"Ihhh sayang, ini asam banget!!! Bisa bisa asam lambung ku naik ini mah. Dah ah gk jadi makan buahnya!! Asam!! tiba tiba aku jadi mengantuk. yuk bobok yuk!!" ucap Tiara.


Devan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dahinya mengkerut karena tingkah konyol istrinya ditengah malam begini.


Akhirnya Tiara bisa tertidur lelap tanpa bayang bayang rasa penasaran pada buah mangga mengkal di pohonnya lagi.


"Mimpi indah imut, jangan aneh aneh lagi ya" ucap Devan seraya mengecup kening wanita kesayangannya itu.


Kemudian ia pun ikut terlelap.


.


.


.


Bersambung...


.


.

__ADS_1


__ADS_2