
Setelah memastikan tuan Erdan telah beristirahat kembali dan terlelap tidurnya, Lifia memutuskan untuk melihat keadaan keponakannya Alena.
Didepan ruang rawat Alena, nampak Riki yang tengah duduk dengan kepala mengadah keatas sambil memejamkan kedua matanya.
"Nak Riki, sebaiknya kamu istirahat saja. Biar bunda yang gantian menjaga Alena" ujar Lifia yang kemudian duduk disebelah Riki.
Riki perlahan membuka matanya, karena ia tidak benar benar terlelap. Hanya mencoba mengistirahatkan otak dan fikirannya saja agar lebih fresh.
"Eh, kebetulan ada bunda disini. Saya mau makan dulu bun, laper!" ujar Riki dengan gaya slengean khasnya dia.
"Iya nak, kamu makan aja dulu biar bunda yang disini" ucap Lifia.
"Bunda sudah makan? Atau mau nitip seseuatu?" tanya Riki yang mulai bangkit dari posisi duduknya.
"Tidak nak, bunda masih kenyang" ujar Lifia, senyuman hangat tidak luntur dari wajahnya.
"Yasudah, saya pamit dulu" ujar Riki seraya melangkahkan kakinya menuju restoran terdekat dirumah sakit itu.
.
.
"Akh kepalaku sakit sekali" Ringis Alena perlahan membuka kedua matanya.
"Sial! Niatku ingin membunuh si Devano malah aku yang hampir mati" rutuknya.
Cklekk.!
Pintu kamar rawatnya terbuka, dengan segera Alena berpura pura tidur kembali.
"Ck Alena Alena kamu ini ada ada saja" ucap Lifia menatap iba sang keponakan yang sedang terbaring lemah dengan perban yang membelit dikepalanya.
"Si tante mand*l rupanya, pasti dia mau menertawakan aku" ucap Alena didalam hatinya.
"Elif sedang apa kamu disini?" tanya Yukas yang baru saja masuk kedalam ruang rawat Alena.
"Apa salah saya melihat kondisi keponakan saya hm?" jawab Lifia santai.
"Ah lupakan saja, apa Alena sudah mendapatkan pendonor darah?" tanya Yukas.
__ADS_1
"Sudah, tinggal menunggu ia sadar aja lagi" jawab Lifia.
"Apa? Pendonor darah? Kenapa papa malah nyari pendonor lain, kenapa tidak papa saja yang memberikan darahnya untukku" tanya Alena dalam tidur pura puranya.
"Kakak, dimana Alisa?" tanya Lifia.
"Jangan tanyakan wanita jala*g itu lagi pada saya, saya sudah jijik barang mendengar namanya saja" ujar Yukas mendaratkan bokongnya disofa tepat disamping Lifia.
"Kak, kamu tidak membunuhnya kan?" selidik Lifia.
"Tidak mungkin saya mengotori tangan saya" ucap Yukas acuh.
"Kenapa mereka membicarakan mama, apa yang terjadi?" Alena semakin gundah, perasaanya perlahan menjadi gusar.
"Oiya Elif, dimana baba?" tanya Yukas karena sejak kembalinya ia dari hotel ia tidak bertemu dengan tuan Erdan.
"Baba dirawat dikamar VIP no 05, jantungnya kembali colaps" ujar Elif.
"Apa baba dirawat? Tapi kenapa bisa colaps lagi?" Yukas nampak terkejut, ia sama sekali tidak berfikir jika kejadian ini menyebabkan tuan Erdan tumbang kembali.
"Baba terkejut saat tau kenyataan ini kak" ucap Lifia.
"Tidak hanya baba, saya yakin Alena juga pasti terkejut jika ia tau" ujar Lifia.
"Itu yang sedang saya fikirkan, bagaimana agar Alena tidak tahu jika dia bukan anak kandung saya, sedangkan saya dan wanita hina itu harus berpisah, saya tidak sudi menghabiskan sisa waktu bersama perempuan kotor itu" ujar Yukas pada Lifia yang dengan segera memandang kearah Alena.
"Kak, jangan terlalu kencang! Disini ada Alena juga" bisik Lifia.
Yukas langsung menatap wajah pucat Alena yang nampak masih terpejam.
"Apa!! Jadi aku bukan anak kandung papa? Lalu aku anak siapa?" dengan tak sabar ia langsung membuka kedua matanya, ia sudah tak kuat berpura pura tidur lagi.
"Papa.." ucap Alena dengan suara parau.
"Iya nak, papa disini" ujar Yukas kemudian mendekat pada brangkar tempat Alena berbaring.
"Mama mana?"
"Mama kamu sedang ada urusan sebentar" jawab Yukas sekenanya.
__ADS_1
"Papa Ale hanya ingin berdua dengan papa" ucap Alena, ekor matanya tertuju pada Lifia.
"Ah oke, saya permisi keluar" ucap Lifia kemudian keluar dari dalam ruangan itu dan kembali ke ruang rawat tuan Erdan.
"Papa, apa benar Ale bukan anak kandung papa??" tanya Alena dengan mata yang berkaca kaca.
Deg..!!
Yukas terhenyak, benar saja! Alena mendengar ucapannya pada Lifia barusan.
"Tidak sayang! kamu anak papa dan sampai kapan pun kamu tetap anak papa" ucap Yukas seraya menggenggam tangan pucat Alena.
Perasaan Alena semakin berkecamuk, dengan kehadiran Devan di kehidupan kakeknya saja sudah mampu menurunkan peluang dirinya sebagai pewaris tunggal. Apa lagi ini, dia bukan keturunan kandung tuan Erdan.
Alena benar benar sudah dibutakan oleh harta.
"Sayang, sebaiknya kamu istirahat lagi ya. Kondisi kamu masih lemah, jangan terlalu banyak berfikir, masalah apa pun nanti kita fikirkan dan bicarakan setelah kamu sembuh ya" ucap Yukas seraya mengusap pucuk kepala putri semata wayangnya.
Alena hanya menganggukkan kepala, padahal didalam hatinya bergejolak semua perasaan anatara marah, kecewa, dan keserakahan dirinya. Namun terpaksa harus ia tahan karena tubuhnya masih lemah.
Melihat putrinya yang kini telah terlelap kembali, Yukas memutuskan untuk melihat kondisi sang baba.
.
Bersambung....
...Jangan Lupa...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...TERIMAKASIH :)...
.
.
__ADS_1