
Lifia tampak antusias saat akan mengunjungi cucu pertamananya, dari mulai pakaian hingga mainan bayi sudah ia siapkan sebagai bentuk hadiah untuk cucunya itu.
Hari ini Tiara dan baby Ry sudah diperbolehkan pulang kerumah, namun Lifia tidak ikut menjemput cucu dan menantunya itu, dikarenakan ada sedikit pekerjaan.
"Tante mau kerumah Devan kan? Ale ikut ya tan, Ale udah gak sabar ingin melihat ponakan Ale yang ganteng itu" ucap Alea menghampiri Lifia yang sedang sibuk memasukan barang bawaannya kedalam mobil.
"Mau liat ponakan atau liat yang lain hayoo?" goda Lifia.
Wajah Alena bersemu merah, ya memang tujuannya selain ingin melihat ponakannya ia juga ingin bertemu dengan seseorang yang akhir akhir ini wajahnya terus terbayang dalam benak Alena.
"Apaan sih tan" bantah Alena malu malu.
"Yasudah ayo sayang, nanti siang baba sama papa kamu bakal nyusul kerumah Devan" ujar Lifia.
Keduanya pun memasuki mobil dan berangkat menuju kediaman Devan.
***
"Selamat datang dirumah kita sayang" ucap Tiara pada makhluk mungil didalam gendongannya.
Devan menuntun istri dan anaknya menuju kamar yang sudah disiapkan dan didekorasi sedemikian rupa dalam bentuk menyambut kepulangan baby Ry. Dan semua itu adalah ide dari nek Mawar.
Kemudian Tiara meletakan baby Ry yang tengah tertidur pulas setelah kenyang minum asi selama perjalanan tadi kedalam box bayi yang sudah disiapkan.
Senyum nek Mawar terkembang saat melihat pancaran bahagia dari sorot mata Devan.
"Nenek bersyukur Devan, akhirnya kini kamu mendapatkan Kebahagiaan yang hakiki, nenek ikut bahagia" batin nek Mawar seraya mengusap air matanya yang hampir jatuh.
"Nenek ngapain diam disitu?? Ayok sini, ini kamarnya Ry nenek yang siapin? Bagus banget nek" ucap Tiara, ia bisa merasakan jika nenek yang sudah membesarkan suaminya itu tengah terharu karena bahagia.
"Iya nak" ujar nek Mawar kemudian menyusul Devan dan Tiara.
"Nenek dapat inspirasi dari mana membuat dekorasi penyambutan ini, Saya saja tidak terfikirkan sama sekali" ucap Devan memuji sang nenek.
"Nenek lihat artis artis banyak yang nelakukan itu ko" jawab nek Mawar.
"Nenek terlalu sering menonton gosip"
Tawa ketiganya pun pecah.
"Ehh ada apa ini? Kenapa ketawa gak ngajak ngajak??" Lifia baru saja sampai kerumah Devan namun tidak ada siapa siapa, saat ia mendengar suara gelak tawa didalam kamar akhirnya ia pun menghampiri sumber suara itu.
"Bunda.. Kapan tiba?" tanya Tiara menyalami sang mertua.
"Baru saja sayang, uu MasyaAllah cucuku tidur aja ganteng banget kamu nak" ucap Lifia seraya mencoel pipi mulus milik baby Ry yang tengah tertidur didalam box bayi.
"Ganteng dong, siapa dulu papanya" ucapan Devan narsis.
"Iya iya percaya ko, oiya bunda sama siapa? Alena sama opa mana?" ujar Tiara.
"Bunda datang sama Alena, baba sedang ada meeting penting katanya, paling nanti siang nyusul kesini sama kak Yukas. Nah ini Alena". Ucap Lifia kemudian menarik keponakannya agar mendekat.
__ADS_1
"Hay Tiara, Devan selamat yaa kalian sudah menjadi orang tua. Ini aku bawakan hadiah untuk keponakan aku yang tampan ini" ucap Alena seraya mengusap tubuh mungil sang bayi.
Ada tatapan sendu dimata Alena, ia jadi terbayang, dulu papanya pasti sangat bahagia seperti Devan saat kelahiran dirinya, karena tak mengetahui jika dirinya bukan anak kandung.
"Ehh ko malah bengong, kalo kamu pengen juga cepet dong minta di halalin sama ayangnya" goda Lifia lagi lagi.
"Ih tante, Ale merasa gemas aja. Yaudah semuanya aku kedepan dulu ya" Alena pun keluar dari ruangan itu.
Matanya mengedar kesana kemari mencari seseorang, sejak kejadian beberapa saat lalu Alena dan Riki memang menjadi dekat. Tak jarang mereka jalan berdua dengan dalih Alena ingin keliling desa yang dipenuhi hamaparan kebun teh itu.
Meskipun belum ada ungkapan cinta dari Riki namun Alena sudah terpaut hatinya oleh laki laki yang setahun lebih muda darinya itu.
Riki pun bukannya tidak mengetahui jika wanita yang dulu ingin mencelakakan bosnya itu menaruh hati padanya, namun karena Alena selalu jutek dan gengsi mengakui perasaanya, Riki sengaja ingin sedikit bermain main dulu dengan wanita itu sebelum mendapatkannya, lagi pula Riki masih membutuhkan sedikit waktu untuk meyakinkan perasaanya pada Alena.
Alena melangkah ke halaman Rumah, ia masih mencari keberadaan pemuda itu namun masih nihil.
"Mobilnya juga tidak ada" gumam Alena.
Namun tak lama kemudian, mobil berwarna hitam yang sangat Alena cari itu pun memasuki kediaman Devan dan Tiara. Seketika sorot mata Alena berbinar dan senyumnya mengembang. Ia sudah tidak sabar ingin bertanya pada laki laki itu kemana saja ia beberpa hari ini, selain tak pernah berkunjung kerumah tantenya, pesan yang dikirimnya juga tak kunjung berbalas.
Namun senyuman di wajah Alena tak bertahan lama, kala pintu mobil terbuka dari kedua sisi. Dimana sisi sebelah kiri muncul seorang perempuan muda yang anggun dan manis kemdian berjalan berdampingan dengan Riki sang pujaan hati. Widihhh haha.
"Loh nona Alena ngapain disini? Kenapa tidak didalam?" tanya Riki mengulum sedikit senyum.
"Bukan urusan kamu!!" jawab Alena ketus, membuat Riki terkekeh.
"Oohh yasudah kalo gitu, kalau gitu kami kedalam dulu, ayo dek" ujar Riki kemudian menggandeng tangan wanita muda disebelahnya kemudian meninggalkan Alena yang moodnya menjadi buruk.
Setelah mengirim pesan pada Lifia jika ia pulang duluan, Alena pun meninggalkan kediaman Devan sambil mencari ojek karena didesa jarang sekali ada taksi.
***
Sedangkan diruangan baby Ry...
"Hallo semuanya..." ucap Riki.
"Maaf ya bos saya tadi gak bisa turut menjemput bos kecil, karena harus menjemput adik saya" ucap Riki.
"Kamu ini kaya sama siapa aja" ujar Devan yang tengah menyuapi Tiara makan.
"Jadi ini adik kamu yang sering kamu caritakan itu?" tanya Lifia.
"Benar bunda, perkenalkan ini Raisa adik saya satu satunya"
"Haii Raisa, kamu cantik sekali" ujar Lidia Raisa pun turut menyalami wanita turki yang sudah berumur namun masih cantik itu.
"Terimakasih nyonya" jawab Raisa.
"Jangan panggil saya nyonya, panggil saja bunda sama kaya abangmu manggil bunda juga, berapa usiamu?" ucap Lifia.
"Delapan belas tahun bunda" ucapan Raisa, yang awalnya ragu dengan keluarga bos abangnya yang dikiranya sombong, rupanya tak seburuk yang ia fikirkan. Ia malah mendapatkan kehangatan dari keluarga itu.
__ADS_1
"Bunda dengar kamu sekolah SMA dikota berkat beasiswa ya sayang, kamu hebat sekali" lanjut Lifia.
"Iya bun, kebetulan ia sedang libur semester makanya saya ajak pulang ke desa" jawab Riki.
"Riki apa kamu tadi melihat Alena didepan?" tanya Tiara, ia khawatir karena Alena tak kunjung kembali kedalam ruangan itu, padahal Riki ada disini.
"Tadi Alena mengirim pesan pada bunda katanya dia pulang duluan" jawab Lifia.
"Yahh ko buru buru sekali Alena, sama siapa dia pulang?" tanya nek Mawar.
"Katanya naik ojek bu" jawab Lifia tenang, karena Alena sudah lumayan lama tinggal bersamanya Lifia merasa tenang tenang aja, karena ia fikir Alena pasti sudah hafal jalan pulang. Karena beberapa kali juga ia sering keluar bersama Riki.
Namun beda dengan Riki, perasaannya sedikit terusik mengetahui Alena pulang sendirian bersama ojek yang pasti seorang pria. Ia khawatir saudara sepupu bosnya itu kenapa napa.
"Raisa, kamu disini sebentar sama bunda ya. Abang ada urusan diluar sebentar aja" ucap Riki kemudian buru buru pergi dari sana.
"Urusan apa??? Padahal sengaja saya liburkan dia hari ini" desah Deva.
"Sayang mulutnya, kamu ini kaya gak pernah cinta cintaan aja" bisik Tiara.
Sedangkan nek Mawar, Lifia dan Raisa tampak sibuk bercerita satu sama lain.
***
"Dasar buaya!! Kukira kebaikannya selama ini karena dia memiliki perasaan yang sama denganku, ternyata seleranya anak abege" batin Alena kemudian mengusap air matanya, hatinya perih. Untuk pertama kalinya ia jatuh cinta, dan untuk pertama kalinya juga ia merasa patah hati.
Kedua matanya membulat saat menyadari kini dirinya entah dimana.
"Lohh pak ini dimana? Kenapa bapak bawa saya kesini" tanya Alena pada kang ojek yang membawanya.
"Lah enon gabilang mau kemana? Dari tadi saya tanya tapi gak jawab, ya saya bawa aja kearah desa sebelah. Saya kira non orang desa sebelah karena saya jarang melihat non" jawab kang ojek.
"Astaga..! Bawa saya kerumah ibu Elifia" ujar Alena.
"Bu Elifia siapa non, saya gak kenal maaf"
"Isshhh yaudah bawa lagi saya ketempat tadi" akhirnya Alena menyerah, daripada ia nyasar atau diculik sama kang ojek lebih baik ia kembali ke rumah Devan.
Bersambung.....
...JANGAN LUPA YA...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...Author kangen sekali sama readers setiaku.....
...TERIMAKSIH :)...
__ADS_1