
Setelah keluar dari kamar penginapan orangtuanya, Hanum berubah menjadi murung.
Bahkan dimobil pun ia hanya diam dan menatap keluar jendela.
"Baby maaf ya, jika kamu tidak suka dengan kejutan yang saya kasih" ujar David tangan sebelah kirinya mencoba menggenggam tangan Hanum. Sedangkan yang sebelah kanannya masih berpegang pada kemudi.
Hanum menatap sendu wajah sang suami yang kini sedang menatapnya juga.
"Gak apa apa daddy, justru aku berterimakasih karena aku bisa bertemu dengan ayah" ucap Hanum dengan senyum tipis di bibirnya.
"Hanya saja aku selalu kesal pada ayah yang tak berubah, masih saja ia selalu nurut pada istri barunya yang licik itu. Alasan aja dia menjual semua aset untuk berobat ayah, aslinya ia gunakan untuk memebeli perhiasan dan barang barang yang tak berguna" gerutu Hanum.
"Tenang saja baby! sekarang kan ada saya, Saya bisa lakukan apa aja untuk kamu. Apa kamu mau ayahmu berpisah dari ibu tirimu hm?" ucap David sesekali melirik kearah Hanum.
"Tidak perlu dad, rasanya aku sangat egois jika memaksakan ayah berpisah dengan bu Maya" ucap Hanum, pandangannya lurus kedepan.
"Jangan khawatirkan apapun, ada saya disini" ucap David dengan tatapan serius pada Hanum.
Hanum hanya menganggukan kepalanya.
Genggaman erat sang suami pada tangannya, seolah menjadi asupan kekuatan untuk tubuhnya yang tadi sempat galau karena tingkah sang ibu tiri.
"Ini sangat aneh, tapi nyata" ucap Hanum dalam hati seraya menatap tangan dirinya yang dalam genggaman tangan sebelah kiri David.
Merekapun melanjutkan perjalanan pulangnya, karena kelelahan Hanum pun tertidur di mobil.
"Kebiasaan" ucap David dengan senyum manisnya, ia jadi teringat asal mula ia bisa menikah dengan Hanum. Berawal dari Hanum yang ketiduran di mobil miliknya.
Mengingat semua itu David hanya terkekeh dan kemudian mengecup tangan Hanum yang masih dalam genggamannya.
"Aku mencintaimu baby" bisik David.
Degg!!
Hanum yang belum benar benar terlelap dalam tidurnya dapat mendengar dengan jelas bisikan sang suami.
"Aku juga mencintaimu sugar daddyku, suamiku" balas Hanum dalam hati.
Setelah itu ia pun kembali melajukan mobilnya.
*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
Sesampainya dikediaman Mahendra, David enggan membangunkan tidur lelap Hanum, malah ia memilih untuk menggendong tubuh mungil istrinya.
"Itu kan mobil Devan, berarti mereka sudah tiba" ujar David kala memasuki pintu utama.
"Dave, Hanum kenapa??" ujar nek Mawar.
"Biasa nek, ketiduran dia. Nenek kapan pulang? Devan mana?" ujar David matanya berkeliaran menyusuri setiap sudut ruangan.
__ADS_1
"Baru setengah jam yang lalu, Devan istirahat dikamar bersama Tiara. Biasalah kalau ibu hamil gampang lelah" ujar nek Mawar.
"Ohh jadi Tiara sudah mengandung, aku baru tau" ujar David dalam hati.
"Malah bengong, cepat bawa istrimu ke kamar, kasihan dia nanti pada sakit badannya" ucap nek Mawar membuyarkan angan David. Kemudian ia pun menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju kamarnya.
Karena kamar David bersebelahan dengan kamar Devan ia dapat mendengar tawa bahagia yang berasal dari kamar sebelahnya itu, yang kebetulan pintunya tidak tertutup rapat.
"Sayang sepertinya baby kita gamau dipegang sama kamu deh, tuh kan tiap kamu sentuh perut aku dia gak mau gerak!" ujar Tiara dengan rona bahagianya.
"Anak papa pintar ya, udah bisa ngerjain papa, papa cium nih" ucap Devan seraya mengelus dan mencium perut buncit Tiara.
Mereka tak sadar jika dibalik pintu kamar mereka ada seseorang yang sedang diam mematung.
"Harusnya aku yang disana" batin David.
Namun sesaat ia langsung tersadar kala tangannya mulai terasa pegal, karena ada Hanum dalam gendongannya
"Astaga aku mikir apa coba! tak seharusnya aku berfikir seperti itu" ujar David buru buru membuka pintu kamarnya, kemudian di tutupnya kembali.
Dengan perlahan ia membaringkan tubuh ramping istrinya yang nampak tak terganggu tidurnya, kemudian ia mengusap pucuk kepala Hanum.
"Sekarang saya sudah memiliki kamu, tuhan mentakdirkan kamu untuk menjadi penggenap dalam keganjilan diri saya ini" ucap David nyaris tanpa suara.
Bayangan Devan yang tampak bahagia berbicara dengan calon anaknya, membuat hati David menjadi terenyuh. Usianya kini telah memasuki kepala tiga lebih, tapi malah sudah ke duluan oleh adiknya.
David tak munafik, ia mengakui jika saat ini ia merasa iri pada Devan yang tinggal menunggu waktu untuk kelahiran anaknya, ditambah entah benar atau tidak rasanya nama Tiara masih tersisa dalam hatinya meskipun tinggal sedikit, tapi sepertinya masih berpengaruh untuk hati dan perasaanya.
"Daddy kenapa melamun?" ucap Hanum yang baru saja membuka mata.
"Ahh, tidak baby. Kamu kenapa cepat sekali bangun?" kilah David.
"Daddy tak menjawab pertanyaan ku" ucap Hanum kemudian bangun dari posisi tidurnya.
"Saya sedang memebayangkan bagaimana kalau kamu mengandung, pasti lucu sekali" ucap David seraya mencubit hidung Hanum
"Emm saya mau ke kamar mandi dulu!! nenek sudah kembali, temui lah nenek dibawah nanti saya nyusul" ujar David kemudian berjalan meninggalkan Hanum yang masih sibuk dengan fikiran nya.
"Aku?? Mengandung??" ujar Hanum sambil mengusap perut rata nya.
"Siapkah aku menjadi ibu muda?" tanya nya pada diri sendiri.
"Hufftt biar tuhan saja yang mengatur" lanjutnya. Kemudian turun dari tempat tidur untuk menemui nenek suaminya yang sudah ia anggap seperti nenek sendiri.
"Ukh kangen juga sama nenek" ujarnya.
Saat Hanum memebuka pintu, kebetulan pintu kamar yang sebelah juga terbuka.
Muncul lah seorang wanita cantik menggunakan dress motif berwarna hijau Army, rambut lurus sembahu dan perutnya yang membuncit.
__ADS_1
"Perempuan itu sedang hamil, siapa dia?" batin Hanum, untuk pertama kalinya ia melihat orang asing dirumah ini selain nenek dan mertuanya.
"Hay!! Kamu pasti istrinya kak David kan? Kenalin aku Tiara istri adiknya kak David" ujar Tiara dengan senyum merekahnya.
"Ah iyya kak!! Aku Hanum" jawab Hanum kaku.
"Kamu mau kebawah juga, ayo bareng" ajak Tiara kemudian diangguki Hanum yang mengekor dibelakangnya.
"Emm mungkin yang om David bayangkan tadi bukan aku yang mengandung, tapi karena ia sudah melihat kak Tiara yang sedang hamil" ucap Hanum dalam hati, entah kenapa hatinya seperti ada yang mencubit dan sakitnya terasa nyata.
"Ternyata aslinya lebih cantik dari pada foto" batin Hanum, ia teringat pada album foto yang ia temukan tempo hari yang berisikan foto kebersamaan Tiara dan David.
"Bahkan albumnya saja masih disimpan, huftt dasar om om nyebelin. Baru tadi bilang cinta saat aku tidur, tapi kini kenyataan yang menyadarkanku" gerutu Hanum dalam hati.
"Hanum kamu mau kemana?" tanya Tiara heran karena Hanum berjalan ke sebarang arah.
"Ehh, ko aku malah kesini sih!" rutuk Hanum merasa bodoh karena tingkahnya sendiri
"Aku mau ketemu nenek kak" jawab Hanum dengan wajah polosnya, membuat Tiara gemas.
"Panggil saja Tiara, kamu ini kakak ipar aku. dan sepertinya umur kita gak jauh beda deh" ucap Tiara.
"Emm gak enak lah kak, ga apa apa aku panggil kaka aja" ucap Hanum dengan senyum cerianya.
"Yaudah deh, gimana kamu nyamannya aja" kekeh Tiara.
"Aku ke dapur dulu ya, mau bikin kopi buat pak suami" ucap Tiara.
Hanum hanya mengangguk dan menatap punggung Tiara yang mulai menjauh darinya
"Selain cantik, murah senyum, hatinya juga sangat lembut terlihat dari tutur katanya" ujar Hanum semakin lesu.
.
.
.
Bersambung....
...Guys gimana perasaan kalian jika berkumpul dengan ipar yang notabene nya mantan dari suami kalian? yuk tulis di komentar!!...
...Jangan Lupa...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
__ADS_1
...Biar author tambah semangat lagi buat up!...
...Terimakasih :)...