
"Hari yang melelahkan" itulah yang tengah Tiara rasakan saat ini. Mungkin efek kandungannya yang sudah membesar, membuat badannya terasa sangat lelah akibat kegiatan hari ini yang sebenarnya tak seberapa.
Setelah usai menengok keadaan Alena, mereka pun turut mengantar tuan Erdan ke kediaman Lifia dan makan malam bersama disana.
Saat ini Devan, Tiara dan nek Mawar baru saja sampai dirumah milik Devan didesa.
Setelah mobil berhenti dihalaman rumah, Devan melirik wanita tercintanya tengah tertidur dengan lelapnya.
"Jangan dibangunkan, mungkin Tiara kelelahan" ucap nek Mawar, kemudian lebih dulu turun dari mobil.
Devan mengecup kening Tiara dengan penuh cinta sebelum ia mengangkat tubuh istrinya untuk dibawa masuk kedalam rumah.
Sesampainya dikamar, Devan meletakkan tubuh Tiara dengan perlahan agar tidak menganggu tidurnya.
Namun tetap saja, pergerakan halus itu dapat Tiara rasakan dan membuatnya terjaga.
"Sayang, kita sudah sampai? Kenapa tidak membangunkan aku?" ucap Tiara.
"Karena saya senang kalau menggendong kamu dan anak kita" ucap Devan dengan senyum manisnya.
"Sayang aku mau mandi, rasanya badan aku lengket sekali ini" ucap Tiara bangkit dari posisi tidurnya.
Namun tanpa aba aba Devan langsung mengangkat tubuhnya dan dibawa ke kamar mandi.
"Sayang gak perlu.." ucap Tiara manja.
"Saya rindu memandikan dan menggosok punggung kamu, rasanya sudah lama sekali. Saya tau kamu sedang lelah, nanti sekalian saya pijat, mau?" ucap Devan dengan kedipan sebelah matanya.
"Sayang, baru tadi pagi kita mandi bersama dan kamu menggosok punggung aku" sanggah Tiara sambil mencolek hidung mancung milik Devan.
"Oiya? Masa sih?" kekeh Devan.
"Dasar kang modus..!!"
"Biarin, modusin istri sendiri ini wlee" ucap Devan seraya menjulurkan lidahnya.
"Ishh nyebelin, aku gigit nih" ucap Tiara
"Awhhh imuttt" Devan merasa ngilu karena bagian dadanya digigit oleh Tiara yang berada dalam gendongannya. Untung saja lengannya kokoh, kalau tidak bisa saja ia menjatuhkan kesayangannya itu.
"Kenapa?" tanya Tiara sewot.
"Enak" ucap Devan dengan senyum jahilnya.
"Dasar nyebelin"
Perlahan Devan menurunkan Tiara, kemudian mengisi bathtub dengan air hangat hingga penuh.
Mereka pun melewati kegiatan mandinya dengan romantis tanpa kegiatan menengok babby, karena Devan faham istrinya tengah kelelahan.
__ADS_1
***
Dikediaman Mahendra.
Saat David akan membuka pintu rumah rupanya sudah terkunci, hari memang sudah beranjak malam. Selepas memeriksakan kehamilan istrinya, David dan Hanum tidak segera pulang karena Hanum meminta makan direstoran tempatnya bekerja dulu.
Dan kebetulan disana David bertemu dengan teman lamanya yang kebetulan sudah berkeluarga juga, sehingga terjadilah obrolan panjang diantara mereka. Untung saja David juga selalu membawa kunci cadangan.
"Nyonya mami sudah tidur mungkin dad, gagal deh ngasih kejutannya. Keasyikan ngobrol sih tadi" gerutu Hanum.
"Gak apa apa babby, kita bisa kasih kejutannya besok ke mommy" ucap David mengelus pucuk kepala Hanum.
"Yasudah ayo istirahat, kamu jangan tidur begadang lagi" ucap David menggandeng bahu sang istri.
"Aku bergadang terus kan gara gara daddy.. Ishh" ucap Hanum sebal kemudian melangkah mendahuli David.
.
.
Sesampainya dikamar mereka, Hanum membuka laci lemarinya untuk menyimpan hasil USG kehamilan yang telah dilakukannya tadi. Sedangkan David, ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"MasyaAllah, terimakasih ya Allah engkau telah mempercayaiku untuk mengemban amanah besar ini" ucap Hanum menatap selembar gambar hitam putih ditangan kirinya dan tangan kanannya mengelus perutnya yang masih rata.
Air matanya tak terasa membasahi pipi, Hanum bingung entah harus bahagia atau sedih menjadi seorang ibu diusia sembilan belas tahun, namun perasaan yang pasti dalam hatinya ia sangat bersyukur.
Saat akan meletakkan kertas USG itu kedalam laci, Hanum melihat kotak warna hitam berukuran sedang didalam laci tersebut.
"Ehh bagaimana aku bisa melihatnya, aku saja baru pertama kali membuka laci didalam lemari ini" ucap Hanum.
Karena penasaran Hanum membuka kotak berwarna hitam itu. Didalamnya ia menemukan sepasang buku kecil berwarna merah kecoklatan dan yang satunya berwarna hijau, serta satu kotak beludru berwarna biru.
"Buku nikah? Apa ini buku nikah aku sama daddy" Ujar Hanum mulai penasaran.
Ia mengambil salah satu buku itu, dan saat ia buka benar saja. Dihalaman pertama ia melihat sepasang foto berlatar biru yang ternyata gambar wajah dirinya dan sang suami.
"Ehh kapan aku berfoto kaya gini? Perasaan gak pernah deh" kekeh Hanum, seulas senyum terbit diwajahnya kala pandangannya jatuh pada gambar wajah sang suami.
"Selalu gagah dan tampan" ucap Hanum pelan.
Kemudian ia membuka lembaran berikutnya, disana tertulis bukti akad nikah dirinya dan David. Dari waktu, tempat, mas kawin dan para saksi.
Yang membuat Hanum heran adalah waktu dan tempat serta wali nikahnya.
"Ko bisa ayah yang menjadi wali nikah dan juga pak lurah menjadi saksi? Aku harus tanyakan ini sama daddy" Hanum mulai dipenuhi rasa penasaran.
"Babby, ngapain berdiri disitu? Cepat bersihkan diri kemudian istirahat" ucap David mendudukkan dirinya diatas tempat tidur, ia sudah selesai membersihkan dirinya dan sudah rapi dengan stelan piyama polos berwarna gelap.
"Daddy kenapa tidak pernah bilang kalau kita punya buku nikah?" Hanum menghampiri sang suami dan duduk dipangkuannya manja, dengan senang hati David langsung menyambutnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Hanum.
__ADS_1
"Buku itu bahkan sudah ada sehari setelah kita dinikahkan paksa" ucap David lembut.
"Kenapa daddy gak bilang sama aku?" sorot mata Hanum menajam. Namun David hanya terkekeh.
"Saya kira kamu sudah tau karena saya simpan disana sudah lama juga" ucap David.
"Aku gak pernah buka laci itu" tepis Hanum.
"Terus itu bagaimana bisa ayah yang menjadi wali nikah? Bukankah kita dinikahkan oleh pak RT?" selidik Hanum.
"Kamu ingat saat pertama kali kamu mengantarkan bekal ke kantor saya dan malamnya saya minta dipijit lalu terjadilah...." Namun ucapan David terhenti karena mulutnya dibekap oleh tangan lentik milik Hanum.
"Stop jangan dilanjut kan! Iya aku ingat, lalu?" selidik Hanum.
"Setelah selesai makan siang dengan masakan buatan istri tercinta, saya pergi ke kampung kamu bersama pihak KUA untuk menikah ulang dengan berwalikan ayah kandung kamu, setelah saya konsultasi dengan pihak KUA katanya pernikahan kita malam itu belum sah karena ayah kamu masih ada" jelas David.
Kedua bola mata Hanum membulat.
"Untung yah kita belum melakukan malam pertama saat itu" kekeh David, membuat mata Hanum semakin melotot.
"Sudah jangan melotot begitu, nanti biji mata kamu keluar gimana?" ucap David sambil mengecup kening Hanum dengan lembut.
Hanum pun langsung menetralkan dirinya kembali.
"Lalu apa reaksi ayah waktu itu?" ucap Hanum karena rasa penasaran dalam dirinya belum juga terpuaskan.
"Kamu mandi dulu sana, setelah mandi nanti saya lanjutkan lagi ceritanya. Gak baik hamil muda mandi malam malam" ujar David.
"Ishh.. Tanggung tau" bantah Hanum.
"Gak ada yang tanggung, udah mandi sana.!! Mau mandi sendiri apa saya mandiin??" goda David mengedipkan sebelah matanya.
"Ishh.. Aku mandi sendiri aja" ucap Hanum sebal, kemudian turun dari pangkuan sang suami dan pergi ke kamar mandi.
David hanya tersenyum
"Semakin hari aku semakin jatuh cinta pada istri kecilku itu" kekeh David,
.
Bersambung....
...Jangan Lupa...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
__ADS_1
...YANG HATINYA BELUM BIRU, SEGERA DIBIRUKAN YAA HEHE...
...TERIAMAKSIH :)...