
Hari terus berganti, tak terasa satu hari lagi menjelang pesta resepsi pernikahan David dan Hanum.
Yang paling sibuk disini adalah Sandra, tak ada yang menyuruh dirinya, hanya saja ia yang membuat dirinya sibuk sendiri. Dari mengurus undangan ke rekan rekan sosialitanya, rekan bisnis mendiang suaminya, hingga sibuk mengenai penampilan dirinya, seolah ia yang akan jadi pengantin.
"Dari ujung kaki hingga ujung kepala harus aku yang paling cetar dan membahana, kapan lagi kan? " ujarnya kala mencoba baju pesta yang akan ia kenakan, tak tanggung tanggung baju yang akan ia kenakan merupakan hasil rancangan dari desainer ternama di Negara ini.
#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
Dikediaman Devan.
Mereka kini tengah bersiap untuk pergi ke kota, tentu saja untuk menghadiri pesta pernikahan David sang kakak.
"Kalau bukan karena acara David besok, nenek sebenarnya masih belum mau pulang. Masih betah disini" ucap nek Mawar.
Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju kota, dengan Devan yang mengendalikan kemudi.
"Nenek nanti bisa ikut lagi bersama kami nanti pas acara sudah selesai" ujar Devan
"Benar apa kata Devan nek, nanti nenek ikut aja lagi sama kami" ucap Tiara seraya mengelus perut buncitnya.
"Sepertinya nanti dulu deh, nenek juga kangen suasana rumah nenek, hehe" kekeh nek Mawar.
Devan dan Tiara hanya tersenyum ringan.
Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan santai, Devan mengemudi dengan lebih hati hati. karena untuk pertama kalinya Tiara bepergian jauh setelah kehamilannya mulai membesar.
*#*#*#*#*#
"Daddy kita akan kemana?" tanya Hanum
"Nanti juga kamu akan tau, saya akan mempertemukan kamu dengan seseorang?" ucap David dengan senyum manisnya.
"Siapa itu dad?"
"Ada deh rahasia" kekeh David, membuat Hanum mendengus kesal.
Mobil yang mereka tumpangi kini telah masuk ke area hotel yang tidak terlalu jauh dari gedung yang akan digunakan untuk acara resepsi besok.
"Dad kita ngapain ke hotel?" tanya Hanum semakin penasaran.
"Sssttt"
David menempelkan jari telunjuk nya ada bibir merah muda Hanum.
"Jangan banyak tanya, ikut saja dengan saya" ujar David kemudian turun dari mobilnya disusul Hanum.
Hanum semakin dibuat bertanya tanya saat mereka menaiki lift menuju lantai 12. Apalagi perasaannya berubah menjadi tidak enak.
"Baby gak usah tegang begitu, rilex aja kita kan udah beberapa kali melakukan itu" bisik David membuat bulu kuduk Hanum meremang.
__ADS_1
"Dady apaan sih! Kalau cuma buat kaya gitu kan dirumah juga bisa" gerutu Hanum.
"Hahah engga sayang, saya bercanda. Pokonya saya punya kejutan buat kamu" ucap David seraya mencubit hidung minimalis milik Hanum sampai merah.
"Ish Daddy ngeselin banget sih"
Tring!!
Pintu lift terbuka tepat dilantai 12.
David segera menggandeng tangan istrinya mencari nomor kamar yang dituju.
Belum sempat David mengetok pintu, rupanya pintu tersebut sudah terbuka duluan.
Seketika tubuh Hanum menegang melihat siapa sosok yang telah membuka pintu tersebut.
"Ayaah" suara Hanum tercekat
"Nak kamu kemana saja, kenapa gak pernah pulang" ucap ayah Hanum dengan tangis yang tertahan seraya memeluk tubuh mungil putrinya.
Hanum tak mampu menjawab, karena percuma saja ia jelaskan pada ayahnya jika alasan ia tak pernah pulang karena diusir oleh ibu tirinya,dan ayahnya takkan pernah percaya.
"Maaf" hanya itu yang keluar dari mulut kecil Hanum seraya membalas pelukan hangat sang ayah.
Tak lama muncul wanita paruh baya dari belakang sang ayah.
"Hanum apa kau tidak rindu pada ibu" ucap ibu tiri Hanum dengan wajah pura pura sedih, malah membuat Hanum muak.
Mereka ber empat pun kini telah duduk di sofa kamar hotel yang David sewa untuk orang tua Hanum. David sengaja menyuruh anak buahnya menjemput orang tua Hanum, Karena tidak mungkin kan, ia membuat acara bahagia untuk mereka berdua tanpa melibatkan orangtua atau keluarga istrinya. Tentu Hanum akan merasa sedih, fikir David.
"Ayah apa kabar?" tanya Hanum
"Ayah kamu sering sakit sakitan, bahkan aset keluarga kita terpaksa harus dijual satu persatu untuk pengobatan ayah" ucap Maya ibu tiri Hanum.
"Maaf bu tapi Hanum bertanya pada ayah" ucap Hanum dengan enggan menatap wajah Maya.
"Ayah baik baik saja nak, wajar ayah sakit sakitan karena ayah sudah tua" ucap sang ayah.
"Permisi saya mau keluar sebentar, kalian lanjutkan saja ngobrol nya" ujar David,
Namun tangannya ditahan oleh Hanum seakan tak ingin David pergi, kenyamanan dan tempatnya berlindung kini bukanlah lagi sang ayah melainkan David sang suami , Hanum akan merasa aman jika David berada di sisi nya.
"Hanya sebentar" bisik David dengan perlahan melepaskan tangan Hanum pada lengannya.
Setelah David keluar dari ruangan itu.
"Bagus kamu ya! Diam diam menikah tanpa memberi tahu orang tua! Kamu pasti hamil duluan kan? Makanya jangan suka kecentilan godain pria yang lebih tua" ujar Maya berapi api.
Hanum hanya diam, begitupun sang ayah. Kondisi seperti itu sudah sering berlangsung sedari dulu, ayahnya selalu diam jika Maya memarahi Hanum meskipun ia tak salah.
__ADS_1
"Jadi istri yang keberapa kamu hah? Enak enakan jadi istri orang kaya tanpa ingat orangtua. Saya sampai bela belain jual sawah satu persatu demi pengobatan ayah kamu, tapi kamu malah enak enakan jadi nyonya" hardik Maya.
Tak terasa buliran air mata jatuh di pipi Hanum.
"Cukup!!!" suara David menggelegar diruangan itu.
"Jadi seperti ini sikap kalian pada istri saya selama ini?" ujar David.
Maya menjadi gelagapan, dan sang ayah masih diposisi sebelumnya hanya diam bagai patung.
"Bu bukan begitu menantu, kami hanya rindu saja pada Hanum" kilah Maya
"Iya kan ayah?" lanjutnya pada sang suami.
Ayah Hanum hanya menganggukan kepalanya, itulah yang Hanum tak suka. Ayahnya selalu nurut dan manut pada istri mudanya itu.
"Kalian saya undang kesini untuk turut berbahagia dia hari pernikahan kami besok, bukan malah menghardik istri saya seperti ini" bela David.
"Sudah dad, sebaiknya kita pulang saja" ucap Hanum
"Saya harap besok kalian tidak mempermalukan Hanum dimata umum dan membuat onar, kalau tidak hidup kalian tidak akan tenang seumur hidup" ancam David.
Membuat jantung Maya berdetak kencang, ia tak menyangka jika suami Hanum akan semenyeramkan itu ketika marah.
"Ayah, Hanum pulang dulu ya" ucap Hanum pada ayahnya.
"Iya nak, hati hati dijalan. Maafkan ayah" ucap Ayah Hanum dengan raut wajah penuh sesal.
Tanpa berkata lagi David langsing menarik lengan Hanum dan keluar dari kamar penginapan mertuanya.
"Lihat tuh yah anakmu semakin melunjak saja!! Itu lagi suaminya mentang mentang orang kaya beraninya dia mengancam kita" ujar Maya dengan emosi yang meledak ledak pada suaminya.
"Sudah cukup!" ucap Ayah kemudian beranjak meninggalkan istrinya yangs sedang mengomel tak jelas.
"Dasar tua bangka tak berguna! Ck" ujar Maya dengan kaki yang menghentak ke lantai.
.
.
Bersambung..
...Jangan Lupa...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
__ADS_1
...Biar author tambah semangat lagi :)...
...Terimakasih....